Aspirasimediarakyat.com, Jakarta — Pelemahan rupiah yang terus merayap mendekati level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat bukan lagi sekadar angka di layar perdagangan valuta asing, melainkan cermin kegelisahan yang lebih dalam mengenai ketahanan ekonomi nasional, arus modal yang mulai goyah, serta munculnya sinyal senyap bahwa sebagian investor domestik perlahan memindahkan rasa aman dan kepercayaannya ke luar negeri di tengah badai ketidakpastian global yang semakin sulit dibaca dengan rumus-rumus ekonomi konvensional.
Sorotan tajam itu disampaikan Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi PKS, Amin Ak, yang mengingatkan Bank Indonesia dan pemerintah agar tidak hanya terpaku pada fenomena foreign capital outflow atau keluarnya modal asing. Menurutnya, ada ancaman lain yang lebih halus namun berpotensi lebih serius, yakni residential outflow atau perpindahan aset masyarakat Indonesia ke luar negeri.
Fenomena tersebut, menurut Amin, tidak bisa dibaca semata sebagai pergerakan teknis pasar keuangan. Ia menilai perpindahan dana investor domestik justru menjadi indikator psikologis yang penting tentang seberapa besar tingkat keyakinan pelaku ekonomi terhadap masa depan Indonesia.
“Ketika investor domestik mulai memindahkan asetnya ke luar negeri, persoalannya bukan lagi sekadar dinamika pasar keuangan, tetapi juga menyangkut persepsi terhadap masa depan perekonomian Indonesia,” ujar Amin dalam keterangannya, Jumat (29/5/2026).
Pernyataan itu muncul di tengah tekanan berat yang sedang dihadapi sektor eksternal Indonesia sepanjang awal 2026. Berdasarkan data Bank Indonesia, Neraca Pembayaran Indonesia pada Triwulan I 2026 mengalami defisit sebesar US$9,1 miliar, berbalik tajam dari surplus US$6,1 miliar pada Triwulan IV 2025.
Tak hanya itu, transaksi berjalan juga tercatat defisit sebesar US$4 miliar atau sekitar 1,1 persen terhadap Produk Domestik Bruto. Sementara transaksi modal dan finansial yang sebelumnya menopang stabilitas ekonomi nasional juga berbalik menjadi defisit, menandakan tekanan arus modal semakin kuat menghantam fondasi ekonomi domestik.
Dalam dunia ekonomi terbuka, arus modal memang bergerak seperti air yang mencari permukaan paling tenang. Modal akan datang kepada negara yang dianggap aman, stabil, dan menjanjikan keuntungan. Sebaliknya, modal akan pergi secara perlahan apabila ketidakpastian dianggap lebih dominan dibanding harapan.
Amin menegaskan kondisi saat ini memang belum bisa langsung disebut sebagai capital flight atau pelarian modal besar-besaran. Namun ia meminta pemerintah dan otoritas moneter memperdalam analisis mengenai pola arus dana yang keluar agar tidak salah membaca gejala yang sedang berkembang.
“Menjaga kepercayaan investor domestik sama pentingnya dengan menarik investasi asing,” katanya. Pernyataan itu seperti tamparan halus bagi arah kebijakan ekonomi yang selama ini lebih sering berlomba memburu investor luar negeri, sementara rasa percaya pemilik modal dalam negeri justru perlahan diuji oleh situasi domestik sendiri.
Tekanan terhadap rupiah juga terlihat semakin nyata dari pergerakan kurs harian Bank Indonesia. Berdasarkan data terbaru pada Jumat (29/5/2026), kurs jual dolar AS ditetapkan di angka Rp17.877,94, sementara kurs beli berada di level Rp17.700,06.
Grafik pergerakan nilai tukar menunjukkan depresiasi rupiah yang berlangsung konsisten sepanjang Mei 2026. Pada 12 Mei, dolar AS masih berada di kisaran Rp17.500. Namun memasuki pekan terakhir Mei, nilainya terus menanjak hingga hampir menyentuh batas psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Kondisi tersebut bukan sekadar persoalan kurs mata uang. Pelemahan rupiah memiliki efek domino terhadap berbagai sektor, mulai dari kenaikan biaya impor, tekanan harga bahan baku industri, potensi inflasi pangan dan energi, hingga meningkatnya beban utang luar negeri pemerintah maupun swasta.
“Dalam situasi seperti ini, rakyat kecil biasanya menjadi kelompok yang pertama merasakan dampaknya. Harga kebutuhan pokok perlahan merangkak naik, ongkos produksi membengkak, sementara daya beli masyarakat tertekan seperti perahu kecil yang dihantam ombak besar tanpa pelampung memadai.”
Amin Ak menilai faktor kepercayaan pasar menjadi elemen yang sangat menentukan. Ia bahkan menyinggung teori ekonomi Mundell-Fleming yang menjelaskan bahwa dalam sistem ekonomi terbuka, kebijakan suku bunga tidak cukup apabila pelaku pasar masih melihat ketidakpastian ekonomi terlalu tinggi.
Karena itu, meski mendukung langkah Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen, Amin mengingatkan bahwa stabilitas ekonomi nasional tidak bisa hanya disandarkan pada instrumen moneter semata.
“Pemerintah harus memperkuat kredibilitas kebijakan fiskal, memperdalam pasar keuangan domestik, memperluas instrumen investasi yang kompetitif, serta menjaga disiplin fiskal agar persepsi risiko terhadap Indonesia tetap terkendali,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menyiratkan satu pesan penting bahwa stabilitas ekonomi tidak hanya dibangun melalui angka statistik, tetapi juga melalui rasa percaya. Pasar keuangan modern bekerja bukan hanya berdasarkan data, melainkan persepsi, ekspektasi, dan keyakinan kolektif terhadap arah kebijakan negara.
Situasi global memang turut memberi tekanan besar. Penguatan dolar AS, ketegangan geopolitik, kebijakan suku bunga tinggi The Fed, hingga perlambatan ekonomi dunia membuat negara-negara berkembang seperti Indonesia menghadapi tantangan berat menjaga stabilitas nilai tukar dan arus modal.
Namun di tengah tekanan eksternal itu, perhatian terhadap faktor domestik tetap menjadi hal mendesak. Sebab dalam banyak kasus krisis ekonomi dunia, guncangan besar justru muncul bukan saat modal asing keluar, melainkan saat warga negaranya sendiri mulai merasa lebih aman menyimpan kekayaan di luar negeri dibanding membangun negerinya sendiri.
Fenomena residential outflow yang disinggung Amin menjadi semacam alarm sunyi di ruang mesin ekonomi nasional. Tidak gaduh, tetapi berpotensi menggerus fondasi secara perlahan apabila tidak direspons dengan kebijakan yang kredibel, transparan, dan mampu menumbuhkan optimisme publik secara nyata.
Di tengah tekanan rupiah, defisit transaksi berjalan, dan meningkatnya ketidakpastian global, negara dituntut bukan sekadar menjadi pengatur angka-angka fiskal dan moneter, melainkan juga penjaga kepercayaan kolektif bahwa ekonomi nasional masih memiliki arah, kepastian, dan keberpihakan terhadap kepentingan rakyat luas, sebab tanpa kepercayaan, modal dapat berpindah lebih cepat daripada kemampuan negara menjelaskan situasi, sementara rakyat akan kembali menjadi pihak yang paling lama menanggung konsekuensi dari setiap retakan yang dibiarkan melebar di tubuh perekonomian nasional.
Editor: Kalturo




















