Aspirasimediarakyat.com — Mimpi Israel ke Piala Dunia 2026 akhirnya terkubur di rumput hijau Stadion Olimpico Roma. Gli Azzurri memperlakukan mereka bukan sebagai lawan, tapi korban dari disiplin dan determinasi. Tiga gol tanpa balas seakan menampar keras ambisi yang selama ini mereka pelihara—menyisakan luka mendalam bagi publik Tel Aviv yang berharap keajaiban datang dari sepak bola.
Pertandingan kualifikasi zona Eropa pada Rabu (15/10/2025) dini hari WIB menegaskan betapa kerasnya medan menuju Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Empat grup memainkan laga penentu yang tidak hanya memperebutkan angka, tetapi juga harga diri dan eksistensi sepak bola nasional masing-masing.
Dari Grup E, Spanyol menunjukkan kelasnya sebagai kekuatan lama yang belum menua. La Furia Roja menggilas Bulgaria 4-0 tanpa ampun. Gol Mikel Merino di menit ke-35 menjadi pembuka pesta, disusul brace-nya di babak kedua, lalu tambahan dari gol bunuh diri Atanasov Cherney dan penalti Mikel Oyarzabal di masa tambahan waktu. Tak sekadar kemenangan, tapi juga pernyataan: Spanyol masih penguasa.
Turkiye tak mau kalah. Pasukan Ay-Yildizlilar menjadikan Georgia ladang pelampiasan dengan skor 4-1. Gol demi gol dari Kenan Yildiz, Merih Demiral, dan Yunus Akgun membuat babak pertama seperti parade unjuk gigi. Meski Georgia sempat mencetak gol hiburan lewat Kochorashvili, Turkiye sudah melangkah mantap—mereka tahu tiket Piala Dunia kini tinggal sejengkal lagi.
Dengan kemenangan itu, Spanyol memimpin dengan 12 poin, unggul tiga atas Turkiye. Dominasi ini membuat perjalanan kualifikasi terasa seperti formalitas bagi anak asuh Luis de la Fuente. Namun di balik kemapanan Eropa Barat, drama justru tersaji di Grup F — di mana Cristiano Ronaldo masih harus menahan napas.
Portugal, yang seharusnya bisa memastikan tiket ke Piala Dunia, justru ditahan imbang Hungaria 2-2. Hungaria memimpin lebih dulu lewat sundulan Attila Szalai, tapi Ronaldo membalas dua kali dengan insting predatornya yang tak lekang usia. Dua gol itu sempat membuat stadion bergemuruh, seolah kemenangan sudah di tangan. Tapi sepak bola tak mengenal jaminan. Di menit 90+1, Dominik Szoboszlai mencuri harapan lewat tembakan penyama kedudukan yang membungkam Lisbon.
“Hasil itu memaksa Portugal menunda euforia. Dengan 10 poin, mereka masih bisa dikejar Hungaria, Irlandia, dan Armenia. Cristiano Ronaldo, yang sempat terlihat frustrasi saat peluit panjang berbunyi, kini harus menunggu November untuk memastikan langkah terakhirnya menuju turnamen terakhir dalam karier internasionalnya.”
Sementara di laga lain Grup F, Republik Irlandia menang tipis 1-0 atas Armenia berkat gol Evan Ferguson. Kemenangan yang menjaga asa, meski jalan mereka tetap berat. Di titik inilah kualifikasi Eropa menunjukkan betapa tipis jarak antara kejayaan dan kekecewaan.
Di Grup I, Italia menuntaskan misinya dengan cara paling elegan—mendominasi penuh dan memusnahkan harapan Israel. Dua gol Mateo Retegui dan satu tambahan dari Gianluca Mancini membuat skor akhir 3-0. Kemenangan itu menempatkan Italia di peringkat kedua klasemen dengan 15 poin, tertinggal tiga dari Norwegia. Israel, dengan 9 poin, resmi tersingkir. Mimpi yang retak, sekaligus realitas pahit bagi tim yang tak lagi punya kesempatan.
Inilah wajah sepak bola modern—dingin, efisien, dan tanpa belas kasih. Israel datang dengan semangat, tapi pulang dengan beban sejarah. Italia tak memberi ruang bagi sentimentalitas; bagi mereka, yang lemah hanya akan ditinggalkan. Dunia boleh berbicara soal sportivitas, tapi di lapangan hijau, hasil selalu menjadi hukum tertinggi.
Di Grup K, Serbia melibas Andorra 3-1 lewat kombinasi striker tajam dan permainan disiplin. Aleksandar Mitrovic menutup pesta lewat penalti di menit ke-77, memastikan Serbia tetap dalam jalur aman. Sementara itu, Inggris kembali menunjukkan supremasi di Eropa Timur. The Three Lions menghancurkan Latvia 5-0 — sebuah pesta yang mencerminkan kedalaman skuad dan mental juara yang tak luntur.
“Gol-gol Inggris datang bertubi-tubi: dari Gordon, Harry Kane (dua gol), bunuh diri Tonisevs, hingga Eberechi Eze di menit 86. Inggris kini memimpin klasemen dengan keunggulan tujuh poin dari Albania. Dengan dua laga tersisa, tiket mereka sudah dikantongi. Sebuah hasil yang tak mengejutkan, tapi tetap mengesankan.”
Jika Inggris melaju dengan penuh percaya diri, Portugal justru masih dihantui bayangan. Tekanan publik, ambisi Ronaldo, dan ekspektasi tinggi membuat tim ini seperti kapal besar yang berlayar di badai. Hanya satu kesalahan kecil yang bisa menenggelamkannya.
Bagi Italia, kemenangan atas Israel bukan sekadar poin — itu simbol kebangkitan. Setelah gagal di Piala Dunia 2018 dan tampil mengecewakan di Euro 2024, publik Italia menuntut harga diri dikembalikan. Kemenangan 3-0 bukan hanya menyingkirkan Israel, tapi juga menegaskan pesan bahwa Gli Azzurri telah pulih dari luka lamanya.
Spanyol, Turkiye, Italia, Inggris, dan Serbia kini menapaki jalan menuju Piala Dunia dengan keyakinan baru. Sementara Portugal dan Hungaria masih menunggu takdir. Tapi bagi Israel, waktu sudah berhenti. Mereka tak akan ikut ke pesta sepak bola dunia kali ini.
Kegagalan itu menyakitkan, lebih dari sekadar angka di klasemen. Itu tentang mimpi yang dibangun bertahun-tahun, kini sirna dalam 90 menit yang tak berpihak. Dalam dunia sepak bola, kemenangan adalah segalanya, dan yang kalah tak lebih dari catatan kaki dalam sejarah yang dingin.
Namun, begitulah wajah kompetisi sejati: tanpa kompromi. Piala Dunia hanya memberi tempat bagi yang terbaik. Dan malam itu, di Roma, Israel belajar dengan cara paling keras — bahwa sepak bola, seperti hidup, tak pernah memberi belas kasihan pada mereka yang ragu.



















