Rupiah Terus Melemah, Dampaknya Berat bagi Ekonomi Indonesia Jakarta

Ilustrasi pelemahan mata uang rupiah terhadap dolar.

aspirasimediarakyat.com – Mata uang rupiah terus mengalami tren pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada Jumat, 20 Desember 2024, nilai tukar dollar AS terhadap rupiah mencapai level Rp 16.300. Beberapa pihak memperingatkan bahwa pelemahan nilai tukar ini dapat berdampak signifikan pada berbagai aspek ekonomi, termasuk kenaikan harga barang, terutama barang-barang impor dan produk yang bahan bakunya berasal dari luar negeri.

Direktur Center of Economics and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira Adhinegara, menyatakan bahwa penguatan dollar AS akan menjadi pukulan keras bagi daya beli masyarakat di Indonesia. Dia juga menambahkan bahwa pelemahan daya beli masyarakat sudah terjadi sejak beberapa bulan terakhir dan jika terus berlanjut, akan berdampak pada investasi yang masuk ke Indonesia.

Bhima menjelaskan bahwa kenaikan dollar AS akan menyebabkan kenaikan harga barang secara umum, yang kemudian memicu inflasi. “Ini akan diteruskan kenaikan pelemahan kurs ini kepada kenaikan harga retail di konsumen, dan itu akan memicu inflasi yang lebih tinggi lagi, ditambah PPN 12 persen. Jadi masyarakat ini tekanannya sangat besar di 2025,” ungkapnya.

Selain itu, kenaikan dollar AS juga berdampak pada sektor manufaktur, terutama karena kenaikan biaya bahan baku yang berasal dari impor. Industri manufaktur yang memiliki pinjaman dalam kurs asing akan menghadapi beban bunga dan pinjaman yang melonjak, yang dapat meningkatkan kredit macet industri.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita juga mengungkapkan kekhawatiran terhadap dampak berat dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap industri, terutama industri yang bahan baku didapat dari impor. “Untuk bahan baku, berat sekali. Bahan baku yang selama ini masih harus didapatkan dari impor, itu pasti akan memberikan impact yang cukup berat bagi industri, yang akan berkaitan dengan daya saing kita,” ujar Agus.

Baca Juga :  "Qatar dan Indonesia Sepakati Investasi Bersama Senilai 4 Miliar Dolar AS"

Pengamat pasar uang Ariston Tjendra menyebutkan bahwa indeks dollar AS terus bergerak naik karena berbagai faktor, termasuk data ekonomi AS yang solid, inflasi AS yang sulit turun, dan kebijakan bank sentral AS yang memberikan sinyal akan menahan suku bunga AS lebih lama. Dia juga menambahkan bahwa konflik geopolitik dan kebijakan Donald Trump yang mungkin memicu perang dagang juga mempengaruhi pergerakan rupiah.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh ketidakpastian global, terutama terkait dengan kebijakan Amerika Serikat. Rencana kebijakan perdagangan AS yang lebih protektif dapat meningkatkan fragmentasi perdagangan dunia dan mengganggu rantai pasok global, yang berpotensi meningkatkan tingkat inflasi dunia.

Perry menambahkan bahwa Bank Indonesia akan terus mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah dengan berbagai instrumen moneter dan strategi operasi pro-market. “Seluruh instrumen moneter akan terus dioptimalkan, termasuk penguatan strategi operasi moneter pro-market melalui optimalisasi instrumen SRBI, SVBI, dan SUVBI, untuk memperkuat efektivitas kebijakan dalam menarik aliran masuk investasi portofolio asing dan mendukung penguatan nilai tukar rupiah,” ucapnya.


Banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *