Aspirasimediarakyat.com — Bank Indonesia secara eksplisit menutup ruang penurunan suku bunga dalam waktu dekat dan memilih mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen sebagai strategi utama menjaga stabilitas moneter di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi konflik geopolitik dan tekanan pasar keuangan internasional.
Keputusan tersebut diumumkan dalam Rapat Dewan Gubernur edisi Maret 2026, menandai perubahan arah kebijakan moneter yang sebelumnya cenderung longgar demi mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan bahwa absennya sinyal penurunan suku bunga bukan tanpa alasan, melainkan bagian dari strategi menjaga ketahanan eksternal, khususnya melalui penguatan intervensi pasar dan kecukupan cadangan devisa.
Perry menyatakan bahwa bank sentral kini memprioritaskan stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan, mengingat tekanan eksternal yang semakin kompleks dan sulit diprediksi.
Ketidakpastian tersebut dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah setelah serangan militer yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada akhir Februari lalu, yang memicu kekhawatiran meluasnya perang di kawasan tersebut.
Bank Indonesia mengaku telah melakukan perhitungan intensif selama dua hari untuk memetakan dampak konflik tersebut terhadap indikator ekonomi makro nasional, termasuk inflasi, pertumbuhan ekonomi, serta stabilitas sektor keuangan.
Hasil simulasi menunjukkan bahwa konflik tersebut berpotensi mendorong lonjakan harga minyak dunia yang pada akhirnya menekan ekonomi global melalui inflasi tinggi dan perlambatan pertumbuhan.
Dampak tersebut tidak berhenti di tingkat global, tetapi menjalar ke pasar keuangan domestik melalui mekanisme transmisi yang cepat dan agresif.
Arus modal asing keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia, menjadi salah satu indikator paling nyata dari tekanan tersebut, memperlihatkan bagaimana sentimen global dapat dengan cepat menggerus kepercayaan investor.
Kondisi ini diperburuk oleh penguatan dolar Amerika Serikat dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, yang secara simultan menekan nilai tukar rupiah serta meningkatkan yield surat berharga negara.
“Dalam situasi seperti ini, Bank Indonesia memilih untuk memperkuat bantalan stabilitas dengan menahan suku bunga, sekaligus menjaga daya tarik instrumen keuangan domestik di mata investor global.”
Sebagai langkah antisipatif, BI juga telah menyusun tiga skenario pergerakan harga minyak dunia, mulai dari kondisi stabil hingga lonjakan drastis akibat eskalasi konflik yang lebih luas.
Ketiga skenario tersebut menjadi dasar dalam menentukan respons kebijakan yang adaptif, termasuk dalam mengkalibrasi kombinasi antara intervensi pasar, suku bunga, dan pengelolaan cadangan devisa.
Perry menjelaskan bahwa keseimbangan antara ketiga instrumen tersebut akan sangat bergantung pada dinamika geopolitik global, yang hingga kini masih bergerak dalam ketidakpastian tinggi.
Keputusan menahan suku bunga ini juga menjadi kontras dengan kebijakan sepanjang tahun sebelumnya, di mana Bank Indonesia secara agresif memangkas BI Rate hingga 125 basis poin dari level 6,00 persen menjadi 4,75 persen.
Langkah pelonggaran tersebut kala itu dimaksudkan untuk mendorong pemulihan ekonomi pascapandemi, namun kini situasi global memaksa otoritas moneter berbalik arah.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, menilai bahwa kebijakan ini merupakan langkah rasional dalam menghadapi tekanan eksternal yang semakin berat.
Menurutnya, kombinasi tekanan nilai tukar, kenaikan harga energi, serta kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat membuat ruang pelonggaran moneter menjadi sangat terbatas.
Ia menjelaskan bahwa dengan suku bunga yang tetap tinggi, biaya dana di dalam negeri juga akan bertahan di level tinggi, yang berimplikasi pada melambatnya pemulihan sektor riil, khususnya sektor berbasis kredit.
Selain itu, kenaikan harga energi turut meningkatkan biaya produksi, yang pada akhirnya menekan margin usaha dan daya tahan pelaku ekonomi.
Di sisi lain, imbal hasil deposito tetap menarik bagi masyarakat, namun kondisi ini juga beriringan dengan meningkatnya risiko kualitas kredit di sektor perbankan.
Rizal menggambarkan posisi Bank Indonesia saat ini sebagai memasuki fase “defensive stability”, yaitu fokus menjaga stabilitas ketimbang mendorong ekspansi ekonomi melalui pelonggaran kebijakan.
Meski demikian, ia menilai bahwa peluang penurunan suku bunga belum sepenuhnya tertutup, melainkan akan sangat bergantung pada meredanya tekanan global, stabilitas harga energi, serta penguatan nilai tukar rupiah.
Kebijakan ini menggambarkan bagaimana otoritas moneter harus berjalan di atas garis tipis antara menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan, di tengah realitas global yang semakin tidak pasti.
Dalam situasi seperti ini, pilihan untuk bertahan bukan sekadar langkah konservatif, melainkan refleksi dari kehati-hatian menghadapi badai ekonomi yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali domestik, di mana setiap keputusan kebijakan menjadi penentu keseimbangan antara ketahanan ekonomi nasional dan perlindungan terhadap kepentingan masyarakat luas yang bergantung pada stabilitas harga, nilai tukar, dan keberlanjutan aktivitas ekonomi.


















