Fenomena ini memunculkan kembali perbincangan tentang dua magnet pengaruh dalam satu kabinet—Prabowo sebagai kepala negara aktif, sementara Jokowi sebagai mantan presiden yang tetap memiliki daya tarik politik dan kedekatan personal dengan sejumlah menteri. Kunjungan para menteri tidak hanya untuk bersilaturahmi, tetapi juga membahas program kementerian, bahkan meminta restu dan masukan dari Jokowi.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, dalam kunjungannya ke kediaman Jokowi di Solo pada Jumat (11/4/2025), menyebut Jokowi sebagai “bos.” “Silaturahmi sama bekas bos saya. Sekarang masih bos saya,” ujar Trenggono. Ia juga mengungkapkan bahwa Jokowi memberikan arahan terkait kemajuan dalam memimpin KKP.

Hal serupa disampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, yang menekankan bahwa kunjungannya adalah bentuk silaturahmi. “Pak Jokowi kan bosnya saya. Jadi, saya sama Ibu mau silaturahmi mohon maaf lahir dan batin. Juga minta doain supaya Pak Presiden dan Ibu sehat,” ungkap Budi.
Sebelumnya, Menteri Koperasi Budi Arie Setiadi juga telah berkunjung ke Solo pada libur Lebaran kedua, Selasa (1/4/2025). Dalam pertemuan tersebut, Budi berbincang mengenai program Koperasi Desa Merah Putih, yang bertujuan memberantas rentenir dan tengkulak di masyarakat desa. “Beliau sangat concern dengan kemajuan masyarakat desa,” jelas Budi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, bersama Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Wihaji, juga menemui Jokowi pada Selasa (8/4/2025) malam. Bahlil menyebut hubungannya dengan Jokowi seperti hubungan antara guru dan murid, yang telah terjalin sejak awal ia menjabat sebagai menteri dalam Kabinet Indonesia Maju.
Menko Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) turut mengunjungi Jokowi sehari setelahnya. Zulhas mengaku pertemuan tersebut adalah bentuk silaturahmi Lebaran, sekaligus membahas situasi ekonomi terkini. “Lebaran kan, saya kan menterinya bapak. Masa Lebaran saja saya enggak datang,” ujar Zulhas.
Namun, kunjungan para menteri ini memicu kekhawatiran akan munculnya kesan “matahari kembar” dalam pemerintahan Prabowo. Politikus PKS Mardani Ali Sera mengingatkan bahwa meskipun silaturahmi adalah hal yang baik, penting bagi jajaran kabinet untuk menjaga kewibawaan Presiden Prabowo sebagai pemimpin tertinggi. “Tidak boleh ada matahari kembar. Satu matahari saja berat, apalagi kalau dua,” kata Mardani.
Pengamat politik Adi Prayitno juga menilai pernyataan dua menteri yang menyebut Jokowi sebagai “bos” kurang elok. Menurutnya, kepala negara saat ini adalah Presiden Prabowo Subianto, bukan Jokowi. “Di mata publik, dinilai offset dan kurang elok karena presidennya adalah Pak Prabowo,” ujar Adi.
Adi menambahkan bahwa meskipun sah bagi para menteri untuk menyebut Jokowi sebagai “bos” sebagai bentuk terima kasih, pernyataan tersebut dapat memicu spekulasi publik tentang adanya “matahari kembar” dalam kabinet. “Mestinya hati-hati, pejabat publik itu statement-statementnya kerap dinilai oleh publik,” pungkasnya.
Dengan adanya kunjungan ini, penting bagi para menteri untuk menjaga keseimbangan antara menghormati mantan presiden dan menunjukkan loyalitas kepada presiden saat ini. Pemerintahan Prabowo diharapkan dapat terus berjalan dengan fokus dan tanpa gangguan persepsi publik yang dapat memengaruhi stabilitas politik.


















