“Ni Luh: Pariwisata Berkualitas Jadi Kunci Saat Rupiah Tertekan Global”

Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menilai pelemahan rupiah dapat menjadi peluang meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia. Namun di balik optimisme sektor wisata, nilai tukar yang tertekan tetap menjadi pengingat bahwa stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat harus dijaga agar manfaat pertumbuhan dapat dirasakan lebih luas.

Aspirasimediarakyat.com, Jakarta — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang belakangan menjadi perhatian pelaku pasar dan masyarakat ternyata dibaca dari sudut pandang berbeda oleh sektor pariwisata, di mana kondisi yang menekan daya beli sebagian masyarakat domestik itu justru dinilai dapat menjadi magnet baru bagi wisatawan mancanegara yang mencari destinasi berkualitas dengan biaya perjalanan yang lebih kompetitif di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Sorotan terhadap kondisi tersebut bahkan datang dari media internasional yang menaruh perhatian pada pernyataan pemerintah Indonesia mengenai dampak pelemahan rupiah terhadap sektor pariwisata nasional.

Media asal Malaysia menyoroti pandangan Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa yang menilai depresiasi rupiah dapat membuka peluang peningkatan kunjungan wisatawan asing ke Indonesia.

Dalam pandangan tersebut, nilai tukar yang lebih rendah membuat biaya berwisata di Indonesia menjadi relatif lebih murah bagi wisatawan internasional yang menggunakan mata uang asing dengan nilai tukar lebih kuat.

Ni Luh menyampaikan bahwa tren tersebut berpotensi mendorong wisatawan mancanegara tidak hanya memilih Indonesia sebagai tujuan perjalanan, tetapi juga memperpanjang masa tinggal mereka selama berada di berbagai destinasi wisata nasional.

Pemerintah pun disebut telah meningkatkan berbagai upaya promosi guna memanfaatkan daya saing harga yang muncul akibat perubahan nilai tukar tersebut.

Baca Juga :  "Surplus Neraca Perdagangan Indonesia Terancam Berakhir, Risiko Defisit Mengintai"
Baca Juga :  Kenaikan Tarif PPN 12 Persen: Dampak dan Reaksi Berbagai Kalangan
Baca Juga :  "Awas Deindustrialisasi Dini: Saat Mesin Ekonomi Bangsa Mulai Kehilangan Tenaganya"

Langkah tersebut menunjukkan bahwa sektor pariwisata berusaha membaca setiap dinamika ekonomi sebagai peluang. Di tengah badai yang mengguncang pasar keuangan, industri wisata mencoba mengembangkan layar agar tetap bergerak menuju target pertumbuhan yang telah ditetapkan.

Namun di balik optimisme tersebut, pelemahan rupiah tetap menyimpan realitas yang lebih kompleks karena dampaknya tidak dirasakan secara seragam oleh seluruh lapisan masyarakat maupun sektor ekonomi nasional.

“Sementara wisatawan asing mungkin memperoleh keuntungan dari biaya perjalanan yang lebih murah, masyarakat yang bergantung pada barang impor atau sektor yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap mata uang asing justru menghadapi tekanan biaya yang lebih besar, sehingga manfaat dan risiko berjalan berdampingan seperti dua sisi mata uang yang sulit dipisahkan.”

Dalam berbagai kesempatan, pemerintah menegaskan bahwa strategi pengembangan pariwisata tidak lagi semata-mata berorientasi pada jumlah kunjungan wisatawan.

Ni Luh menjelaskan bahwa Indonesia kini mendorong konsep pariwisata berbasis pengalaman atau experience-based tourism yang menempatkan kualitas perjalanan sebagai fokus utama pembangunan sektor wisata.

Menurutnya, wisatawan modern tidak hanya mencari destinasi yang indah, tetapi juga pengalaman yang berkesan, aman, autentik, dan memiliki nilai budaya yang kuat.

“Kita tidak hanya berbicara tentang angka. Kita ingin fokus pada kualitas pengalaman yang dirasakan wisatawan saat berwisata di negara kita. Pariwisata berbasis pengalaman adalah kunci pengembangan pariwisata kita,” ujar Ni Luh.

Baca Juga :  "Perbanas Proyeksikan Pertumbuhan Kredit Perbankan 2025 di Level 10,6 Persen"
Baca Juga :  "Gempuran Mobil China Menguat, Industri Otomotif RI Tertekan: Peringatan Menkeu soal Overcapacity"
Baca Juga :  "Harga Emas Melemah, Dolar AS Perkasa dan Optimisme Dagang Menekan Sentimen Pasar"

Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa pemerintah ingin menggeser paradigma lama yang sering kali hanya mengejar statistik kunjungan tanpa memperhatikan kualitas layanan dan keberlanjutan destinasi wisata.

Indonesia sendiri menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 16 hingga 17 juta orang. Angka tersebut melampaui capaian sebelum pandemi Covid-19 yang pernah menyentuh sekitar 16 juta wisatawan asing.

Target tersebut menjadi bagian dari upaya pemulihan sektor pariwisata yang sempat mengalami tekanan berat akibat pandemi yang menghentikan mobilitas global dan memukul industri perjalanan di berbagai negara.

Di sisi lain, data perdagangan menunjukkan bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sempat dibuka di kisaran Rp17.887 per dolar AS. Angka tersebut mencerminkan pelemahan dibandingkan posisi sebelumnya dan bergerak berlawanan dengan sejumlah mata uang Asia yang justru mengalami penguatan.

Kontras tersebut memperlihatkan bahwa tantangan ekonomi Indonesia tidak hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga dinamika global yang bergerak cepat dan sering kali berada di luar kendali pembuat kebijakan nasional.

Bagi masyarakat, pelemahan rupiah bukan sekadar angka yang bergerak di layar perdagangan valuta asing. Nilai tukar merupakan cermin kesehatan ekonomi yang memengaruhi harga barang, biaya produksi, investasi, dan daya beli rumah tangga. Karena itu, optimisme sektor pariwisata memang patut diapresiasi, namun keberhasilan memanfaatkan momentum tersebut tetap harus dibarengi upaya menjaga stabilitas ekonomi secara menyeluruh agar manfaat yang lahir dari meningkatnya kunjungan wisatawan asing tidak berubah menjadi paradoks yang hanya dinikmati sebagian sektor, sementara kelompok masyarakat lain justru menghadapi tekanan akibat melemahnya nilai mata uang nasional.

Editor: Kalturo



 

Banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *