“Yusuf Rendy: Rupiah Melemah Karena Tekanan Global Belum Menemukan Titik Redanya Lagi”

Ekonom CORE Yusuf Rendy Manilet menilai tekanan terhadap rupiah semakin berat akibat suku bunga tinggi Amerika Serikat, kenaikan harga minyak, dan arus modal asing yang belum stabil. Di tengah gejolak global tersebut, publik kini menunggu sejauh mana pemerintah dan Bank Indonesia mampu menjaga stabilitas ekonomi tanpa membebani daya beli masyarakat domestik yang terus tertekan.

Aspirasimediarakyat.com, Jakarta — Pelemahan rupiah yang terus bergerak menjauh dari asumsi dasar APBN 2026 memperlihatkan betapa rapuhnya ruang stabilitas ekonomi nasional di tengah gelombang tekanan global, lonjakan harga energi, dan arus modal yang lebih memilih berlabuh ke aset dolar Amerika Serikat, sementara masyarakat dalam negeri perlahan menghadapi efek berantai berupa mahalnya impor, ancaman kenaikan harga kebutuhan pokok, serta meningkatnya ketidakpastian terhadap daya tahan ekonomi domestik.

Pada Kamis, 28 Mei 2026 siang, nilai tukar rupiah sempat menyentuh level Rp17.905 per dolar Amerika Serikat. Posisi tersebut jauh di atas asumsi dasar nilai tukar dalam APBN 2026 yang disepakati pemerintah bersama DPR, yakni berada pada kisaran Rp16.500 per dolar AS.

Pergerakan rupiah yang terus tertekan menjadi perhatian serius pelaku pasar dan ekonom. Sebab, nilai tukar bukan sekadar angka di layar perdagangan valuta asing, melainkan cermin kepercayaan pasar terhadap ketahanan ekonomi nasional dan kemampuan pemerintah menjaga stabilitas makroekonomi.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, sebelumnya sempat memperkirakan rupiah masih memiliki peluang bergerak mendekati asumsi APBN pada akhir tahun. Namun perkembangan situasi global yang semakin bergejolak membuat proyeksi tersebut berubah signifikan.

“Namun tekanan yang terjadi sekarang ternyata jauh lebih dalam dibanding perkiraan awal sehingga ruang pemulihannya menjadi semakin terbatas,” kata Yusuf.

Menurut Yusuf, salah satu faktor utama yang menentukan arah rupiah adalah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Fed. Selama suku bunga di AS tetap tinggi, dolar cenderung bertahan kuat karena investor global lebih memilih menempatkan dana mereka pada aset berbasis dolar yang dianggap lebih aman dan menguntungkan.

Baca Juga :  "Herman Deru: Pelabuhan Tanjung Carat Akhiri Ketergantungan Logistik Sumsel Selama Puluhan Tahun"
Baca Juga :  "Koperasi Desa Merah Putih Dipertanyakan, Pemerintah Janjikan Sistem Transparan dan Digital"
Baca Juga :  "Pertumbuhan Ekonomi 5,12 Persen Dinilai Kontradiktif, Publik Pertanyakan Transparansi Data"

Ia menjelaskan, apabila pada paruh kedua tahun ini muncul sinyal yang lebih jelas mengenai pemangkasan suku bunga The Fed, tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, berpotensi mulai mereda. Namun selama arah kebijakan tersebut belum berubah, tekanan eksternal diperkirakan masih akan membayangi pasar domestik.

Selain faktor suku bunga, Yusuf juga menyoroti kenaikan harga minyak dunia sebagai penyebab lain melemahnya rupiah. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dinilai ikut mendorong harga energi naik dan memperbesar kebutuhan impor energi Indonesia.

“Kalau tensi geopolitik mereda dan harga minyak turun, tekanan terhadap rupiah juga bisa ikut berkurang,” ujarnya.

“Sebagai negara net importir minyak, Indonesia memiliki kerentanan tersendiri terhadap fluktuasi harga energi global. Saat harga minyak naik, kebutuhan dolar untuk impor energi meningkat, sementara tekanan terhadap cadangan devisa dan neraca perdagangan menjadi semakin berat.”

Yusuf mengatakan arus modal asing yang kembali masuk ke pasar obligasi domestik juga dapat membantu menopang rupiah. Meski demikian, aliran dana tersebut dinilai belum cukup kuat untuk mengubah tekanan pasar secara signifikan.

Di sisi lain, Bank Indonesia bersama pemerintah disebut masih melakukan berbagai langkah stabilisasi, mulai dari intervensi pasar obligasi, pengelolaan devisa hasil ekspor, hingga menjaga likuiditas valuta asing domestik agar pelemahan rupiah tidak bergerak lebih tajam.

Meski begitu, Yusuf menilai peluang rupiah kembali berada di bawah Rp17.000 per dolar AS dalam waktu dekat masih cukup sulit. Faktor eksternal, terutama kebijakan The Fed, dinilai menjadi tembok besar yang belum mudah ditembus oleh kebijakan domestik.

