“Buku “Menggugat Republik” Picu Gelombang Protes Mahasiswa ITB, Kampus Dipertanyakan”

Peluncuran buku Menggugat Republik di ITB memicu protes puluhan mahasiswa yang menilai kegiatan tersebut berpotensi mempolitisasi kampus. Aksi ini menghadirkan perdebatan mengenai batas antara ruang akademik dan dinamika politik nasional, sekaligus menegaskan posisi mahasiswa sebagai penjaga independensi intelektual di lingkungan perguruan tinggi.

Aspirasimediarakyat.com — Peluncuran buku “Menggugat Republik (Politik, Keadilan Sosial, dan Kemandirian Bangsa)” karya aktivis sekaligus politisi Syahganda Nainggolan di Aula Barat Institut Teknologi Bandung berubah menjadi panggung perdebatan terbuka ketika puluhan mahasiswa ITB memasuki ruangan acara dan menyampaikan protes terhadap kegiatan tersebut, sebuah peristiwa yang memperlihatkan ketegangan antara ruang akademik dan dinamika politik nasional yang belakangan kian sering bersinggungan di lingkungan perguruan tinggi.

Kegiatan yang semula dirancang sebagai forum diskusi intelektual itu mendadak berubah atmosfer ketika mahasiswa dari berbagai jurusan datang mengenakan almamater masing-masing dan menyuarakan kritik secara langsung terhadap penyelenggaraan acara tersebut.

Suasana ruang diskusi yang sebelumnya tenang berubah menjadi riuh. Para mahasiswa berdiri dan meneriakkan protes, sementara moderator acara berulang kali mencoba menenangkan situasi agar diskusi tetap berlangsung dengan tertib.

Pihak keamanan kampus terlihat berupaya mengendalikan situasi, namun arus massa mahasiswa yang memasuki ruangan membuat pengamanan tidak mampu membendung jalannya aksi protes tersebut.

Beberapa saat kemudian, panitia acara akhirnya memberikan kesempatan kepada salah satu mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi secara langsung di depan para tamu undangan serta para narasumber yang hadir dalam peluncuran buku itu.

Baca Juga :  "Silaturahmi Menteri Kabinet Merah Putih ke Jokowi Picu Isu 'Matahari Kembar'""

Baca Juga :  Veronica Tan Banjir Pujian, Disebut Bak Artis Korea Pakai Seragam Loreng Kala Pembekalan Kabinet

Baca Juga :  Empat LSM Sumatera Selatan Desak Bawaslu Diskualifikasi dan Tindak Tegas Dugaan Money Politik dalam Pemilihan Gubernur 2024

Mahasiswa yang mewakili kelompoknya menyampaikan bahwa mereka merasa kecewa terhadap penyelenggaraan acara tersebut karena dianggap berpotensi membawa kepentingan politik ke dalam ruang akademik yang seharusnya dijaga independensinya.

“Kami mengutarakan kekecewaan. Pada forum ini diundang tertutup, identitas dicatut, dan KM ITB, gagasan intelektual kami,” ujar salah seorang mahasiswa saat menyampaikan aspirasinya di hadapan forum diskusi pada Kamis.

Para mahasiswa juga menilai kampus tidak seharusnya menjadi arena bagi kegiatan yang mereka anggap berpotensi mempolitisasi ruang akademik, terutama ketika kegiatan tersebut menghadirkan tokoh-tokoh yang memiliki posisi strategis dalam pemerintahan.

“Kami dari KM ITB dan mahasiswa ITB menyatakan kami menolak seluruh politisasi kampus-kampus di Indonesia oleh pemerintah. Kami menuntut hak untuk menjaga ruang intelektual kampus,” ujar perwakilan mahasiswa tersebut.

Bagi kalangan mahasiswa, kampus merupakan ruang berpikir bebas yang dibangun atas dasar tradisi akademik, penelitian ilmiah, serta diskursus intelektual yang terbuka, bukan arena legitimasi bagi kepentingan politik praktis yang dapat mengaburkan independensi ilmu pengetahuan.

Ketika ruang akademik mulai terasa seperti panggung kekuasaan, maka pertanyaan tentang kebebasan berpikir menjadi tak terhindarkan: apakah kampus masih berdiri sebagai benteng intelektual yang independen, atau perlahan berubah menjadi panggung retorika yang ditarik oleh kepentingan politik yang lebih luas.

Fenomena semacam ini memunculkan kegelisahan publik yang lebih luas, karena universitas selama ini dikenal sebagai ruang dialektika gagasan yang bebas dari tekanan kekuasaan. Jika ruang itu tercemar oleh kepentingan politik, maka nilai akademik yang selama ini dijaga dapat mengalami erosi.

“Ruang ilmu pengetahuan semestinya tidak dijadikan arena yang tercemar oleh kepentingan sempit kekuasaan; ketika kepentingan politik mencoba menunggangi institusi akademik, publik berhak bersuara keras agar marwah ilmu pengetahuan tidak diperdagangkan di altar kekuasaan.”

Setelah aksi protes berlangsung, sejumlah jurnalis mencoba mengonfirmasi kepada perwakilan mahasiswa yang mengatasnamakan Keluarga Mahasiswa ITB mengenai tuntutan lebih lanjut dari aksi tersebut.

Namun perwakilan mahasiswa itu memilih tidak memberikan penjelasan rinci mengenai tuntutan mereka dan hanya menegaskan bahwa gerakan tersebut dilakukan secara kolektif.

“Kami bergerak secara kolektif,” kata perwakilan mahasiswa tersebut ketika dimintai penjelasan lebih lanjut oleh wartawan setelah kegiatan berlangsung.

Dalam peluncuran buku tersebut, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad hadir sebagai keynote speaker. Acara itu juga dihadiri sejumlah tokoh nasional seperti Menteri Ketenagakerjaan Yassierli, Menteri Koperasi Ferry Juliantono, serta Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto.

Selain itu hadir pula Rektor ITB Tatacipta Dirgantara, Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian, Ketua Komisi XI DPR RI Misbakhun, serta Ketua Umum KSPSI Jumhur Hidayat yang turut mengikuti diskusi dalam peluncuran buku tersebut.

Baca Juga :  "Dana MBG Rp223 Triliun Dipersoalkan, Anggaran Pendidikan Disorot Tajam"

Baca Juga :  "RAPBN 2026 Disahkan, Bansos Dikorbankan di Tengah Pesta Koruptor"

Baca Juga :  "Gibran dan Bayang-Bayang Kekuasaan Lama di Kabinet Prabowo"

Buku yang ditulis oleh Syahganda Nainggolan itu mengangkat berbagai isu strategis mengenai arah masa depan Indonesia, mulai dari dinamika demokrasi, kondisi ekonomi nasional, hingga tantangan geopolitik global yang dihadapi negara.

Syahganda menjelaskan bahwa sekitar 30 persen isi buku tersebut membahas konsep yang ia sebut sebagai “Prabowonomics”, yakni pandangan mengenai strategi kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dalam menghadapi tekanan ekonomi serta perubahan geopolitik dunia.

“Buku ini saya tulis karena saya yakin Pak Presiden Prabowo adalah orang yang tepat memimpin republik di saat krisis seperti sekarang,” ujar Syahganda saat menjelaskan latar belakang penulisan bukunya.

Sementara itu, Sufmi Dasco Ahmad menilai buku tersebut tidak semata membahas aspek ekonomi, tetapi juga memuat refleksi mengenai demokrasi, kritik yang konstruktif terhadap kebijakan negara, serta pentingnya menjaga persatuan nasional dalam menghadapi tantangan global.

Kampus adalah ruang tempat gagasan diuji secara kritis, bukan ruang yang dibungkam oleh kepentingan; publik berhak mengingatkan bahwa republik ini dibangun oleh pikiran merdeka, bukan oleh ketakutan terhadap perbedaan pandangan. Peristiwa di ITB memperlihatkan bagaimana ruang akademik tetap hidup sebagai arena perdebatan, tempat suara mahasiswa hadir sebagai bagian dari pengawasan publik terhadap relasi antara kekuasaan, politik, dan dunia pendidikan.

Banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *