Aspirasimediarakyat.com, Ogan Ilir — Dari ruang pembinaan organisasi hingga lorong-lorong produktif desa wisata, langkah Ketua TP PKK sekaligus Ketua Dekranasda Sumatera Selatan, Hj. Feby Herman Deru, di Kabupaten Ogan Ilir menjadi penanda bahwa pembangunan keluarga dan ekonomi rakyat tidak dapat dipisahkan; keduanya harus tumbuh bersama, saling menguatkan, dan bergerak dari akar rumput agar kesejahteraan tidak berhenti sebagai jargon administratif, melainkan hadir nyata dalam kehidupan masyarakat desa melalui program yang terukur, kreatif, dan berkelanjutan.
Komitmen itu ditunjukkan Feby Deru melalui kunjungan kerja ke Kabupaten Ogan Ilir, Kamis (23/4/2026), dengan agenda pembinaan dan evaluasi pelaksanaan 10 Program Pokok PKK di Sekretariat TP PKK KPT Tanjung Senai.
Kunjungan tersebut tidak berhenti pada agenda seremonial. Ia juga dilanjutkan dengan peninjauan langsung ke Kampung Wisata Desa Burai, Kecamatan Tanjung Batu, untuk melihat denyut ekonomi kreatif masyarakat berbasis potensi lokal.
Di Sekretariat TP PKK Ogan Ilir, Feby Deru menegaskan bahwa organisasi PKK harus tetap relevan dengan tantangan zaman, terutama dalam menjawab persoalan keluarga, ketahanan pangan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi perempuan.
Ketua TP PKK Ogan Ilir, Tikha Alamsjah Panca Wijaya, B.A. (Hons), melaporkan bahwa sepanjang 2025 program organisasi diarahkan pada penguatan ketahanan keluarga, kesehatan, dan pangan melalui pendekatan berbasis komunitas.
Salah satu capaian yang disampaikan ialah gerakan tanam cabai di tingkat rumah tangga dan promosi kain tenun Gebeng khas Ogan Ilir yang melibatkan kolaborasi lintas sektor hingga jaringan Dasawisma.


Bagi Feby Deru, capaian administratif tentu penting, tetapi jauh lebih penting adalah dampak nyata program terhadap kehidupan warga, terutama perempuan sebagai pilar utama keluarga.
Dalam arahannya, ia mendorong perempuan Ogan Ilir untuk berani keluar dari zona nyaman dan melihat teknologi bukan sebagai ancaman, melainkan peluang baru untuk tumbuh.
“Manfaatkan gadget secara positif dan terapkan Gerakan Sumsel Mandiri Pangan hingga tingkat desa,” tegasnya di hadapan peserta pembinaan.
Pesan itu mencerminkan perubahan arah pembangunan sosial saat ini: teknologi tidak lagi menjadi milik kota besar, tetapi harus menjadi alat produktif hingga ke desa-desa.
Selain memberikan arahan, Feby Deru juga menyerahkan Buku Rakernas terbaru sebagai pedoman administrasi lima tahunan, agar organisasi tetap bergerak sistematis dan terukur.
Wakil Bupati Ogan Ilir, Ardani, menyambut baik pembinaan tersebut dan menyebutnya sebagai langkah strategis untuk memperkuat kesejahteraan keluarga di Bumi Caram Seguguk.
Usai agenda organisasi, perhatian Feby Deru bergeser ke Desa Burai, salah satu kampung wisata yang dikenal dengan kekayaan produk kreatif masyarakatnya.
Didampingi Wakil Bupati Ogan Ilir Ardani dan Ketua TP PKK Ogan Ilir Tikha Alamsjah Panca Wijaya, ia meninjau langsung pengrajin songket, kerajinan purun, hingga produksi kemplang khas Burai.
Di hadapan para penenun, Feby memberikan perhatian khusus pada teknik “cuban”, metode penyambungan benang yang menentukan kekuatan sekaligus estetika kain songket.
“Teknik cuban perlu dilakukan dengan hati-hati, tidak apa jika waktunya lama. Sangat disayangkan jika kain yang indah kehilangan estetikanya karena teknik cuban yang kurang kuat atau rapi. Kerapihan adalah kunci nilai jual songket kita,” ujarnya.
Pernyataan itu menegaskan bahwa kualitas produk tradisional tidak hanya ditentukan oleh motif dan bahan, tetapi juga oleh kedisiplinan teknis yang menjaga reputasi warisan budaya.
Pada sektor kuliner, Feby Deru mengingatkan pelaku UMKM agar tidak menganggap remeh standar kebersihan dan kemasan. Produk lokal, menurutnya, harus mampu menjawab tuntutan pasar modern yang semakin kritis.
Ia menekankan pentingnya proses produksi yang higienis, desain kemasan yang menarik, serta pencantuman tanggal kedaluwarsa yang jelas sebagai bentuk tanggung jawab kepada konsumen.
Untuk kerajinan purun, ia mendorong inovasi desain agar produk desa tidak terjebak dalam romantisme tradisi semata, melainkan mampu bersaing di pasar yang lebih luas tanpa kehilangan identitas lokalnya.
Kunjungan kerja ini memperlihatkan bahwa pembangunan desa tidak cukup dibangun dengan anggaran dan rapat-rapat formal. Ia harus hadir melalui sentuhan langsung, dialog yang membumi, dan keberanian mendorong masyarakat agar naik kelas tanpa meninggalkan akar budayanya; sebab dari desa-desa seperti Burai dan dari organisasi seperti PKK, sesungguhnya masa depan ekonomi rakyat sedang ditempa dengan sabar, rapi, dan penuh harapan.
Editor: Kalturo

———————————————–



















