“Riset Baru Guncang Teori Danau Purba Borobudur, Bukti Geologi Dipertanyakan”

Penelitian terbaru dari Badan Geologi dan BRIN mempertanyakan teori lama yang menyebut Candi Borobudur pernah berdiri di tengah danau purba. Analisis sedimen dan mikroorganisme tidak menemukan bukti kuat keberadaan ekosistem danau di kawasan tersebut.

Aspirasimediarakyat.com — Perdebatan panjang mengenai dugaan keberadaan danau purba yang disebut pernah mengelilingi Candi Borobudur kembali mengemuka setelah riset terbaru dari lembaga geologi nasional memunculkan temuan yang mempertanyakan hipotesis lama yang telah beredar hampir satu abad, memicu diskusi ilmiah baru mengenai lanskap purba kawasan Borobudur sekaligus menyoroti pentingnya ketelitian metodologi riset geologi, verifikasi data lapangan, serta kehati-hatian dalam menafsirkan sejarah alam yang berkaitan langsung dengan salah satu situs warisan budaya paling penting di dunia.

Kontroversi mengenai apakah kawasan sekitar Candi Borobudur pernah berupa danau purba bukanlah perdebatan baru. Gagasan ini telah hidup dalam diskursus akademik hampir satu abad dan terus memancing rasa ingin tahu para peneliti geologi, arkeologi, dan geomorfologi yang mencoba memahami bagaimana lanskap alam di kawasan itu terbentuk sebelum dan selama masa pembangunan candi pada abad ke-8 hingga ke-9.

Isu tersebut kembali mencuat setelah riset terbaru yang dilakukan oleh tim dari Badan Geologi melalui Pusat Survei Geologi, yang dalam beberapa tahun terakhir melakukan kajian lapangan bersama peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Salah satu peneliti yang terlibat dalam kajian tersebut, Eko Yulianto dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, menjelaskan bahwa hipotesis mengenai keberadaan danau purba di sekitar Borobudur memang telah lama menjadi topik sensasional dalam penelitian geologi kawasan tersebut.

“Memang isunya sensasional, sama seperti perdebatan mengenai situs purbakala lain yang sering memicu diskusi ilmiah panjang,” kata Eko Yulianto dalam keterangannya.

Baca Juga :  EDITORIAL : “Menguak Dusta di Balik LHKPN: Ketika Integritas Dijual”

Baca Juga :  “Prabowo Kukuhkan Komisi Reformasi Polri: Tiga Mantan Kapolri Kembali ke Meja Evaluasi, Jimly Jadi Nakhoda”

Baca Juga :  "Banjir Sumatera dan Luka Hulu yang Terabaikan"

Belakangan, akun resmi pengelola kawasan warisan dunia Borobudur di media sosial turut mengangkat kembali ide tentang danau purba tersebut dengan ilustrasi visual berbasis kecerdasan buatan yang menggambarkan candi seolah berdiri di tengah hamparan air luas seperti bunga teratai yang mengapung di danau.

“Gagasan tentang “Danau Borobudur” pertama kali diperkenalkan oleh seniman dan penulis Belanda, W. O. J. Nieuwenkamp pada 1933 melalui tulisannya berjudul Het Borobudur Meer. Ia membayangkan candi itu sebagai simbol bunga teratai suci yang muncul dari tengah danau, sebuah metafora spiritual yang selaras dengan filosofi dalam ajaran Buddha.”

Namun gagasan tersebut sejak awal tidak diterima secara bulat oleh kalangan ilmuwan. Pemimpin pemugaran Borobudur pada awal abad ke-20, Theodoor van Erp, menolak hipotesis tersebut karena menilai bukti ilmiahnya belum cukup kuat untuk mendukung klaim adanya danau purba di kawasan itu.

Seiring waktu, sejumlah ilmuwan lain justru memberikan dukungan terhadap kemungkinan adanya genangan air besar di masa lampau. Peneliti geologi Reinout Willem van Bemmelen serta peneliti geomorfologi J. J. Nossin dan A. D. Voute pernah mengemukakan kemungkinan bahwa lanskap di sekitar Borobudur dahulu memiliki karakteristik lingkungan rawa atau danau.

Hipotesis tersebut semakin menarik perhatian setelah penelitian yang dilakukan oleh Helmy Murwanto dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta menemukan indikasi sedimen yang dianggap sebagai sisa endapan danau.

Penelitian pada 1996 menemukan batuan lempung hitam yang mengandung pollen atau serbuk sari tanaman rawa seperti teratai, cyperaceae, eleocharis, serta hydrocharis. Sedimen tersebut ditemukan di sekitar aliran Sungai Elo, Progo, dan Sileng yang mengelilingi kawasan Borobudur.

Analisis karbon yang dilakukan beberapa tahun kemudian menunjukkan bahwa genangan air di kawasan tersebut diperkirakan terbentuk sekitar 22 ribu tahun lalu dan kemungkinan masih tersisa pada masa pembangunan Borobudur, sebelum akhirnya tertutup endapan vulkanik sekitar abad ke-13 dan berubah menjadi daratan.

Namun penelitian terbaru menghadirkan sudut pandang berbeda. Tim riset yang dipimpin oleh Eko Yulianto melakukan verifikasi ulang terhadap sejumlah lokasi yang sebelumnya disebut sebagai bukti keberadaan endapan danau purba.

Lokasi di tepi Kali Sileng menjadi titik awal penelitian karena pada riset sebelumnya disebut mengandung lapisan lempung hitam yang dianggap sebagai sedimen danau. Setelah membersihkan singkapan dinding sungai dan mengambil sampel, tim peneliti menemukan hasil yang berbeda dari asumsi sebelumnya.

“Setelah kami bersihkan singkapan dinding kali, kami langsung mengetahui bahwa lapisan itu bukan lempung. Dari teksturnya terlihat jelas itu pasir,” ujar Eko Yulianto.

Uji laboratorium terhadap sampel tersebut menunjukkan komposisi sekitar 70 persen berupa pasir dengan kandungan besi yang tinggi. Hasil ini tidak menunjukkan karakteristik umum sedimen yang biasanya ditemukan pada lingkungan danau.

Analisis tambahan juga dilakukan untuk mencari mikroorganisme dan unsur biologis yang biasanya menjadi indikator lingkungan perairan seperti ostrakoda, diatom, serta pollen tanaman air. Hasilnya tidak menunjukkan keberadaan organisme khas ekosistem danau.

Penelitian lanjutan dilakukan di lokasi lain sekitar 500 meter di selatan Borobudur, pada area persawahan yang sebelumnya diperkirakan sebagai jalur bekas danau purba. Pengeboran hingga kedalaman enam meter justru menemukan lapisan tufa atau abu vulkanik yang bercampur dengan material lempung.

Baca Juga :  “Bangunan Bisa Diresmikan, Tapi Koperasi Harus Benar-Benar Siap Beroperasi Dulu”

Baca Juga :  Indonesia Targetkan Operasional Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir pada 2032

Baca Juga :  "Negara Masuk GOTO, Intervensi Digital Ubah Peta Ekonomi dan Nasib Ojol"

Jumlah pollen yang ditemukan dalam sampel tersebut sangat sedikit, sementara organisme khas lingkungan danau seperti ostrakoda dan diatom tidak ditemukan sama sekali. Kondisi ini berbeda jauh dengan sampel pembanding yang diambil dari kawasan rawa aktif di wilayah Klaten yang menunjukkan kandungan mikroorganisme air yang melimpah.

Fakta ilmiah tidak boleh ditenggelamkan oleh romantisme narasi sejarah yang memikat imajinasi publik.

Hasil analisis tersebut membuat tim peneliti menyimpulkan bahwa hingga saat ini tidak terdapat bukti geologi yang dapat memverifikasi keberadaan danau purba yang mengelilingi Borobudur pada masa pembangunannya.

Menurut Eko Yulianto, kajian ilmiah harus tetap berpijak pada verifikasi data lapangan dan analisis laboratorium yang dapat diuji secara akademik, bukan semata pada interpretasi visual atau simbolik.

Perdebatan ilmiah seperti ini menunjukkan bahwa sejarah alam dan lanskap purba bukanlah cerita yang selesai ditulis sekali untuk selamanya, melainkan proses panjang pencarian pengetahuan yang terus berkembang melalui penelitian baru, pengujian data, dan keberanian ilmuwan untuk mengoreksi hipotesis lama demi menjaga integritas ilmu pengetahuan sekaligus memastikan bahwa pemahaman publik mengenai situs warisan dunia dibangun di atas fondasi riset yang akurat, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

Banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *