Aspirasimediarakyat.com, Palembang — Kehadiran Wakil Gubernur Sumatera Selatan dalam kegiatan Silaturahmi dan Halal Bihalal Ikatan Keluarga Lembah Serelo (IKLS) di Palembang tidak sekadar menjadi agenda seremonial tahunan, melainkan mencerminkan bagaimana ruang sosial berbasis kekerabatan terus memainkan peran strategis dalam menjaga kohesi masyarakat urban, sekaligus menjadi medium penting dalam membangun kesadaran kolektif, pendidikan generasi muda, serta memperkuat relasi sosial di tengah dinamika kehidupan perkotaan yang kian individualistik.
Kegiatan yang berlangsung di kawasan Pakjo, Palembang, pada Minggu sore tersebut menjadi ajang pertemuan rutin bagi keluarga besar asal Kabupaten Lahat yang tergabung dalam IKLS, sekaligus dirangkai dengan agenda arisan bulanan yang telah lama menjadi tradisi organisasi.
Momentum ini tidak hanya menjadi ruang temu, tetapi juga simbol keberlanjutan nilai-nilai kekeluargaan yang tetap dijaga oleh para perantau di tengah mobilitas sosial yang tinggi di kota besar.
Wakil Gubernur Sumatera Selatan, H. Cik Ujang, dalam sambutannya menegaskan bahwa keberadaan organisasi seperti IKLS memiliki peran penting dalam menjaga harmoni sosial di kalangan masyarakat perantauan.
Ia mengungkapkan bahwa dirinya telah mengikuti perjalanan organisasi tersebut sejak tahun 1989, jauh sebelum menjabat sebagai wakil kepala daerah, yang menunjukkan kedekatan emosional sekaligus komitmen terhadap komunitas tersebut.


Menurutnya, IKLS bukan sekadar wadah formal, melainkan ruang interaksi sosial yang memungkinkan anggotanya untuk terus menjaga hubungan kekeluargaan secara berkelanjutan.
“Ini adalah pertemuan keluarga kita. Jika ingin bertemu satu per satu tentu sulit, namun dengan adanya arisan rutin ini, kita bisa terus bersilaturahmi dan menjadi lebih akrab. Silaturahmi ini perlu kita jaga agar terus bergulir,” ujar Cik Ujang.
“Pernyataan tersebut menegaskan bahwa dalam konteks masyarakat modern, interaksi sosial tidak lagi berjalan secara alami, melainkan membutuhkan ruang dan mekanisme yang terorganisir agar tetap terjaga.”
Lebih jauh, ia juga menyoroti pentingnya peran organisasi dalam mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya generasi muda yang menjadi penentu masa depan daerah.
Ia mengajak seluruh pengurus dan anggota IKLS untuk tidak hanya menjaga tradisi silaturahmi, tetapi juga aktif dalam membangun kesadaran pendidikan di kalangan anak-anak muda.
“Mari kita dorong anak-anak muda kita meraih pendidikan setinggi mungkin di berbagai bidang, termasuk kesehatan, agar kelak mereka kembali untuk memajukan daerah,” tambahnya.
Ajakan tersebut mencerminkan pendekatan pembangunan yang tidak hanya bertumpu pada aspek fisik, tetapi juga pada penguatan kapasitas manusia sebagai fondasi utama kemajuan daerah.
Dalam perspektif kebijakan sosial, penguatan komunitas berbasis kekerabatan seperti IKLS dapat menjadi mitra strategis pemerintah dalam memperluas jangkauan program pembangunan, khususnya di bidang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.
Di sisi lain, Ketua IKLS, H. Hamli Masumi, menegaskan bahwa kegiatan Halal Bihalal yang diselenggarakan tidak semata-mata merupakan tradisi tahunan, melainkan memiliki dimensi spiritual dan sosial yang mendalam.
Ia menyampaikan bahwa hubungan antarmanusia memiliki konsekuensi moral yang tidak dapat diselesaikan hanya melalui ritual individual, tetapi memerlukan interaksi langsung dan keikhlasan dalam saling memaafkan.
“Dosa kepada Allah bisa selesai dengan taubat di atas sajadah, namun dosa sesama manusia hanya bisa lunas dengan saling memaafkan secara langsung. Halal Bihalal adalah momen mengakui kesalahan tanpa pembelaan,” tutur Hamli.
Pandangan tersebut menempatkan Halal Bihalal sebagai mekanisme sosial yang berfungsi menjaga keseimbangan relasi antarindividu dalam komunitas.
Ia juga menegaskan bahwa IKLS bersifat terbuka bagi siapa saja yang memiliki keterikatan dengan Lembah Serelo, sehingga organisasi ini tidak eksklusif, melainkan inklusif dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Keterbukaan tersebut menjadi penting dalam memperluas partisipasi masyarakat serta memperkuat jaringan sosial yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan bersama.
Dalam konteks kehidupan perkotaan yang cenderung individualistik, keberadaan organisasi seperti IKLS dapat menjadi penyeimbang yang menjaga nilai-nilai kolektivitas dan solidaritas sosial.
Fenomena ini menunjukkan bahwa modernisasi tidak selalu harus mengikis tradisi, melainkan dapat berjalan beriringan dengan penguatan nilai-nilai lokal yang relevan.
Namun demikian, tantangan ke depan terletak pada bagaimana organisasi semacam ini mampu bertransformasi menjadi lebih dari sekadar wadah silaturahmi, tetapi juga menjadi agen perubahan sosial yang aktif dan berkontribusi nyata.
Penguatan program berbasis pendidikan, ekonomi, dan pemberdayaan menjadi kunci agar keberadaan organisasi tidak berhenti pada aspek simbolik semata.
Keterlibatan pemerintah dalam kegiatan komunitas seperti ini juga mencerminkan pentingnya pendekatan partisipatif dalam pembangunan, di mana masyarakat tidak hanya menjadi objek, tetapi juga subjek yang berperan aktif.
Sinergi antara pemerintah dan komunitas lokal menjadi faktor penting dalam menciptakan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Refleksi dari kegiatan ini menunjukkan bahwa kekuatan sosial yang dibangun dari relasi kekerabatan dan nilai-nilai budaya memiliki potensi besar untuk mendukung pembangunan daerah, tidak hanya melalui kontribusi material, tetapi juga melalui penguatan solidaritas, pendidikan, dan kesadaran kolektif yang menjadi fondasi utama terciptanya masyarakat yang harmonis, berdaya, dan mampu menghadapi tantangan zaman dengan tetap berpegang pada nilai-nilai kebersamaan.
Editor: Kalturo




















