Aspirasimediarakyat.com, Jakarta — Gelombang keraguan investor global terhadap aset-aset Indonesia semakin menguat seiring meningkatnya kekhawatiran atas arah kebijakan ekonomi nasional, memicu aksi jual di pasar keuangan, menekan nilai tukar rupiah, mengguncang pasar obligasi dan saham, serta menempatkan kepastian kebijakan sebagai komoditas yang kini lebih dicari daripada sekadar janji pertumbuhan ekonomi di tengah ambisi besar pembangunan yang sedang digulirkan pemerintah.
Istilah “sell Indonesia” atau menjual aset-aset Indonesia belakangan menjadi salah satu narasi yang ramai diperbincangkan di kalangan investor internasional. Frasa tersebut mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pasar terhadap prospek investasi di Indonesia.
Perhatian investor mengarah pada sejumlah kebijakan ekonomi yang dijalankan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sejak menjabat pada Oktober 2024. Berbagai program strategis nasional diluncurkan dengan skala yang besar, mulai dari program Makan Bergizi Gratis hingga penguatan peran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara.
Di satu sisi, kebijakan tersebut dipandang sebagai upaya mempercepat pembangunan dan pemerataan kesejahteraan. Namun di sisi lain, sebagian pelaku pasar menilai semakin besarnya keterlibatan negara dalam aktivitas ekonomi menimbulkan pertanyaan mengenai arah kebijakan jangka panjang.
Kekhawatiran investor semakin meningkat setelah pemerintah memperkuat pengaturan terhadap sejumlah komoditas strategis seperti batu bara, kelapa sawit, dan nikel. Langkah tersebut dinilai sebagian kalangan sebagai sinyal bertambahnya intervensi negara terhadap mekanisme pasar.
Dampaknya mulai terlihat pada pergerakan pasar keuangan. Investor asing secara bertahap mengurangi eksposur mereka terhadap sejumlah instrumen investasi Indonesia yang sebelumnya menjadi tujuan utama aliran modal di kawasan Asia Tenggara.
Kepala Riset K2 Asset Management, George Boubouras, bahkan menyampaikan pandangan yang cukup keras terhadap pasar Indonesia. Ia menyatakan telah keluar sepenuhnya dari investasi di Indonesia dan memilih tidak mengambil risiko tambahan di tengah ketidakpastian yang dirasakannya.
“Panggung ekonomi nasional kini menyerupai sebuah kapal besar yang sedang berlayar membawa agenda pembangunan ambisius, tetapi pada saat bersamaan harus menghadapi gelombang keraguan pasar yang terus menghantam dari berbagai arah, sehingga setiap keputusan fiskal, moneter, maupun investasi menjadi sorotan tajam para pemilik modal yang menuntut kepastian, transparansi, dan konsistensi kebijakan sebelum kembali menaruh kepercayaan mereka.”
Selain pasar saham, tekanan juga terlihat pada nilai tukar rupiah. Mata uang nasional mengalami pelemahan yang cukup signifikan dibandingkan dolar Amerika Serikat dalam beberapa waktu terakhir.
Pelemahan rupiah bukan sekadar persoalan angka di layar perdagangan valuta asing. Bagi dunia usaha, kondisi tersebut dapat berdampak terhadap biaya impor, harga bahan baku, hingga kemampuan perusahaan dalam mengelola kewajiban yang menggunakan mata uang asing.
Portfolio Manager Allspring Global Investments, Gary Tan, menilai prospek rupiah menjadi salah satu alasan utama investor mengambil posisi negatif terhadap Indonesia. Menurutnya, kekhawatiran pasar berkaitan dengan keseimbangan makroekonomi dan kredibilitas kebijakan fiskal.
Pasar juga mencermati meningkatnya kepemilikan surat utang pemerintah oleh Bank Indonesia. Meskipun langkah tersebut memiliki dasar kebijakan tertentu, sebagian investor berharap adanya komunikasi yang lebih rinci agar tidak memunculkan spekulasi yang berlebihan.
Sorotan berikutnya datang dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang sempat memberikan peringatan mengenai kemungkinan perubahan status Indonesia dari kategori emerging market menjadi frontier market.
Bagi pasar keuangan global, status tersebut bukan sekadar label administratif. Klasifikasi MSCI menjadi salah satu rujukan penting bagi banyak dana investasi internasional dalam menentukan alokasi portofolio mereka.
Chief Investment Officer Farringdon Asset Management, Ana Isabel Gonzalez Encinas, mengaku telah mulai mengurangi kepemilikan saham Indonesia sejak 2025 meskipun sebelumnya termasuk investor jangka panjang yang memiliki keyakinan terhadap prospek Indonesia.
Meski sentimen negatif menguat, sejumlah indikator fundamental Indonesia masih menunjukkan daya tahan yang relatif baik. Pertumbuhan ekonomi tetap berada di kisaran lima persen, rasio utang pemerintah masih tergolong terkendali, dan Indonesia memiliki pasar domestik yang besar dengan sumber daya alam yang melimpah.
Faktor-faktor tersebut menjadi alasan mengapa sebagian investor belum sepenuhnya meninggalkan Indonesia. Mereka memilih menunggu kepastian mengenai arah fiskal, independensi bank sentral, serta tata kelola lembaga investasi negara sebelum meningkatkan kembali eksposur modalnya.
Presiden Prabowo Subianto sendiri memberikan respons terhadap keraguan pasar tersebut. Ia menegaskan bahwa kebijakan yang dijalankan berorientasi pada kepentingan rakyat dan menyatakan bahwa pasar belum sepenuhnya memahami visi yang sedang dibangun pemerintah.
Perdebatan antara kebutuhan pembangunan yang agresif dan tuntutan kepastian pasar sesungguhnya bukan sekadar soal angka investasi atau pergerakan kurs rupiah, melainkan menyangkut kemampuan negara menjaga keseimbangan antara keberanian menjalankan agenda strategis nasional dengan kewajiban membangun kepercayaan publik dan investor melalui kebijakan yang transparan, konsisten, serta dapat diprediksi, sebab pada titik itulah kepentingan rakyat, stabilitas ekonomi, lapangan kerja, dan keberlanjutan pertumbuhan bertemu dalam satu ruang yang sama dan menentukan arah perjalanan Indonesia di tengah kompetisi ekonomi global yang semakin ketat.
Editor: Kalturo




















