“Ketika Brankas Bank Jadi Surga Lintah Uang, Dompet Rakyat Jelata Kian Kempis”

Rakyat kecil jungkir balik cari nasi, sementara OJK pamer simpanan bank tembus Rp9.294 triliun. Angka naik 7,7 persen, tapi jurang makin lebar: si miskin makin terhimpit, serigala berdasi makin kenyang.

Aspirasimediarakyat.comDi tengah rakyat kecil yang masih jungkir balik mencari sesuap nasi, angka-angka fantastis kembali diumbar. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan bangga melaporkan simpanan masyarakat di perbankan menembus Rp9.294 triliun per Juli 2025. Tumbuh 7,7 persen dari tahun sebelumnya. Namun di balik angka mentereng ini, sesungguhnya ada jurang dalam yang makin melebar: rakyat miskin makin miskin, sementara kelompok serigala berdasi makin kenyang.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyebut pertumbuhan ini sebagai bukti penghimpunan dana masyarakat yang kuat. Tapi rakyat bertanya-tanya: dana masyarakat yang mana? Sebab bagi mereka yang uangnya hanya secuil, tabungan kecil tetap seret. Laporan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) bahkan menguak, simpanan rakyat di bawah Rp100 juta hanya tumbuh 4,76 persen. Artinya, yang gemuk bukan dompet rakyat jelata, melainkan brankas para pengumpul harta haram.

Rasio-rasio likuiditas dan modal perbankan juga dipamerkan: LCR 205 persen, CAR 25 persen, ALDPK 27 persen. Semua jauh di atas ambang batas. Tapi apa arti angka-angka itu bagi tukang ojek yang nunggak cicilan motor, atau ibu rumah tangga yang bingung beli beras? Bagi mereka, semua jargon keuangan itu hanya bahasa setan keparat yang sedang berpesta pora di atas penderitaan rakyat.

“Data LPS makin menohok. Simpanan di atas Rp5 miliar justru tumbuh lebih kencang, mencapai 9,45 persen per Juli 2025. Di tengah rakyat jelata mengais remah, para garong berdasi malah menimbun uang miliaran. Uang itu tidak diputar untuk membuka lapangan kerja, melainkan dibiarkan tidur nyenyak di bank, jadi benteng emas bagi kaum berduit yang sudah kekenyangan”.

Ketua Dewan Komisioner LPS, Purbaya Yudhi Sadewa, mencoba menutupi luka dengan alasan bahwa perusahaan-perusahaan sedang menyiapkan ekspansi. Alasan klise. Rakyat sudah kenyang mendengar dalih manis semacam itu. Faktanya, rakyat kecil tetap merasakan dompet kempis, sementara setan kapitalis menambah gembok di brankas mereka.

OJK dan LPS bisa saja menepuk dada bahwa pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) kembali ke jalur normal, 6–7 persen setahun. Tapi normal bagi siapa? Normal bagi maling kelas kakap yang menjadikan bank sebagai tempat parkir kekayaan, bukan bagi pedagang kaki lima yang bahkan kesulitan membuka rekening karena saldo minim.

Sementara itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) juga ikut pamer angka. Jumlah investor pasar modal menembus 18 juta. Kapitalisasi pasar tembus Rp13.697 triliun. IHSG tumbuh 6,41 persen. Angka-angka yang disanjung seperti berhala ini hanya membuktikan satu hal: kaum elit masih bisa berdansa di lantai marmer bursa, sementara rakyat miskin tetap terperangkap di lantai tanah yang becek.

Direktur Utama BEI, Iman Rachman, dengan bangga menyebut market cap Indonesia sudah masuk urutan ke-17 dunia. Tapi ranking ini sama sekali tidak berarti bagi rakyat yang antri minyak goreng, atau petani yang harga gabahnya ditekan. Apa artinya urutan global kalau anak-anak di pelosok masih sekolah pakai papan reyot?

Para penguasa pasar modal menyebut pencapaian ini sebagai tanda optimisme. Optimisme siapa? Bukan optimisme rakyat kecil yang justru makin pesimis karena merasa uangnya hanya jadi bahan bancakan maling berdasi. Yang optimis hanyalah mereka yang sudah mapan, yang bisa bermain-main dengan saham sambil menyeruput kopi di kafe mewah.

Lebih ironis lagi, BEI bangga menyebut adanya 3,1 juta investor baru di tahun 2025. Tapi kebanyakan adalah investor ritel kecil yang dipaksa berjudi di meja kasino pasar modal. Sementara pemain besar dengan modal raksasa bebas menggoreng saham, mempermainkan harga, dan menguras keringat rakyat yang terjebak euforia.

Sampai 8 Agustus 2025, BEI berhasil mencatatkan 22 saham baru, 116 obligasi, dan 288 structured warrant. Lagi-lagi parade angka yang membuat setan keparat di ruang bursa tertawa puas. Tapi bagi rakyat kecil, angka itu hanya seperti kembang api di langit: indah sesaat, lalu lenyap, meninggalkan asap yang menyesakkan dada.

Rakyat miskin yang menyimpan tabungan di bawah Rp100 juta masih terjepit. Pertumbuhan mereka di bawah 5 persen hanyalah bukti betapa sulitnya mereka bertahan hidup. Sementara garong berdasi dengan tabungan miliaran justru melonjak dua kali lipat lebih kencang. Inilah wajah asli ketidakadilan yang dipoles dengan statistik indah.

Data demi data sebenarnya adalah jeritan yang tersamar. Jeritan bahwa perbankan dan pasar modal Indonesia bukan lagi tempat rakyat menitipkan harapan, melainkan arena perampok uang rakyat bermain bilyar dengan bola emas. Mereka yang miskin hanya jadi penonton yang tak pernah kebagian remah.

Semua lembaga keuangan ini tampak gagah memamerkan laporan. Tapi sesungguhnya, mereka hanya menutup rapat-rapat bau anyir ketidakadilan. Mereka menyanjung pertumbuhan, tapi lupa bahwa di balik pertumbuhan ada rakyat yang menjerit lapar.

Ketika bank menjadi surga bagi pengumpul harta haram, dan bursa jadi panggung tarian setan kapitalis, maka keadilan ekonomi hanya tinggal mimpi. Sementara rakyat kecil tetap saja jadi sapi perah yang diperas habis-habisan.

Inilah wajah ekonomi kita: para maling kelas kakap menimbun kekayaan di brankas-bank, sementara rakyat kecil menunggu belas kasihan yang tak pernah datang. Negara seolah rela menjadi pelayan bagi kaum kaya, meninggalkan rakyat jelata di jurang penderitaan.

Pertanyaan yang harus dijawab: sampai kapan rakyat hanya jadi korban bancakan para garong berdasi? Sampai kapan tabungan mereka yang recehan terus diperas bunga, sementara simpanan miliaran dibiarkan beranak pinak?


Baca Juga :  "Airlangga Hartarto Dorong UMKM Terlibat dalam Distribusi Beras SPHP"
Banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *