“Dana Asing Kabur, Garong Berdasi Tetap Kenyang di Atas Derita Pasar Saham”

IHSG memang kinclong, naik 0,64% ke level 7.747,9 pada Kamis (11/9/2025) dan menguat 9,44% sepanjang tahun. Namun di balik gemerlap itu, dana asing justru kabur dengan net sell harian Rp192,43 miliar—ironi pasar yang ditinggal pemilik modal.

Aspirasimediarakyat.comPasar saham Indonesia kembali dirundung ironi. Di atas kertas, indeks harga saham gabungan (IHSG) tampak kinclong, berkilau bak kaca jendela istana. Namun di balik gemerlap angka, ada cerita getir: dana asing terus kabur, meninggalkan pasar kita seperti ladang yang ditinggal pemilik modal.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG memang tercatat menguat 0,64% ke level 7.747,9 pada perdagangan Kamis (11/9/2025). Sepanjang tahun berjalan, penguatan bahkan mencapai 9,44%. Seolah-olah bursa masih segar bugar. Tetapi kenyataan di balik itu jauh lebih kelam: net sell asing pada hari itu saja tembus Rp192,43 miliar.

Sepanjang 2025, aliran dana asing yang keluar sudah mencapai Rp61,69 triliun. Angka ini bukan main-main. Seperti aliran darah yang dikuras tanpa henti, pasar Indonesia dipaksa bertahan dengan nafas pendek. Investor asing pergi, sementara rakyat dipaksa percaya bahwa ekonomi negeri masih tegak berdiri.

Equity Research Analyst Panin Sekuritas, Felix Darmawan, berusaha memberi penjelasan. Menurutnya, kekuatan investor domestik yang kini mendominasi lebih dari 60% transaksi memang jadi penyangga IHSG. Mereka inilah yang berusaha menutup lubang besar ditinggal para pemodal asing.

“Namun faktanya, pernyataan itu tak ubahnya plester pada luka dalam. Sentimen global, arah pergerakan dana asing, tetap jadi kunci volatilitas pasar. Apa artinya jika rakyat kecil justru dipaksa menanggung gejolak harga yang dipicu arus modal yang pergi seenaknya? Lagi-lagi, mereka yang kenyang bukan rakyat, melainkan setan keparat yang nyaman mengatur aliran modal dari balik meja empuk.”

Pengamat Pasar Modal Indonesia, Reydi Octa, bahkan lebih gamblang menyebutkan bahwa arus keluar dana asing akan membuat saham sulit pulih. Tekanan pada likuiditas semakin besar, terutama pada saham-saham blue chip—milik korporasi raksasa yang selama ini jadi santapan utama investor asing.

Ketika dana asing hengkang, saham-saham big caps itu pun tertekan. Harga saham yang dulu jadi kebanggaan negeri kini ibarat tubuh yang diperas habis-habisan. Sementara garong berdasi tetap bersorak, seolah semua baik-baik saja, padahal pasar dalam kondisi sesak nafas.

Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, menegaskan dampaknya bisa sangat signifikan. IHSG, yang hari ini tampak gagah, sewaktu-waktu bisa terjun bebas. Sentimen negatif akan cepat menyebar, mendorong investor untuk lari ke instrumen defensif. Lagi-lagi rakyat jadi korban, karena gejolak pasar ujung-ujungnya menekan daya beli dan kestabilan harga kebutuhan pokok.

Lebih parah lagi, dampak outflow ini juga menyerang nilai tukar rupiah. Setiap lembar rupiah bisa terjun nilainya, dan Bank Indonesia dipaksa menguras cadangan devisa untuk intervensi. Seperti orang yang ditindih hutang, bangsa ini terus dipaksa mencari oksigen di tengah himpitan modal yang pergi tanpa ampun.

Dan jika tren ini terus berlanjut, kita bukan hanya bicara pasar saham yang goyah. Kita sedang menyaksikan jurang ekonomi yang menganga, sementara maling kelas kakap di kursi empuk tetap menimbun harta haramnya. Mereka tak peduli apakah nelayan harus menjual ikan lebih murah, atau buruh pabrik tak lagi mampu membeli beras.

Inilah wajah pasar yang sesungguhnya: benderang di papan ticker, tapi keropos di dalam. Dana asing kabur, dan negeri dipaksa hidup dengan sandaran rapuh. Sementara itu, para pengumpul harta haram hidup dalam pesta pora, menertawakan rakyat yang semakin tercekik.

Kontras ini tak bisa lagi ditutupi jargon-jargon indah. Rakyat lapar, inflasi mengintai, rupiah goyah. Tapi segelintir elit tetap berenang di kolam penuh emas, menari di atas penderitaan yang mereka ciptakan.

Setiap net sell asing adalah pukulan keras. Dan setiap pukulan itu tak hanya menimpa grafik IHSG, tapi juga meja makan keluarga miskin di kampung-kampung. Perampok uang rakyat berdasi seolah menikmati tontonan ini, sembari meneguk kopi mahal dari balik jendela kaca gedung tinggi.

Apakah negeri ini akan terus membiarkan modal asing pergi seenaknya, tanpa perlindungan bagi pasar domestik? Apakah kita akan terus menjadi penonton yang dipaksa aplaud, sementara garong berdasi mencaplok semua yang tersisa?

Rakyat berhak marah, karena dampak dari kaburnya dana asing tak lain adalah runtuhnya harapan mereka akan harga pangan murah, biaya hidup yang stabil, dan pekerjaan yang layak. Semua ini tergerus, sementara elite tetap menggenggam privilese.

Narasi resmi boleh saja mengatakan IHSG masih hijau. Tetapi hijau itu penuh darah rakyat yang terus diperas. Inilah potret negeri yang dipaksa tampak sehat, padahal sekarat.

Dan pada akhirnya, berita ini bukan hanya laporan angka. Ini adalah jeritan rakyat yang semakin kering, sementara setan keparat yang merampok uang negara terus berpesta.


Baca Juga :  "Sri Mulyani Tegaskan Optimalisasi Pajak Tanpa Tarif Baru di RAPBN 2026"
Banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *