“Satu Meter Persegi Delapan Penumpang, Alarm Keras KRL Rangkasbitung Hari Ini”

Kepadatan KRL lintas Tanah Abang–Rangkasbitung mencapai 161 persen pada jam sibuk, setara delapan penumpang dalam satu meter persegi ruang kereta. KAI menyiapkan pembangunan gardu listrik baru, modernisasi persinyalan, dan penambahan kapasitas rangkaian sebagai respons atas lonjakan mobilitas masyarakat yang terus meningkat setiap tahun.

Aspirasimediarakyat.com, Jakarta — Lonjakan jumlah pengguna Kereta Rel Listrik (KRL) lintas Tanah Abang–Rangkasbitung yang mencapai tingkat okupansi 161 persen pada jam sibuk menghadirkan gambaran nyata tentang tekanan luar biasa terhadap sistem transportasi publik perkotaan, sebuah kondisi yang tidak sekadar berbicara soal angka, melainkan juga tentang kualitas pelayanan, kenyamanan masyarakat, serta kemampuan infrastruktur mengimbangi pertumbuhan mobilitas jutaan warga yang setiap hari menggantungkan aktivitas ekonomi dan sosialnya pada moda transportasi massal tersebut.

Data yang disampaikan PT Kereta Api Indonesia (Persero) menunjukkan bahwa lintas Tanah Abang–Rangkasbitung atau Green Line kini menjadi jalur dengan tingkat kepadatan tertinggi di wilayah Jabodetabek.

Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, mengungkapkan bahwa okupansi pada jam sibuk mencapai 161 persen. Angka tersebut jauh melampaui lintas Bekasi atau Blue Line yang berada di kisaran 140 persen dan lintas Bogor atau Red Line sekitar 130 persen.

Kepadatan sebesar itu bukan sekadar statistik operasional. Di balik angka tersebut terdapat realitas ribuan penumpang yang harus berbagi ruang secara sangat terbatas dalam perjalanan menuju tempat kerja, sekolah, maupun berbagai pusat aktivitas ekonomi.

Bobby menggambarkan kondisi tersebut secara sederhana namun mencolok. Menurutnya, tingkat okupansi 161 persen setara dengan sekitar delapan orang berada dalam ruang seluas satu meter persegi di dalam kereta saat jam sibuk berlangsung.

“Yang jalur Rangkas puncaknya 161 persen pada jam sibuk. Kalau digambarkan, satu meter persegi diisi delapan orang,” ujar Bobby dalam rapat bersama Komisi V DPR RI, Rabu (3/6/2026).

Baca Juga :  EDITORIAL: "Jejaring Bisnis di Balik Anomali Beras Satu Kualitas"
Baca Juga :  "Lokataru Foundation Gugat Presiden Prabowo ke PTUN Terkait Menteri Desa Yandri Susanto"
Baca Juga :  PT Pusri Palembang Diduga Tega Menipu Publik Demi Gelar K3 Terbaik! LBPH KOSGORO Desak Kadisnaker Sumsel untuk Menerbitkan SPHS

Pernyataan itu menjadi cermin bagaimana pertumbuhan kebutuhan transportasi publik bergerak lebih cepat dibanding kemampuan infrastruktur untuk mengakomodasinya. Kereta yang dirancang sebagai sarana mobilitas nyaman perlahan berubah menjadi ruang yang dipaksa bekerja melampaui kapasitas idealnya.

“Di tengah geliat ekonomi perkotaan yang terus meningkat, gerbong-gerbong KRL seolah menjelma menjadi barometer ketimpangan antara permintaan layanan transportasi dengan kecepatan pembangunan sarana pendukung yang dibutuhkan masyarakat.”

KAI mencatat saat ini KRL Jabodetabek melayani sekitar 1,3 juta penumpang setiap hari. Angka tersebut diperkirakan terus bertambah hingga mencapai sedikitnya 1,4 juta penumpang per hari pada tahun 2030.

Peningkatan jumlah pengguna itu menjadi tantangan serius bagi operator. Tanpa penambahan kapasitas yang memadai, kepadatan yang saat ini terjadi berpotensi menjadi kondisi normal baru yang harus dihadapi masyarakat setiap hari.

Sebagai salah satu solusi, KAI berencana mengoperasikan rangkaian kereta dengan formasi lebih panjang hingga 12 gerbong atau SF12. Langkah tersebut diyakini dapat membantu menurunkan tingkat kepadatan penumpang secara signifikan.

Namun rencana tersebut masih menghadapi kendala mendasar. Jalur Rangkasbitung belum memiliki kapasitas listrik yang cukup untuk mendukung operasional rangkaian 12 gerbong secara optimal.

Menurut Bobby, pasokan listrik aliran atas yang tersedia saat ini masih berada pada level sekitar 3.000 volt sehingga belum mampu mengakomodasi kebutuhan operasional kereta dengan kapasitas lebih besar.

Berbagai rekayasa operasi telah dicoba. Akan tetapi, hasil evaluasi menunjukkan bahwa pengoperasian SF12 di lintas Rangkasbitung masih belum memungkinkan dilakukan dengan kondisi infrastruktur kelistrikan yang ada sekarang.

Baca Juga :  "Harga BBM Nonsubsidi Turun Serentak Awal 2026, Subsidi Tetap Dijaga"
Baca Juga :  "MBG Nasional: Uji Ilmiah, Konsolidasi Gizi, dan Arah Pembangunan Manusia"
Baca Juga :  "Pengerahan Pasukan di Konflik Daerah Uji Strategi Keamanan dan Kepercayaan Publik"

Sebagai jalan keluar, KAI menyiapkan pembangunan 11 gardu traksi baru untuk memperkuat pasokan listrik di lintas tersebut. Investasi infrastruktur ini dipandang sebagai langkah penting untuk membuka ruang peningkatan kapasitas layanan.

Selain persoalan listrik, sistem persinyalan juga menjadi perhatian utama. Sebagian perangkat yang digunakan saat ini dinilai sudah berusia tua dan membutuhkan modernisasi agar mampu mendukung frekuensi perjalanan yang lebih tinggi.

Modernisasi persinyalan diharapkan dapat memperpendek headway atau jarak waktu antarperjalanan kereta. Saat ini lintas Rangkasbitung masih memiliki headway sekitar 10 menit, sementara lintas Bekasi dan Bogor sudah mampu beroperasi dengan interval sekitar tiga hingga empat menit.

Semakin pendek headway, semakin besar kemampuan jalur dalam melayani penumpang tanpa harus menambah kepadatan berlebihan di setiap rangkaian. Karena itu, pembaruan sistem persinyalan menjadi kebutuhan strategis, bukan sekadar proyek teknis.

Di luar jalur Rangkasbitung, KAI juga menyiapkan sejumlah ekspansi layanan, termasuk perpanjangan Commuter Line dari Cikarang menuju Cikampek serta dari Bogor menuju Sukabumi. Pengembangan itu akan didukung penambahan rangkaian kereta dan pembangunan fasilitas depo baru di sejumlah titik operasional.

Persoalan kepadatan KRL sejatinya bukan hanya tentang transportasi, melainkan tentang hak masyarakat memperoleh layanan publik yang aman, layak, dan manusiawi. Delapan orang dalam ruang satu meter persegi adalah metafora keras mengenai betapa tingginya ketergantungan warga terhadap transportasi massal sekaligus peringatan bahwa pembangunan infrastruktur harus bergerak secepat kebutuhan rakyat yang terus bertambah. Di tengah pertumbuhan kawasan penyangga ibu kota yang semakin pesat, keberhasilan mengurai kepadatan KRL akan menjadi ukuran penting apakah pelayanan publik benar-benar mampu berjalan seiring dengan denyut kehidupan jutaan penumpang yang setiap hari mengandalkan rel sebagai urat nadi mobilitas mereka.

Editor: Kalturo



 

Banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *