Daerah  

Helmy Yahya dan Willie Salim: Polemik Rendang 200 Kg di Palembang yang Menggegerkan Publik

Helmy Yahya kritik Willie Salim soal rendang 200 kg hilang di Palembang, minta segera minta maaf dan jaga kreativitas tanpa menyakiti.

aspirasimediarakyat.com – Presenter kawakan, Helmy Yahya, ikut bersuara lantang terkait kontroversi yang melibatkan konten kreator Willie Salim atas insiden “hilangnya” 200 kilogram rendang saat acara memasak di Benteng Kuto Besak (BKB), Palembang. Melalui akun Instagram pribadinya, @helmyyahya, Helmy menyampaikan kritik pedas sekaligus pesan tegas kepada Willie. Ia meminta sang kreator untuk segera meminta maaf atas kegaduhan yang timbul.

Dalam unggahannya, Helmy Yahya mengaku mendapat banyak permintaan dari masyarakat Palembang untuk memberikan tanggapan atas peristiwa viral tersebut. Menurutnya, kabar mengenai hilangnya rendang tidak hanya menciptakan kegaduhan, tetapi juga merusak citra warga Palembang. Sebagai putra daerah, Helmy merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menanggapi isu ini. “Enggak begitu caranya cari viewer dan cari uang, Boy! Kreativitas tidak harus menyakiti banyak orang,” ujar Helmy dengan nada menohok.

Helmy juga mengungkap sejumlah kejanggalan terkait peristiwa tersebut. Salah satu hal yang disorotnya adalah mengapa daging rendang ditinggalkan begitu saja dalam kerumunan warga tanpa pengawasan memadai. Ia pun mengingatkan Willie bahwa tindakan kreatif untuk konten harus dilakukan dengan cara yang tepat, tanpa merugikan pihak lain. Helmy bahkan menyebut aksi semacam ini sebagai langkah yang kurang bijak dan tidak mencerminkan rasa hormat kepada budaya setempat.

Willie Salim dan Perjalanan Menuai Kontroversi

Willie Salim, yang dikenal melalui konten-konten sosialnya, sempat mendapatkan simpati besar dari masyarakat Palembang setelah membantu seorang kurir paket bernama Yoga. Yoga, yang kehilangan motor dan harus mengganti 138 paket pesanan yang ikut hilang, menerima bantuan langsung dari Willie berupa uang tunai untuk membeli kendaraan baru. Tindakan ini memicu apresiasi luas dan memperkuat citra positif Willie sebagai kreator yang peduli terhadap masyarakat.

Namun, citra positif tersebut seketika terguncang setelah aksi memasak rendang besar-besaran di BKB Palembang menjadi bahan kontroversi. Pada Selasa (18/3/2025), Willie mengadakan acara memasak rendang satu ekor sapi di pelataran ikonik tersebut. Acara yang awalnya bertujuan untuk membagikan makanan kepada warga sekitar itu berubah menjadi polemik setelah daging rendang yang tengah dimasak diklaim “hilang” sebelum matang.

Willie menyebut bahwa kejadian tersebut tidak direkayasa dan bukan salah warga Palembang. Namun, unggahan video insiden tersebut memicu tudingan dari warganet yang menganggap aksi itu hanyalah settingan untuk menarik perhatian. Kritik yang muncul tidak hanya datang dari netizen, tetapi juga dari tokoh masyarakat Palembang.

Reaksi Tokoh Lokal dan Wali Kota Palembang

Ketua Umum Perkumpulan Zuriat Masagus-Masayu Palembang Darussalam (PZMMPD), Masagus Syaiful Padli, turut angkat bicara mengenai kontroversi ini. Ia mengecam tindakan Willie dan menyatakan bahwa video tersebut mencoreng nama baik warga Palembang. “Kami meminta Willie Salim segera mengklarifikasi kontennya yang telah merusak nama dan marwah orang Palembang,” tegasnya.

Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, juga meminta Willie memberikan klarifikasi. Menurutnya, insiden ini telah menimbulkan persepsi negatif yang seharusnya dapat dihindari. “Kami minta yang bersangkutan untuk tabayun dengan kondisi yang ada dan yang sebenarnya terjadi,” ujar Ratu Dewa. Ia juga berharap agar peristiwa semacam ini tidak lagi terulang di kemudian hari.

Baca Juga :  DPW Gencar Sumsel Laporkan Kreator Konten Willie Salim ke Polda Sumsel

Willie Salim Mengklarifikasi

Setelah mendapatkan banyak tekanan, Willie akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui akun Instagramnya. Dalam video klarifikasinya, Willie mengakui bahwa insiden tersebut terjadi karena kurangnya persiapan dan pengawasan dari pihaknya. Ia membantah bahwa kejadian ini sengaja dirancang untuk menciptakan kontroversi. “Aku tidak merekayasa hal itu, aku hanya tidak menyangka dan tidak memperhitungkan bahwa hal ini bisa terjadi. Itu adalah kebodohanku,” ungkapnya.

Willie juga meminta netizen untuk tidak menyalahkan warga Palembang atas insiden tersebut. Ia menegaskan bahwa hilangnya daging rendang adalah murni kesalahannya karena gagal mengantisipasi kemungkinan seperti itu. “Mohon jangan salahkan warga Palembang,” katanya.

Antusiasme yang Berujung Polemik

Willie mengaku ingin memberikan pengalaman berbuka puasa yang berkesan bagi warga Palembang. Namun, tanpa diduga, daging rendang yang belum matang sudah habis diambil oleh warga yang antusias. Aksi tersebut menuai pro dan kontra, dengan banyak pihak menyebutnya sebagai tindakan ceroboh yang mencoreng nama baik masyarakat setempat.

Video klarifikasi Willie tidak sepenuhnya meredakan amarah publik. Beberapa tokoh budaya dan masyarakat setempat tetap merasa tersinggung atas narasi yang berkembang dari video tersebut. Meski begitu, ada pula yang menerima permintaan maaf Willie sebagai bentuk tanggung jawab.

Pelajaran bagi Konten Kreator

Kisah ini menjadi pelajaran penting bagi kreator konten untuk lebih bijaksana dalam merancang ide-ide kreatif mereka. Konten yang bertujuan baik sekalipun dapat menimbulkan dampak negatif jika tidak dieksekusi dengan hati-hati. Willie Salim, yang sebelumnya dikenal lewat aksi sosialnya, harus menghadapi kritik yang mengingatkan bahwa popularitas harus diraih dengan cara yang bermartabat dan tidak merugikan pihak lain.

Kontroversi ini sekaligus menjadi pengingat bagi masyarakat tentang pentingnya menjaga etika dalam dunia digital. Benteng Kuto Besak, sebagai simbol budaya dan sejarah Palembang, seharusnya dijaga marwahnya. Kejadian ini membuka ruang diskusi lebih luas tentang bagaimana kita semua, baik kreator maupun masyarakat, dapat berkolaborasi untuk melestarikan nilai-nilai budaya tanpa mencederai kehormatan kolektif.


 

Banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *