Aspirasimediarakyat.com — Pergerakan nilai tukar rupiah kembali berada dalam pusaran ketidakpastian global ketika isu hukum yang mengguncang bank sentral Amerika Serikat, fluktuasi indeks dolar, eskalasi geopolitik, serta tekanan fiskal domestik bertemu dalam satu momentum, menciptakan tarik-menarik sentimen pasar yang membuat rupiah berpotensi menguat secara teknikal namun tetap rapuh secara fundamental, dengan arah yang sangat dipengaruhi dinamika politik moneter global dan daya tahan ekonomi nasional.
Peluang penguatan rupiah pada perdagangan hari ini muncul seiring kabar dibukanya penyelidikan pidana oleh Jaksa Federal Amerika Serikat terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell. Isu tersebut segera memicu koreksi pada indeks dolar AS, membuka ruang teknikal bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk bergerak menguat.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai tekanan terhadap dolar AS berasal dari meningkatnya ketidakpastian politik dan hukum di Washington. Menurutnya, langkah hukum terhadap pucuk pimpinan bank sentral AS membuat pasar mempertanyakan stabilitas kebijakan moneter, sehingga indeks dolar tertekan dan memberi angin segar sementara bagi rupiah.
Meski demikian, Lukman mengingatkan bahwa volatilitas dolar AS masih tinggi dan belum sepenuhnya mereda. Dari sisi domestik, perhatian investor tertuju pada rilis data penjualan ritel Indonesia yang dipandang sebagai indikator penting daya beli masyarakat dan ketahanan konsumsi dalam negeri.
Berdasarkan perhitungan Lukman, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp16.750 hingga Rp16.900 per dolar AS. Rentang ini mencerminkan kondisi pasar yang masih berhati-hati, di mana sentimen positif global belum cukup kuat untuk menembus tekanan struktural dalam negeri.
Fakta di pasar menunjukkan bahwa rupiah justru dibuka melemah pada pagi hari. Data perdagangan menunjukkan rupiah berada di level Rp16.840 per dolar AS, turun 21 poin atau sekitar 0,12 persen dibandingkan penutupan sebelumnya, menandakan pasar masih menimbang risiko secara ketat.
Pandangan serupa disampaikan Senior Economist KB Valbury Sekuritas, Fikri C Permana, yang memproyeksikan potensi apresiasi rupiah hingga ke level Rp16.800 per dolar AS. Namun, proyeksi ini tetap dibayangi oleh dinamika kebijakan suku bunga global yang belum sepenuhnya jelas.
Fikri menjelaskan bahwa ekspektasi penurunan suku bunga acuan The Fed semakin terbuka, bahkan diperkirakan bisa terjadi lebih dari dua kali pemangkasan masing-masing 25 basis poin pada 2026. Ekspektasi ini diperkuat oleh membaiknya sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat di akhir 2025.
Dari sisi domestik, Fikri menyoroti potensi masuknya dana asing ke Surat Berharga Negara yang dinilai semakin positif. Strategi penerbitan SBN secara masif di awal tahun atau front loading disebut dapat menjadi magnet bagi investor asing yang mencari imbal hasil di tengah ketidakpastian global.
“Namun, optimisme tersebut berbenturan dengan kenyataan bahwa rupiah kembali ditutup melemah pada perdagangan Senin (12/1/2026). Rupiah tercatat melemah 0,21 persen atau 36 poin ke level Rp16.855 per dolar AS, menandai pelemahan tujuh hari berturut-turut.”
Pada saat yang sama, indeks dolar AS justru terkoreksi 0,37 persen ke level 98,77. Kondisi ini menunjukkan bahwa pelemahan rupiah tidak semata dipicu faktor eksternal, melainkan juga tekanan dari dalam negeri yang belum sepenuhnya teratasi.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah masih akan berada di bawah tekanan pada perdagangan berikutnya, dengan potensi bergerak di kisaran Rp16.850 hingga Rp16.890 per dolar AS. Ia menilai pasar global masih sarat ketidakpastian.
Ibrahim menyoroti eskalasi konflik geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat yang kembali memanas, serta ketidakpastian politik di Washington setelah Departemen Kehakiman AS mengancam Federal Reserve dengan kemungkinan dakwaan pidana. Jerome Powell sendiri mengonfirmasi bahwa bank sentral menerima panggilan pengadilan terkait kesaksiannya di Senat.
Menurut Ibrahim, langkah hukum terhadap bank sentral AS telah mengguncang pasar dan menghidupkan kembali kekhawatiran mengenai independensi kebijakan moneter. Ketika institusi yang seharusnya steril dari kepentingan politik diguncang, pasar global bereaksi dengan kegelisahan yang merembet ke negara berkembang.
Di dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada laporan Bank Indonesia yang mencatat penjualan eceran tumbuh 1,5 persen secara bulanan pada November 2025, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya. Data ini memberi sinyal adanya pemulihan konsumsi, meski belum cukup kuat menahan tekanan eksternal.
Di sisi lain, sejumlah indikator ekonomi justru memperberat sentimen. Indeks keyakinan konsumen Desember 2025 turun menjadi 123,5, sementara defisit APBN 2025 melebar hingga 2,92 persen terhadap PDB, melampaui target pemerintah dan lebih tinggi dibandingkan defisit tahun sebelumnya.
Ketika ketidakpastian global bertemu dengan defisit fiskal dan penurunan kepercayaan konsumen, rakyat kembali menjadi penyangga terakhir dari gejolak nilai tukar yang tak mereka ciptakan. Sistem keuangan global kerap memperlakukan negara berkembang sebagai bantalan guncangan, sementara beban akhirnya jatuh pada harga kebutuhan dan daya beli publik.
Meski demikian, tekanan terhadap rupiah masih dibatasi oleh posisi eksternal Indonesia yang relatif kuat. Cadangan devisa tercatat mencapai level tertinggi dalam sembilan bulan pada Desember 2025, memberikan ruang bagi otoritas moneter untuk menjaga stabilitas.
Dalam sebulan terakhir, rupiah telah terdepresiasi sekitar 1,18 persen dan melemah 3,47 persen dalam 12 bulan terakhir. Proyeksi jangka menengah menunjukkan rupiah berpotensi berada di kisaran Rp16.628 per dolar AS pada akhir kuartal ini, dengan peluang penguatan moderat jika stabilitas global dan domestik dapat dijaga secara konsisten demi melindungi kepentingan ekonomi rakyat.



















