
Aspirasimediarakyat.com, Pangkalan Balai — Di tengah derasnya arus perubahan global yang membawa tantangan baru pada bidang teknologi, ekonomi, geopolitik, dan kehidupan sosial, peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 di Kabupaten Banyuasin menjadi pengingat bahwa fondasi sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, melainkan juga oleh kekuatan nilai, persatuan, dan kesadaran kolektif untuk menjaga arah pembangunan agar tetap berpijak pada kepentingan rakyat serta cita-cita kebangsaan yang telah diwariskan para pendiri negara.
Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 berlangsung di Halaman Kantor Bupati Banyuasin, Selasa (2/6), dengan Bupati Banyuasin Dr. H. Askolani, S.H., M.H., bertindak sebagai inspektur upacara.
Dalam kesempatan tersebut, Askolani membacakan pidato Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Republik Indonesia yang menegaskan bahwa Hari Lahir Pancasila bukan sekadar agenda seremonial tahunan yang rutin diperingati setiap tanggal 1 Juni.
Pidato tersebut menekankan bahwa Pancasila merupakan dasar negara, ideologi bangsa, sekaligus perekat utama yang menyatukan keberagaman Indonesia dalam satu tujuan kebangsaan yang sama.
Tema yang diangkat tahun ini, yakni “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”, mencerminkan upaya memperkuat relevansi nilai-nilai Pancasila dalam menghadapi perubahan zaman yang semakin kompleks.
Pesan tersebut tidak lahir tanpa alasan. Berbagai perkembangan global menunjukkan bahwa banyak negara menghadapi tantangan serius berupa polarisasi sosial, konflik geopolitik, ketimpangan ekonomi, hingga disrupsi teknologi yang memengaruhi kehidupan masyarakat secara luas.


“Dalam konteks tersebut, Pancasila dipandang sebagai kompas moral yang menjaga arah perjalanan bangsa agar tidak terombang-ambing oleh gelombang perubahan yang bergerak semakin cepat, sekaligus menjadi jangkar yang menahan kehidupan berbangsa dari risiko perpecahan yang kerap muncul akibat menguatnya kepentingan kelompok, identitas sempit, maupun persaingan yang mengabaikan nilai kebersamaan.”
Askolani menilai pesan tersebut sejalan dengan semangat pembangunan yang terus didorong Pemerintah Kabupaten Banyuasin. Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak dapat diukur hanya melalui angka pertumbuhan ekonomi maupun pembangunan fisik semata.
Lebih dari itu, pembangunan harus mampu menghadirkan rasa keadilan, memperkuat persatuan, serta menciptakan ruang yang setara bagi seluruh masyarakat untuk merasakan manfaat pembangunan.
Pandangan tersebut sejalan dengan berbagai prinsip pembangunan berkelanjutan yang menempatkan manusia sebagai pusat kebijakan. Jalan yang mulus, gedung yang megah, dan investasi yang meningkat akan kehilangan makna apabila tidak dibarengi dengan meningkatnya kualitas kehidupan masyarakat.
Di berbagai daerah, tantangan pembangunan sering kali bukan terletak pada kurangnya program, melainkan pada bagaimana kebijakan mampu diterjemahkan menjadi pelayanan yang benar-benar dirasakan masyarakat secara merata.
Karena itu, Askolani menegaskan bahwa nilai-nilai Pancasila harus terus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama di tengah perubahan sosial yang berlangsung semakin cepat dan dinamis.
Ia menaruh perhatian besar pada peran generasi muda sebagai penerus bangsa yang akan menentukan arah Indonesia pada masa mendatang. Menurutnya, generasi muda tidak cukup hanya memahami Pancasila sebagai materi pelajaran, tetapi juga harus mengimplementasikannya dalam tindakan nyata.
“Pancasila harus hadir dalam setiap kebijakan, pelayanan publik, serta dalam hubungan sosial masyarakat. Persatuan dan gotong royong menjadi kekuatan utama yang harus terus kita rawat demi kemajuan Kabupaten Banyuasin dan Indonesia,” ujar Askolani.
Pernyataan tersebut mengandung pesan bahwa ideologi negara tidak boleh berhenti sebagai slogan yang hanya terdengar dalam upacara resmi. Pancasila dituntut hadir dalam praktik pemerintahan, pelayanan masyarakat, serta pengambilan keputusan yang menyentuh kebutuhan publik.
Pada saat masyarakat mengharapkan pelayanan yang cepat, transparan, dan berkeadilan, nilai-nilai Pancasila sesungguhnya menemukan relevansinya yang paling nyata. Sila-sila yang selama ini dihafal memiliki makna konkret dalam penyelenggaraan pemerintahan yang berpihak kepada kepentingan umum.
Askolani juga menegaskan bahwa Indonesia memiliki tanggung jawab besar dalam mendukung perdamaian dunia sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Menurutnya, Pancasila menjadi landasan moral dalam menjalankan politik luar negeri bebas aktif yang selama ini menjadi karakter diplomasi Indonesia.
Ia menambahkan bahwa nilai kemanusiaan, keadilan, dan persaudaraan yang terkandung dalam Pancasila dapat menjadi kontribusi penting Indonesia dalam menjawab berbagai persoalan global yang masih diwarnai konflik, ketegangan, dan ketidaksetaraan.
“Melalui peringatan Hari Lahir Pancasila, seluruh elemen masyarakat diajak untuk terus mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari serta memperkuat semangat persatuan,” tutupnya.
Peringatan Hari Lahir Pancasila di Banyuasin menjadi pengingat bahwa kekuatan bangsa tidak hanya terletak pada besarnya anggaran, tingginya pertumbuhan ekonomi, atau banyaknya proyek pembangunan yang berdiri megah, melainkan pada kemampuan menjaga persatuan di tengah keberagaman, menghadirkan keadilan dalam pelayanan publik, serta memastikan setiap kebijakan berpijak pada nilai kemanusiaan dan gotong royong; sebab bangsa yang kehilangan pegangan nilai ibarat kapal besar tanpa arah pelayaran yang jelas, sementara bangsa yang terus merawat Pancasila memiliki fondasi untuk menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan identitas, tujuan, dan keberpihakan kepada rakyat sebagai pemilik sah republik ini.
Editor: Kalturo




















