Aspirasimediarakyat.com, Jakarta — Gelap yang sempat menyelimuti sebagian wilayah Sumatera pada Jumat malam bukan sekadar gangguan teknis kelistrikan biasa, melainkan alarm serius bagi ketahanan infrastruktur publik nasional, terutama sektor transportasi udara yang dituntut tetap hidup, sigap, dan presisi meski berada di tengah tekanan sistemik, sebab bagi masyarakat modern, bandara bukan sekadar tempat pesawat lepas landas dan mendarat, melainkan nadi konektivitas yang tak boleh berhenti berdetak walau listrik sempat padam serentak.
Gangguan listrik massal yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada Jumat (22/5) malam langsung memantik perhatian publik. Dalam hitungan menit, kekhawatiran merebak—apakah lumpuhnya aliran listrik akan menjalar ke fasilitas vital, termasuk bandara-bandara utama di pulau tersebut.
Namun kekhawatiran itu coba diredam oleh PT Angkasa Pura Indonesia atau InJourney Airports. Operator bandara pelat merah itu memastikan seluruh operasional bandar udara yang mereka kelola tetap berjalan normal.
Regional CEO III InJourney Airports, Dwi Ananda Wicaksana, menegaskan bahwa seluruh bandara di wilayah Sumatera berada dalam kondisi siaga penuh, meskipun sebagian besar penerbangan malam sudah berada di luar jam operasional.
Pernyataan itu penting. Sebab, dalam sistem penerbangan modern, padam listrik bukan hanya soal lampu yang mati. Ia menyangkut radar, navigasi, komunikasi, keamanan terminal, hingga keselamatan penerbangan yang tak boleh mengalami jeda.
“Malam ini walaupun seluruh bandara sudah berada di luar jam operasi namun tetap siaga,” kata Dwi dalam keterangan resminya, menegaskan bahwa protokol darurat langsung dijalankan sejak gangguan mulai terjadi.
InJourney menyebut sebagian besar bandara di Sumatera berhasil memperoleh suplai listrik kembali dari PLN dalam waktu relatif cepat. Hal ini menjadi indikator bahwa sistem respons darurat berjalan efektif.
Bandara yang telah mendapatkan suplai normal per pukul 21.30 WIB antara lain Bandar Udara Sultan Thaha, Depati Amir, Sultan Mahmud Badaruddin II, Radin Inten II, Raja Haji Fisabilillah, H.A.S. Hanandjoeddin, Fatmawati Soekarno, dan Bandara Internasional Minangkabau.
Nama Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang menjadi sorotan tersendiri. Sebagai salah satu bandara tersibuk di Sumatera Selatan, stabilitas listrik di bandara ini menjadi penopang penting mobilitas regional.
Sementara itu, tidak semua bandara langsung pulih. Bandar Udara Sultan Iskandar Muda, Sultan Syarif Kasim II, dan Sisingamangaraja XII masih mengandalkan dukungan genset untuk menjaga sistem tetap hidup.
“Di sinilah arti kesiapsiagaan diuji—bukan dengan kata, melainkan dengan perangkat cadangan, prosedur teknis, dan disiplin personel di lapangan yang bekerja bahkan saat publik belum mengetahui skala gangguan sebenarnya.”
Di sisi lain, PT PLN (Persero) menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas blackout yang sempat meluas di sejumlah provinsi di Sumatera.
Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PLN, Gregorius Adi Trianto, menjelaskan gangguan berasal dari jaringan transmisi 275 kV Muara Bungo–Sungai Rumbai di Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi.
Menurut hasil penelusuran sementara, gangguan tersebut dipicu cuaca buruk yang menghantam kawasan tersebut, menyebabkan sistem transmisi terganggu dan menjalar ke sejumlah wilayah.
Pernyataan itu menegaskan bahwa infrastruktur energi nasional masih sangat rentan terhadap faktor alam. Sebuah kenyataan yang semestinya mendorong evaluasi lebih serius terhadap sistem mitigasi nasional.
PLN menyebut tim teknis telah berhasil mengatasi gangguan utama dan kini fokus mempercepat pemulihan sistem pembangkit secara bertahap agar pasokan kembali normal sepenuhnya.
Dalam konteks pelayanan publik, respons cepat semacam ini bukan sekadar kewajiban teknis, melainkan kontrak moral antara negara dan masyarakat: bahwa layanan dasar tak boleh dibiarkan tumbang terlalu lama.
Bagi dunia penerbangan, keberhasilan menjaga operasional bandara di tengah blackout menjadi pelajaran penting tentang arti redundansi sistem. Genset bukan sekadar mesin cadangan, melainkan pagar terakhir yang menjaga kepercayaan publik.
Insiden ini juga menunjukkan bahwa modernitas infrastruktur tidak hanya diukur dari megahnya bangunan terminal atau panjangnya landasan pacu, tetapi dari kemampuan bertahan menghadapi gangguan mendadak tanpa menimbulkan kekacauan massal.
Masyarakat tentu berharap blackout Sumatera ini tidak berhenti sebagai catatan gangguan sesaat. Ia harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh—agar energi, transportasi, dan pelayanan publik nasional benar-benar dibangun dengan filosofi ketahanan, sebab rakyat tidak membutuhkan janji tentang kesiapan; rakyat membutuhkan bukti bahwa negara selalu hadir, bahkan saat lampu mendadak padam dan gelap mencoba mengambil alih ruang hidup bersama.
Editor: Kalturo




















