Daerah  

Proyek Kolam Retensi Seroja Palembang Menimbulkan Gejolak, Warga Merasa Dirugikan

Ketua RW 7 dan RT 17 menyesalkan ulah kontraktor bahwa wilayah yang betul-betul terdampak malah tidak dilibatkan sama sekali, ujar mereka saat ditemuai awak media aspirasimediarakyat.com di lokasi pembangunan kolam retensi, Minggu, (24/11/2024).

aspirasimediarakyat.com– Dugaan tindakan sewenang-wenang tanpa melibatkan Ketua RW dan Ketua RT setempat dalam Pembangunan Kolam Retensi Seroja Palembang menimbulkan masalah dengan warga sekitar. Hal ini terlihat sejak awal hingga pelaksanaan proyek, di mana para Ketua RT yang terdampak tidak dilibatkan dalam koordinasi. Akibatnya, terjadi benturan dan masalah dengan warga sekitar proyek.

Warga yang tinggal di sekitar proyek, terutama di RT 17, mengeluhkan kurangnya koordinasi dan sosialisasi dari pihak kontraktor.

Ketua RW 7, Zaenal Arifin, menjelaskan bahwa pihak kontraktor tidak pernah melakukan sosialisasi, memberikan informasi, atau melakukan koordinasi serta assessment sebelum memulai pekerjaan. “Berkoordinasi di sini bukan berarti kami mau ikut bekerja, namun setidaknya kami tahu dan bisa memberikan arahan yang terbaik bagi warga sekitar. Kalau RT 18 tidak terdampak bila banjir, karena posisi daerah RT 18 itu di atas. Sementara RT 17 yang betul-betul terdampak malah tidak dilibatkan sama sekali,” ujar Zaenal Arifin saat ditemuai awak media aspirasimediarakyat.com di lokasi pembanguan  kolam retensi, Minggu, (24/11/2024).

Hal ini dibenarkan oleh Ketua RT 17, Sahlan. “Bila terjadi banjir, RT 17 yang paling terdampak. Sebagai contoh kemarin telah terjadi banjir akibat seluruh saluran tertutup oleh bekas galian kolam retensi yang dilakukan kontraktor yang bekerja tidak berkoordinasi dengan Ketua RT dan warga terdampak,” terang Sahlan.

Ketua RT 17, Sahlan, menambahkan bahwa beberapa hari yang lalu telah terjadi banjir akibat seluruh saluran tertutup oleh bekas galian kolam retensi. Hal ini disebabkan oleh kontraktor yang bekerja tanpa berkoordinasi dengan Ketua RT dan warga terdampak.

Yang lebih parahnya lagi, menurut Ketua RW 7 dan Ketua RT 17, bekas galian berupa lumpur dan sampah seharusnya dibuang atau diangkut keluar dari lokasi pembangunan kolam retensi, sesuai dengan kesepakatan warga. Namun, faktanya, bekas galian tersebut dibuang ke bagian belakang yang posisinya lebih tinggi dari pemukiman warga.

Awalnya, setelah diprotes oleh warga, hanya beberapa truk bekas galian yang diangkut keluar. Mungkin karena tidak ingin mengeluarkan biaya lebih, akhirnya bekas galian berupa lumpur dan sampah dibuang di belakang permukiman warga. Hal ini tidak hanya menyebabkan banjir, tetapi juga menimbulkan aroma tidak sedap dan mengganggu lingkungan sekitar.

Pembangunan Kolam Retensi Seroja dihentikan paksa oleh warga. Tampak kondisi proyek terhenti, eksavator terbenam dan lokasi kegiatan sedang amburadul sekali.

Sebagaimana diberitakan sebalumnya, menurut informasi dari masyarakat yang enggan disebut namanya, kegiatan tersebut dihentikan paksa oleh warga sekitar karena menyebabkan banjir, penumpukan sampah, banyaknya pipa PDAM yang putus, dan aroma busuk di lingkungan tersebut. Salah satu warga bahkan melepaskan tembakan ke atas karena kesal dengan situasi tersebut. Saat awak media aspirasimediarakyat.com turun ke lapangan, tampak jelas kondisi proyek terhenti, ekskavator terbenam, dan lokasi kegiatan terlihat amburadul sekali.

Baca Juga :  "Koalisi Ormas Kepung Kantor Walikota Palembang, Desak Walikota Hentikan Proyek Ruko Tanpa Izin"

Warga juga menyesalkan ketidakjelasan pekerjaan tersebut karena pihak kontraktor tidak memasang papan informasi kegiatan. Selama melaksanakan kegiatan, para pekerja kontraktor tidak menerapkan Standar Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMKK) atau menggunakan peralatan keselamatan kerja di lapangan, sehingga banyak yang menganggap kegiatan tersebut abu-abu atau tidak jelas.

Seluruh air limba warga sekitar lokasi tertutup. Hal yang wajar bila warga mengamuk dan bergejolak pada kegiatan proyek retensi ini.

Fakta Lapangan

Hasil investigasi yang dilakukan oleh media aspirasimediarakyat.com mengonfirmasi bahwa banyak saluran air yang menuju ke proyek tersebut tertutup oleh tanah galian retensi. Juga terungkap bahwa memang tidak ada papan nama pekerjaan di lokasi proyek. Padahal, dalam uraian pekerjaan disebutkan harus ada penyewaan gudang untuk penyimpanan peralatan, bahan, dan material termasuk Direksi Kit, serta papan nama pekerjaan.

Proyek Pembuatan Kolam Retensi Seroja ini berlokasi di Kelurahan 20 Ilir D III, Kecamatan Ilir Timur I, Kota Palembang, dan dikerjakan oleh CV. Alifia yang beralamat di Jalan DI Penjaitan, Lorong Pahlawan III, Nomor 62, RT. 20 RW 07, Kota Palembang. Kegiatan ini berada di bawah Satuan Kerja (Satker) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Palembang Tahun 2024, Sumber Dana APBDP Tahun 2024, dengan nilai kontrak sebesar Rp 994.994.551,- (Sembilan ratus sembilan puluh empat juta sembilan ratus sembilan puluh empat ribu lima ratus lima puluh satu rupiah).

Harapan Warga

Warga berharap pihak kontraktor dan pemerintah setempat segera menindaklanjuti permasalahan ini dengan melakukan koordinasi yang lebih baik, memasang papan informasi proyek, dan memastikan penerapan SMKK di lokasi pekerjaan. Mereka juga mengharapkan adanya solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan banjir dan dampak negatif lainnya yang ditimbulkan oleh proyek ini, terutama karena sekarang ini masih termasuk musim hujan dan daerah tersebut sangat rawan banjir.

Diharapkan dengan adanya perbaikan koordinasi dan transparansi dalam pelaksanaan proyek, masalah yang dialami warga dapat segera teratasi dan proyek Pembuatan Kolam Retensi Seroja dapat berjalan dengan baik serta memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.


 

Banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *