“Megawati Soroti Venezuela dan Lingkungan, Tegaskan Sikap Anti-Neokolonialisme”

Pidato Megawati dalam Rakernas dan HUT ke-53 PDI Perjuangan menyoroti penculikan Presiden Venezuela, kerusakan lingkungan, dan pentingnya hukum internasional. Pesan ideologis ini menegaskan penolakan terhadap neokolonialisme serta keberpihakan pada kedaulatan bangsa dan kepentingan rakyat.

Aspirasimediarakyat.com — Pidato politik Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dalam Rapat Kerja Nasional dan peringatan HUT ke-53 partai tersebut mengangkat isu penculikan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat serta kerusakan lingkungan global, sebuah rangkaian gagasan yang menempatkan Indonesia pada posisi ideologis menentang neokolonialisme, membela kedaulatan bangsa, dan menegaskan kembali pentingnya hukum internasional, diplomasi, serta tanggung jawab ekologis sebagai fondasi keadaban dunia modern.

Isu tersebut disampaikan Megawati dalam forum resmi partai yang digelar di Beach City International Stadium, Ancol, Jakarta Utara, dan disorot oleh akademikus serta pengamat politik Rocky Gerung yang hadir langsung mendengarkan pidato tersebut.

Rocky menyampaikan bahwa Megawati membuka pidatonya dengan membahas persoalan politik global, khususnya Venezuela, dengan menekankan hak setiap bangsa untuk mempertahankan kemerdekaan dan menolak praktik pencaplokan pemimpin negara berdaulat oleh kekuatan adidaya.

Menurut Rocky, sikap tersebut sejalan dengan prinsip dasar politik luar negeri Indonesia yang sejak awal berdiri menentang kolonialisme dan segala bentuk turunannya, termasuk praktik dominasi politik dan militer dalam hubungan internasional kontemporer.

Ia menilai Megawati secara tegas mengkritik tindakan Amerika Serikat yang dinilai melanggar kedaulatan Venezuela dan mencederai tertib dunia internasional yang seharusnya berdiri di atas hukum, bukan kekuatan sepihak.

Baca Juga :  "Kontroversi Hegseth Uji Batas Hukum Perang dan Etika Militer Global"

Baca Juga :  "Bencana Sumatera dan Sikap Negara di Persimpangan Solidaritas Global"

Baca Juga :  "Vatikan Tolak Board of Peace, Legitimasinya Dipertanyakan Dunia"

Rocky juga menyoroti bahwa Megawati tidak sekadar berbicara dalam konteks geopolitik, tetapi mengaitkannya dengan identitas historis Indonesia sebagai bangsa yang lahir dari perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme.

Selain isu Venezuela, Megawati juga menyinggung persoalan lingkungan hidup sebagai ancaman nyata terhadap keberlangsungan peradaban manusia, sebuah isu yang menurut Rocky disampaikan dengan pesan moral kuat kepada generasi muda.

Megawati menekankan bahwa merusak lingkungan sama artinya dengan merusak peradaban, karena bencana ekologis bukan sekadar fenomena alam, melainkan konsekuensi dari keserakahan dan kebijakan yang mengabaikan keberlanjutan.

Dalam pandangan Rocky, pidato tersebut mencerminkan keberanian politik untuk mengangkat isu-isu strategis lintas batas, mulai dari ketidakadilan global hingga krisis ekologis, yang semuanya bermuara pada penderitaan rakyat.

Rocky mengaku puas dengan substansi pidato tersebut karena dinilai jernih, tulus, dan berani, serta merepresentasikan kegelisahan intelektual yang seharusnya menjadi perhatian bersama bangsa.

Tema Rakernas dan HUT ke-53 PDI Perjuangan, ‘Satyam Eva Jayate’ dengan subtema “Di Sanalah Aku Berdiri, untuk Selama-lamanya”, dimaknai sebagai penegasan bahwa kebenaran dan daya tahan moral harus menjadi pijakan dalam menghadapi tekanan global.

“Slogan berbahasa Sanskerta itu menegaskan keyakinan bahwa kebenaran akan menang, sementara kutipan dari lagu kebangsaan Indonesia Raya menggambarkan keteguhan sikap ideologis dalam menjaga kedaulatan dan martabat bangsa.”

Dalam pidatonya, Megawati secara eksplisit menilai tindakan militer Amerika Serikat yang menangkap Presiden Venezuela dan istrinya sebagai bentuk neokolonialisme dan imperialisme modern yang mengingkari Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Ia menyebut intervensi militer tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan prinsip dasar hubungan antarbangsa yang seharusnya menjunjung kesetaraan dan penghormatan terhadap kedaulatan negara.

Baca Juga :  “Skandal JP Morgan: Jejak Manipulasi Keuangan yang Menyeret Raksasa Wall Street ke Meja Pengawasan Global”

Baca Juga :  Tak Gentar Markas UNIFIL Dibom Israel, TNI Siapkan Kapal Perang untuk Dikirim ke Lebanon

Baca Juga :  "Serangan Presisi Iran Rusak Pesawat Strategis AS di Arab Saudi"

Ketidakadilan global semacam ini menunjukkan bagaimana hukum internasional sering dilipat dan diinjak ketika berhadapan dengan kepentingan kekuatan besar, sementara rakyat negara lemah dipaksa menanggung dampaknya. Dunia seolah dikelola dengan logika rimba, tempat yang kuat menentukan benar dan salah tanpa rasa malu.

Megawati menegaskan bahwa bangsa Indonesia menolak tatanan internasional yang membenarkan dominasi kekuatan atas kedaulatan bangsa lain, seraya mengingatkan bahwa demokrasi sejati tidak lahir dari moncong senjata dan keadilan tidak tumbuh dari agresi sepihak.

Ia mengaitkan sikap tersebut dengan sejarah politik luar negeri Indonesia sejak era Presiden Soekarno, terutama sejak Konferensi Asia Afrika yang menegaskan perlawanan terhadap imperialisme dalam segala bentuknya.

Atas dasar itu, Megawati menyerukan agar setiap konflik internasional diselesaikan melalui dialog, diplomasi, dan mekanisme hukum internasional, bukan kekerasan bersenjata yang hanya memperpanjang penderitaan rakyat sipil dan merusak tatanan global.

Sikap politik tersebut menjadi penegasan bahwa perjuangan melawan neokolonialisme, menjaga lingkungan, dan menegakkan hukum internasional bukan sekadar retorika ideologis, melainkan panggilan moral untuk memastikan dunia yang lebih adil, berdaulat, dan manusiawi bagi rakyat yang selama ini kerap menjadi korban tarik-menarik kekuasaan global.


Banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *