Aspirasimediarakyat.com — Ngabuburit Safari Ramadhan yang digelar Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin di Masjid Raya Abdul Kadim, Desa Epil, Kecamatan Lais, Selasa (3/3/2026), menjadi panggung silaturahmi, penguatan wisata religi, dan penggerak ekonomi kerakyatan melalui bazar UMKM serta lomba keagamaan, sekaligus momentum bagi Bupati Musi Banyuasin H. M. Toha Tohet, S.H. mengajak warga merawat ikon daerah agar tak sekadar megah secara fisik, tetapi hidup sebagai pusat pembinaan generasi dan denyut sosial yang berkelanjutan.
Kegiatan yang berlangsung sejak pagi itu dipusatkan di salah satu masjid termegah di Kabupaten Musi Banyuasin. Ratusan warga memadati halaman dan ruang utama masjid, mengikuti rangkaian acara yang dirancang sebagai perpaduan antara ibadah, edukasi, dan pemberdayaan ekonomi.
Hadir mendampingi Bupati, Dandim 0401/Muba Letkol Kav Fredy Christoma, P.P., S.Hub.Int., Ketua TP PKK Muba Hj. Patimah Toha, Staf Ahli TP PKK Muba Lili Abdur Rohman, Ketua DWP Muba Siti Fatimah Syafaruddin, Asisten I Setda Muba Ardiansyah, S.E., M.M., Ph.D., CMA beserta istri, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Muba Dr. M. Fariz, S.STP., M.M., Camat Lais Heru Kharisma, S.I.P., M.Si., Ketua Baznas Muba H. M. Jaya, M.Si., Pimpinan Bank Sumsel Babel Sekayu Irwan Antoni, serta jajaran kepala perangkat daerah Muba.
Agenda utama meliputi pembukaan Bazar Ramadhan yang melibatkan pelaku UMKM lokal, serta lomba adzan dan hafalan surat pendek bagi anak-anak dan remaja. Suasana religius berpadu dengan geliat ekonomi kecil yang berderet di pelataran masjid, menghadirkan wajah Ramadan yang bukan hanya spiritual, tetapi juga produktif.
Dalam sambutannya, Bupati H. M. Toha Tohet, S.H. mengapresiasi kemegahan Masjid Raya Abdul Kadim sebagai salah satu masjid terindah di Musi Banyuasin dan destinasi wisata religi yang telah dikenal luas. Ia menekankan bahwa fungsi masjid tidak berhenti pada ritual ibadah, melainkan harus menjadi pusat pembinaan generasi muda.
“Masjid ini bukan hanya simbol kebanggaan arsitektur, tetapi juga ruang pembinaan agar anak-anak kita terhindar dari pengaruh negatif dan tumbuh dengan karakter yang kuat,” ujarnya. Ia mengajak masyarakat menjaga fasilitas dan citra masjid sebagai aset bersama.
Kegiatan tersebut digelar melalui Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Musi Banyuasin dengan dukungan Bank Sumsel Babel. Bupati menyampaikan terima kasih atas kolaborasi tersebut, terutama di tengah keterbatasan anggaran daerah yang menuntut efisiensi dan prioritas program.
“Kami berharap kita bersama turut menjaga dan mempromosikan destinasi wisata religi ini agar semakin dikenal dan memberi dampak bagi perekonomian warga,” imbuhnya, menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, lembaga keuangan, dan masyarakat.
Camat Lais Heru Kharisma, S.I.P., M.Si. menyampaikan apresiasi atas kehadiran Bupati beserta jajaran. Ia menyebut Kecamatan Lais sebagai gerbang Kabupaten Muba yang memiliki posisi strategis secara geografis dan sosial.
Menurutnya, perhatian terhadap Lais melalui kegiatan keagamaan dan wisata religi dapat menjadi pemicu percepatan pembangunan wilayah. Ia berharap kepemimpinan saat ini mampu mendorong pemerataan infrastruktur dan penguatan ekonomi lokal.
Sebelumnya, Bupati juga menyerahkan hadiah lomba, insentif imam masjid, serta bantuan bagi kaum dhuafa melalui program Baznas Muba. Penyaluran bantuan tersebut merupakan bagian dari optimalisasi pengelolaan zakat, infak, dan sedekah yang diatur dalam regulasi nasional tentang pengelolaan zakat.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan ceramah agama oleh Ustad M. Thori yang menekankan pentingnya menjaga akhlak, memperkuat solidaritas sosial, dan memanfaatkan Ramadan sebagai ruang introspeksi kolektif. Kegiatan kemudian ditutup dengan berbuka puasa bersama.
“Namun lebih dari sekadar seremoni, Ngabuburit Safari Ramadhan ini menyimpan pertanyaan reflektif: sejauh mana wisata religi mampu menjadi instrumen pemberdayaan nyata dan bukan hanya etalase kegiatan musiman; sebab ketika masjid megah berdiri menjulang bak mercusuar spiritual, ia akan kehilangan makna bila tak diisi program berkelanjutan, pembinaan sistematis, dan transparansi pengelolaan yang akuntabel, karena publik tak lagi cukup diyakinkan oleh spanduk dan seremoni, melainkan oleh konsistensi kebijakan yang menyentuh dapur warga, ruang belajar anak, dan denyut ekonomi kecil yang sering terpinggirkan oleh gemuruh proyek simbolik.”
Pemberdayaan UMKM melalui bazar Ramadhan menjadi salah satu indikator konkret yang patut diapresiasi. Keterlibatan pelaku usaha kecil membuka ruang transaksi langsung antara produsen lokal dan konsumen, sekaligus memperkuat sirkulasi ekonomi di tingkat desa dan kecamatan.
Pengelolaan destinasi wisata religi juga menuntut tata kelola yang profesional, mulai dari perawatan fasilitas, kebersihan, hingga promosi berbasis digital. Regulasi tentang pengembangan pariwisata daerah memberikan kerangka hukum agar setiap potensi dikelola secara berkelanjutan dan berpihak pada masyarakat sekitar.
Ketidakadilan pembangunan yang hanya menonjolkan simbol tanpa memperkuat kesejahteraan warga adalah bentuk pengingkaran terhadap amanat publik. Rakyat berhak merasakan dampak nyata dari setiap rupiah anggaran yang digelontorkan atas nama kepentingan bersama.
Dalam konteks itulah, Safari Ramadhan di Lais menjadi cermin bagaimana pemerintah daerah mencoba merajut spiritualitas, ekonomi, dan tata kelola dalam satu panggung. Kegiatan ini memperlihatkan bahwa masjid dapat berfungsi sebagai pusat peradaban lokal—ruang ibadah, ruang edukasi, sekaligus ruang ekonomi.
Ramadan menghadirkan kesempatan untuk memperkuat ikatan sosial dan memperjelas orientasi kebijakan publik. Ketika pemerintah, lembaga keuangan, tokoh agama, dan masyarakat duduk dalam satu saf, harapannya bukan hanya tercipta suasana khusyuk, tetapi juga komitmen kolektif untuk memastikan bahwa pembangunan wisata religi benar-benar menjadi cahaya yang menerangi kesejahteraan warga Musi Banyuasin, bukan sekadar bayang-bayang kemegahan yang cepat pudar.



