“Pasar masih melihat The Fed cenderung mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Selama selisih suku bunga Indonesia dan Amerika belum cukup menarik, investor global akan lebih nyaman menempatkan dana mereka di aset berbasis dolar AS,” jelas Yusuf.

Ia juga menyoroti faktor musiman pada semester kedua tahun ini berupa pembayaran dividen dan repatriasi keuntungan perusahaan asing. Kondisi tersebut dinilai akan meningkatkan permintaan dolar di pasar domestik sehingga memperbesar tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Dari sisi domestik, Yusuf menilai persoalan struktural ekonomi Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai. Saat konsumsi dan investasi meningkat, impor biasanya tumbuh lebih cepat dibanding ekspor sehingga berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan.

“Karena itu ruang Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga sebenarnya menjadi terbatas. Jika suku bunga diturunkan terlalu cepat di tengah tekanan kurs, risiko keluarnya modal asing justru bisa semakin besar,” katanya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya menjaga kepercayaan pasar terhadap kebijakan fiskal pemerintah. Menurut Yusuf, selama disiplin anggaran tetap terjaga dan defisit APBN diyakini aman di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto, tekanan terhadap rupiah umumnya masih dapat dikendalikan.

“Sebaliknya, jika muncul keraguan terhadap pengelolaan fiskal atau konsistensi kebijakan ekonomi, pasar bisa merespons negatif dan memicu arus keluar modal. Dalam situasi seperti ini, komunikasi pemerintah menjadi sangat penting,” ujarnya.

Pandangan lain disampaikan IRRD Economist Bank Tabungan Negara (BTN), Myrdal Gunarto. Ia memperkirakan rupiah tahun ini masih akan menghadapi tekanan berat dan bergerak di kisaran Rp17.602 per dolar AS apabila kondisi global belum mengalami perbaikan berarti.

Menurut Myrdal, tingginya harga minyak membuat investor asing cenderung berhati-hati menempatkan dana di negara berkembang yang berstatus sebagai net oil importer seperti Indonesia. Situasi tersebut membuat arus modal asing lebih mudah keluar saat risiko global meningkat.

Baca Juga :  "CBA Kritik PPATK Soal Pemblokiran Massal Rekening Nasabah, Soroti Potensi Kerugian Rp12 Triliun"
Baca Juga :  "Rp 19,41 Triliun Uang Rakyat Dilahap, Koruptor Asuransi Ditegaskan Sebagai Garong Berdasi"
Baca Juga :  "FTA Amerika Latin-China: Ancaman Baru bagi Ekspor Mobil Indonesia"

“Jadi kondisi harga minyak yang tinggi tersebut membuat investor kelihatannya enggan untuk lama-lama menaruh aset investasinya di negara emerging market yang memiliki status sebagai net oil importer,” tutur Myrdal.

Meski demikian, Myrdal menilai rupiah masih memiliki peluang menguat kembali ke kisaran Rp16.500 hingga Rp16.900 per dolar AS sesuai asumsi APBN. Salah satu syarat utamanya adalah melimpahnya pasokan valuta asing domestik melalui devisa hasil ekspor sumber daya alam nonmigas.

Ia bahkan mendorong agar devisa hasil ekspor tersebut dikonversi sepenuhnya ke rupiah di dalam negeri guna memperkuat likuiditas valas nasional. Menurutnya, semakin besar pasokan dolar yang masuk ke sistem keuangan domestik, semakin kuat pula kemampuan menjaga stabilitas rupiah.

“Dan yang masuknya itu jumlahnya besar, misalkan per kuartalnya lebih dari 4 miliar USD net-nya FDI-nya. Itu bisa bikin rupiah kembali menguat ke level tersebut,” kata Myrdal.

Selain perdagangan dan investasi, sektor pariwisata juga dinilai dapat menjadi sumber penguatan rupiah. Myrdal menilai promosi pariwisata dan stabilitas sosial politik domestik perlu diperkuat agar semakin banyak wisatawan asing datang dan membelanjakan valuta asing mereka di Indonesia.

Pelemahan rupiah saat ini memperlihatkan bahwa fondasi ekonomi nasional masih sangat dipengaruhi arus modal global, harga energi internasional, dan persepsi investor terhadap disiplin kebijakan negara; sebab di tengah dunia yang bergerak seperti pasar tanpa pagar, nilai tukar tidak hanya ditentukan oleh transaksi perdagangan, tetapi juga oleh tingkat kepercayaan terhadap arah kepemimpinan ekonomi nasional, sementara rakyat di lapisan bawah menjadi pihak pertama yang merasakan dampak dari setiap rupiah yang kehilangan tenaga, mulai dari harga pangan, biaya produksi, hingga ongkos hidup yang perlahan bergerak naik seperti air pasang yang diam-diam menggenangi rumah ekonomi masyarakat kecil.

Editor: Kalturo



 

Banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *