“AFC Tegaskan Persib Lalai, Sanksi Berat Jadi Alarm Tata Kelola Stadion”

Menurut keputusan Asian Football Confederation, Persib dihukum bukan hanya karena flare dan pitch invasion, tetapi karena kegagalan menjaga keselamatan publik. Ini alarm keras: sepak bola modern tidak cukup dimenangkan di lapangan, melainkan juga lewat disiplin tribun, profesionalisme klub, dan penghormatan pada aturan.

Aspirasimediarakyat.com, Jakarta — Hukuman berat yang dijatuhkan Asian Football Confederation kepada Persib Bandung akibat kericuhan laga kontra Ratchaburi FC bukan sekadar catatan disiplin olahraga, melainkan peringatan keras bahwa sepak bola modern tak lagi hanya menilai kualitas permainan di atas rumput, tetapi juga kedewasaan suporter, kapasitas manajemen klub, serta tanggung jawab penyelenggara dalam menjaga keselamatan publik di stadion.

Insiden yang menjadi pangkal perkara terjadi pada 18 Februari 2026 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, saat Persib menjamu Ratchaburi FC dalam leg kedua babak 16 besar AFC Champions League Two.

Alih-alih dikenang sebagai panggung kompetisi Asia yang prestisius, pertandingan itu justru meninggalkan jejak buruk berupa kericuhan yang kini berujung pada sanksi finansial dan administratif yang sangat berat.

Melalui keputusan resmi Komite Disiplin dan Etik AFC tertanggal 13 Mei 2026, Persib dinyatakan melakukan sejumlah pelanggaran serius yang berkaitan dengan perilaku penonton, kegagalan pengamanan, serta kelalaian dalam pengelolaan stadion.

Dalam dokumen tersebut, AFC menyebut suporter yang berafiliasi dengan Persib melakukan serangkaian tindakan yang dikategorikan sebagai perilaku tidak pantas selama pertandingan berlangsung.

Salah satu pelanggaran utama adalah penggunaan flare dan berbagai perangkat piroteknik lain di area stadion, sesuatu yang dalam regulasi sepak bola internasional dikategorikan sebagai ancaman serius terhadap keselamatan.

Baca Juga :  "Aston Villa Melaju Kuat, Peluang Juara Liga Europa Kian Terbuka"

Baca Juga :  "Liam Rosenior Menguat, Chelsea Siapkan Arah Baru Pascapemecatan Maresca"

Baca Juga :  "Aston Villa Tekuk Forest, Naik ke Papan Atas Klasemen"

Tidak berhenti di sana, AFC juga mencatat aksi pelemparan berbagai benda ke area lapangan, mulai dari botol plastik, potongan kursi, kantong berisi cairan, gelas plastik, hingga puing-puing lain yang berpotensi mencederai pemain maupun perangkat pertandingan.

Lebih jauh, terjadi pula pengrusakan fasilitas stadion berupa perobekan kursi penonton serta kerusakan papan iklan di sekitar arena pertandingan.

Laporan disipliner AFC juga menyoroti adanya tindakan kekerasan fisik dan verbal, termasuk penghinaan terhadap tim lawan serta perangkat pertandingan yang dituding sebagai bagian dari “mafia” yang diduga memengaruhi hasil laga.

“Tuduhan semacam itu, dalam dunia sepak bola modern, bukan sekadar luapan emosi tribun. Ia merupakan bentuk delegitimasi terhadap otoritas pertandingan yang dapat memperkeruh situasi keamanan. Situasi semakin memburuk setelah laga usai. Sejumlah penonton dilaporkan masuk ke lapangan atau melakukan pitch invasion, tindakan yang secara universal dianggap sebagai pelanggaran serius dalam standar keselamatan stadion.”

Namun AFC tidak hanya menyorot perilaku suporter. Organisasi itu juga menilai Persib gagal menjalankan kewajiban sebagai tuan rumah dalam memastikan keamanan dan ketertiban pertandingan.

Klub dinilai lalai dalam memastikan jalur umum, lorong, tangga, pintu keluar, gerbang, hingga akses evakuasi darurat tetap steril dan bebas hambatan sepanjang pertandingan berlangsung.

Padahal, aspek tersebut merupakan jantung dari protokol keselamatan stadion. Dalam banyak tragedi sepak bola dunia, justru kegagalan pengelolaan akses evakuasi menjadi penyebab jatuhnya korban massal.

Baca Juga :  "Drama Liga Europa: Lille Tumbang, Lyon Selamat, Pertarungan Leg Kedua Memanas"

Baca Juga :  "Alwi Tumbang dari Loh: Sinyal Keras untuk Reformasi Pembinaan"

Baca Juga :  "Harapan Piala Dunia Sirna, Realitas Kualifikasi Kembali Uji Konsistensi Sepak Bola Indonesia"

Atas dasar itu, Persib dinyatakan melanggar Pasal 65.1 dan 64.1 Kode Disiplin dan Etika AFC terkait perilaku penonton dan tanggung jawab keamanan pertandingan.

Selain itu, klub berjuluk Maung Bandung tersebut juga dinyatakan melanggar Pasal 35 Regulasi Keselamatan dan Keamanan AFC, yang mengatur kewajiban penyelenggara menjaga standar perlindungan publik.

Sanksi yang dijatuhkan tidak ringan: denda sebesar 200 ribu dolar AS atau sekitar Rp3,5 miliar, yang wajib dibayar dalam waktu 30 hari sejak putusan diterima.

Tak hanya itu, Persib juga diwajibkan menjalani satu laga kandang tanpa penonton dalam kompetisi antarklub pria AFC berikutnya di Indonesia.

Satu pertandingan tambahan dengan stadion tertutup juga telah disiapkan AFC sebagai hukuman tertunda selama masa percobaan dua tahun. Jika pelanggaran serupa kembali terjadi, sanksi itu akan aktif otomatis.

Dari sisi finansial, beban Persib bahkan lebih besar. AFC mencatat ini merupakan pelanggaran kelima Persib pada musim 2025/2026, setelah sebelumnya klub ini juga terkena sejumlah denda dari laga melawan Bangkok United dan Selangor FC. Total akumulasi kerugian menembus sekitar Rp4,62 miliar.

Bagi sepak bola Indonesia, peristiwa ini seharusnya dibaca lebih luas daripada sekadar hukuman untuk satu klub. Ia adalah cermin bahwa modernisasi kompetisi tidak cukup dibangun melalui transfer pemain mahal atau ambisi menembus Asia; yang jauh lebih mendesak adalah membangun budaya disiplin di tribun, profesionalisme panitia pelaksana, dan kesadaran bahwa stadion bukan arena pelampiasan amarah, melainkan ruang publik yang harus aman bagi semua, sebab tanpa kedewasaan kolektif, setiap gol kemenangan akan selalu dibayangi risiko kekalahan yang lebih besar: hilangnya martabat sepak bola itu sendiri.

Editor: Kalturo



Banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *