Daerah  

“Feby Deru: Optimalisasi PKK Harus Menyentuh Desa, Bukan Sekadar Administrasi Seremonial”

Menurut Hj. Feby Deru, optimalisasi PKK harus bergerak dari administrasi menuju aksi nyata di desa dan kelurahan. Pembinaan di Musi Banyuasin menegaskan bahwa 10 Program Pokok PKK bukan sekadar agenda organisasi, melainkan instrumen pemberdayaan keluarga yang harus hadir langsung menjawab kebutuhan sosial, ekonomi, kesehatan, dan pendidikan masyarakat.

Aspirasimediarakyat.com, Sekayu — Di tengah tuntutan agar pembangunan sosial tidak berhenti pada angka statistik dan laporan administratif semata, gerakan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) kembali ditegaskan sebagai salah satu instrumen penting pembangunan berbasis masyarakat, dengan Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Sumatera Selatan Hj. Feby Deru mendorong agar optimalisasi 10 Program Pokok PKK benar-benar bergerak dari ruang rapat menuju ruang hidup warga, dari dokumen menuju tindakan nyata di tingkat desa dan kelurahan.

Komitmen tersebut terlihat dalam kegiatan pembinaan dan evaluasi 10 Program Pokok PKK yang dilakukan Tim Penggerak PKK Provinsi Sumatera Selatan di Kabupaten Musi Banyuasin, diawali dengan kunjungan ke Sekretariat TP PKK Musi Banyuasin pada Rabu, 6 Mei 2026.

Kegiatan ini bukan sekadar agenda rutin organisasi perempuan terbesar di Indonesia. Lebih dari itu, ia menjadi ruang evaluasi terhadap sejauh mana program pemberdayaan keluarga benar-benar bekerja di tengah masyarakat.

Hj. Feby Deru hadir langsung dalam kegiatan tersebut sebagai bentuk penegasan bahwa pembangunan berbasis keluarga tidak dapat didelegasikan hanya melalui surat edaran atau instruksi administratif.

Dalam banyak kebijakan publik, keluarga selalu disebut sebagai fondasi pembangunan. Namun fondasi itu kerap diperlakukan seperti jargon, bukan prioritas. Di sinilah PKK seharusnya hadir sebagai jembatan antara kebijakan negara dan kebutuhan riil warga.

Feby Deru menegaskan bahwa PKK kabupaten dan kota harus menjadi contoh nyata, bukan hanya dalam pelaksanaan program, tetapi juga dalam membangun model pembinaan yang dapat direplikasi.

“PKK kabupaten/kota memang sudah seharusnya menjadi contoh. Namun jika ingin melakukan kaji banding, perlu ada desa atau kelurahan yang dijadikan sebagai lokus percontohan,” ujar Hj. Feby Deru.

Kunjungan Hj. Feby Deru ke Musi Banyuasin menegaskan bahwa gerakan PKK tidak boleh berhenti pada ruang administrasi. Dari pembinaan kader hingga dorongan pembentukan koperasi PKK, pesan utamanya jelas: pemberdayaan keluarga harus hadir nyata, menyentuh desa, menguatkan ekonomi rumah tangga, dan menjawab kebutuhan sosial masyarakat secara langsung.

Baca Juga :  Komisi III DPRD Palembang Soroti Permasalahan di Perumahan Kota Modern

Baca Juga :  "Sawit Ilegal Cigobang Membandel, Ancaman Aksi Massa Kian Nyata"

Baca Juga :  "Gubernur Sumsel Turun Tangan: Antrean BBM Mengular, Jalan Macet Berjam-jam dan Warga Protes Keras"

Pernyataan itu menyiratkan satu pesan penting: keberhasilan organisasi tidak cukup dinilai dari rapat yang tertib atau dokumen yang lengkap, melainkan dari keberadaan model nyata yang bisa dilihat, ditiru, dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Dalam kesempatan itu, Feby Deru juga mensosialisasikan hasil Rapat Kerja Nasional PKK Tahun 2025. Beberapa revisi kebijakan dan istilah baru diperkenalkan untuk memperkuat pemahaman para kader di seluruh tingkatan.

“Perubahan istilah mungkin terdengar administratif, namun di balik itu terdapat kebutuhan adaptasi organisasi agar tetap relevan menghadapi dinamika sosial yang terus berubah.”

Ia juga menekankan pentingnya para pengurus PKK turun langsung ke lapangan. Menurutnya, organisasi yang terlalu lama berada di meja rapat berisiko kehilangan denyut persoalan masyarakat yang sesungguhnya.

“Pentingnya peran aktif para pengurus PKK terjun langsung ke lapangan. Segera bentuk koperasi PKK bagi daerah yang belum memilikinya, serta pentingnya penyusunan laporan tahunan sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada PKK pusat,” tegasnya.

Dorongan pembentukan koperasi PKK menjadi catatan penting. Di tengah tekanan ekonomi rumah tangga dan naik-turunnya daya beli masyarakat, koperasi dapat menjadi alat pemberdayaan ekonomi perempuan yang konkret dan berkelanjutan.

Langkah itu juga sejalan dengan arah kebijakan nasional yang mendorong penguatan ekonomi berbasis komunitas, termasuk melalui pemberdayaan perempuan sebagai motor penggerak ekonomi keluarga.

Baca Juga :  "HUT OKU Selatan Uji Komitmen Pembangunan dan Realitas Infrastruktur Daerah"

Baca Juga :  "Tabrakan Kapal di Jembatan Mahulu Ungkap Lemahnya Pengawasan Sungai"

Baca Juga :  "Empat Bocah Tewas dalam Kebakaran di Desa Rasuan, Warga Tuntut Jawaban Atas Kelalaian"

Sebagai bagian dari pembinaan, TP PKK Sumatera Selatan turut menyerahkan bantuan kepada TP PKK Musi Banyuasin berupa Buku Rakernas X PKK Tahun 2025, tong sampah, perangkat komunikasi dan informasi, alat permainan edukatif, serta Pemberian Makanan Tambahan bagi penderita tuberkulosis.

Bantuan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan keluarga tidak berdiri sendiri. Ia bersinggungan dengan isu kesehatan, pendidikan anak, sanitasi, hingga akses informasi yang memadai.

Sementara itu, Ketua TP PKK Musi Banyuasin Patimah Toha melaporkan berbagai program yang telah dijalankan daerahnya, mulai dari Program Penghayatan dan Pengamalan Pancasila melalui pembentukan Rumah Cinta hingga gerakan gotong royong melalui bank sampah.

Tak hanya itu, TP PKK Musi Banyuasin juga menjalankan Gerakan Sumsel Mandiri Pangan melalui pembagian bibit tanaman, mengembangkan toko PKK sebagai etalase produk unggulan, serta memperkuat pembinaan program Hatinya PKK.

Patimah Toha menambahkan bahwa pihaknya juga aktif melakukan edukasi PAUD serta pemeriksaan kesehatan dan deteksi dini penyakit degeneratif bagi kelompok lanjut usia—sebuah langkah yang menunjukkan bahwa perhatian terhadap keluarga harus menjangkau seluruh siklus kehidupan.

Di tengah derasnya tantangan sosial, mulai dari tekanan ekonomi keluarga, ancaman stunting, hingga melemahnya budaya gotong royong, gerakan PKK sesungguhnya diuji bukan oleh seberapa banyak spanduk kegiatan dipasang, tetapi oleh seberapa dalam programnya mampu menembus kebutuhan warga; sebab rakyat tidak memerlukan organisasi yang hanya sibuk pada seremoni, melainkan gerakan yang hadir nyata di dapur keluarga, di ruang tumbuh anak-anak, di kesehatan para lansia, dan di setiap denyut kehidupan masyarakat yang membutuhkan penguatan negara melalui tangan-tangan pengabdian yang tulus.

Editor: Kalturo



Banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *