Aspirasimediarakyat.com — Nilai tukar rupiah mencetak rekor terburuk sepanjang sejarah pada awal pekan, menembus batas psikologis yang selama ini dijaga ketat, ketika pasar membaca kombinasi tekanan global dan kegamangan arah kebijakan moneter domestik sebagai sinyal rapuhnya pertahanan ekonomi nasional di tengah meningkatnya kebutuhan kepastian hukum, stabilitas fiskal, dan kredibilitas otoritas keuangan di mata pelaku usaha serta masyarakat luas.
Pada perdagangan Senin, 19 Januari 2026, rupiah di pasar spot ditutup di level Rp16.955 per dolar Amerika Serikat, melemah 0,40 persen dibandingkan penutupan akhir pekan sebelumnya di posisi Rp16.886 per dolar AS. Pelemahan ini bukan sekadar fluktuasi harian, melainkan mencatatkan level terendah sepanjang sejarah nilai tukar rupiah.
Rekor terburuk sebelumnya tercatat pada 8 April 2025, ketika rupiah ditutup di Rp16.891 per dolar AS. Dengan tembusnya level terbaru ini, rupiah secara resmi melampaui titik terlemah yang pernah dicapai dalam perjalanan panjang sistem moneter Indonesia.
Sejalan dengan pasar spot, nilai tukar acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate Bank Indonesia juga menunjukkan tekanan serupa. Pada hari yang sama, rupiah Jisdor berada di level Rp16.935 per dolar AS, melemah 0,33 persen dari posisi perdagangan sebelumnya di Rp16.880 per dolar AS.
Pelemahan ini menjadi kali kedua rupiah Jisdor menembus level di atas Rp16.900 per dolar AS. Catatan terburuk Jisdor sebelumnya terjadi pada 9 April 2025, ketika menyentuh Rp16.943 per dolar AS, mempertegas bahwa tekanan struktural belum sepenuhnya mereda.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah kali ini dipicu oleh kombinasi faktor domestik dan global yang saling memperkuat. Menurutnya, sentimen dari dalam negeri menjadi salah satu beban utama pergerakan mata uang.
Pasar, kata Lukman, tengah mencermati meningkatnya ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter menjelang Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada 20–21 Januari 2026. Ekspektasi ini memicu spekulasi lanjutan di pasar valuta asing.
“Rupiah saat ini bergerak mendekati rekor terendah terhadap dolar AS di tengah meningkatnya ekspektasi pelonggaran moneter menjelang RDG BI. Selain itu, kekhawatiran terhadap defisit anggaran yang berpotensi melampaui 3 persen juga masih terus membebani pergerakan rupiah,” ujar Lukman, Senin, 19 Januari 2026.
“Dari perspektif hukum keuangan negara, isu defisit yang melebar bukan sekadar angka statistik, melainkan menyentuh langsung prinsip kehati-hatian fiskal, disiplin anggaran, serta kepercayaan publik terhadap kemampuan negara mengelola keuangan sesuai mandat konstitusi dan peraturan perundang-undangan.”
Tekanan eksternal turut memperparah situasi. Sentimen global memburuk seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan kebijakan perdagangan internasional, yang mendorong investor global mengambil sikap risk off terhadap aset-aset negara berkembang, termasuk Indonesia.
Ancaman kebijakan tarif yang kembali dilontarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap negara-negara yang menentang rencana penjualan Greenland ke AS menciptakan gelombang kekhawatiran baru di pasar keuangan global, memicu penguatan dolar AS dan melemahkan mata uang emerging market.
Ketika rupiah tertekan dari dua arah sekaligus—ketidakpastian global dan ekspektasi kebijakan domestik—muncul pertanyaan mendasar tentang sejauh mana instrumen moneter dan fiskal mampu berjalan selaras, bukan saling meniadakan, dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional yang dampaknya langsung dirasakan rakyat.
Pelemahan nilai tukar yang dibiarkan tanpa arah kebijakan yang tegas hanya akan menjadikan masyarakat sebagai penyangga terakhir dari eksperimen ekonomi yang mahal dan berisiko, sementara daya beli terus tergerus secara perlahan namun pasti.
Di sisi lain, Bank Indonesia berada dalam posisi krusial untuk menyeimbangkan mandat menjaga stabilitas nilai tukar, mengendalikan inflasi, dan mendukung pertumbuhan ekonomi, sebuah tugas yang semakin kompleks di tengah tekanan global dan dinamika fiskal domestik.
Untuk perdagangan Selasa, 20 Januari 2026, Lukman menilai tidak terdapat rilis data ekonomi utama yang dapat menjadi katalis baru bagi pergerakan rupiah. Pasar diperkirakan masih bergerak hati-hati sambil menunggu hasil RDG BI.
Sikap wait and see pelaku pasar mencerminkan kehati-hatian yang tinggi, sekaligus sinyal bahwa kejelasan arah kebijakan menjadi faktor kunci dalam menentukan sentimen jangka pendek terhadap rupiah.
Dalam proyeksinya, Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp16.900 hingga Rp17.000 per dolar AS pada perdagangan Selasa, sebuah kisaran yang menunjukkan betapa tipisnya ruang stabilisasi dalam kondisi saat ini.
Jika ketidakpastian ini terus berlanjut, maka nilai tukar berisiko berubah menjadi cermin ketimpangan kebijakan, di mana gejolak pasar dibayar mahal oleh rakyat melalui harga barang, biaya produksi, dan tekanan hidup yang kian berat.
Situasi ini menuntut kehadiran negara yang tegas, transparan, dan konsisten dalam menjaga stabilitas moneter, karena di balik setiap angka kurs yang melemah, terdapat kepentingan publik yang menunggu perlindungan nyata, bukan sekadar janji statistik.

















