Aspirasimediarakyat.com, Jakarta — Gelombang informasi yang bergerak lebih cepat daripada proses verifikasi kembali menguji ketahanan ruang digital Indonesia setelah beredar narasi yang mengaitkan Program Makan Bergizi Gratis dengan dugaan adanya aliran keuntungan kepada Presiden, sebuah isu yang kemudian dibantah secara tegas oleh Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S. Deyang seraya mengingatkan bahwa penyebaran informasi tanpa dasar hanya akan memperkeruh kepercayaan publik terhadap program yang menyangkut kepentingan masyarakat luas.
Narasi tersebut beredar melalui media sosial dan berbagai aplikasi percakapan dalam waktu singkat sehingga memicu beragam spekulasi serta diskusi di ruang publik. Kecepatan penyebaran informasi digital membuat banyak orang menerima pesan tanpa sempat melakukan pemeriksaan terhadap sumber maupun validitas isinya.
Di tengah situasi tersebut, Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik S. Deyang, memberikan klarifikasi resmi dengan membantah seluruh tudingan yang mengaitkan Program Makan Bergizi Gratis atau MBG dengan adanya keuntungan yang mengalir kepada Presiden.
Menurut Nanik, informasi yang beredar itu tidak pernah berasal dari dirinya maupun dari saluran komunikasi resmi Badan Gizi Nasional. Ia menegaskan bahwa narasi tersebut tidak memiliki dasar fakta dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons atas semakin meluasnya penyebaran informasi yang berpotensi menimbulkan persepsi keliru di tengah masyarakat. Dalam era komunikasi digital, satu unggahan yang tidak diverifikasi dapat berkembang menjadi opini yang sulit dikendalikan.
Nanik juga mengingatkan bahwa pencatutan nama pejabat publik untuk memperkuat sebuah narasi bukan merupakan fenomena baru. Praktik semacam itu sering dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk memberikan kesan bahwa sebuah informasi memiliki legitimasi, padahal belum tentu demikian.
Ia menilai penyebaran informasi yang tidak dapat diverifikasi berpotensi memicu kegaduhan sosial sekaligus mengaburkan fokus publik terhadap substansi program pemerintah yang sedang berjalan dan membutuhkan pengawasan berbasis fakta.
“Di tengah derasnya arus informasi yang bergerak seperti sungai tanpa bendungan, kemampuan masyarakat untuk memverifikasi setiap pesan sebelum mempercayai atau menyebarkannya menjadi benteng terakhir yang menjaga agar ruang digital tidak berubah menjadi pasar kabar burung yang mengikis nalar dan memperbesar kebingungan publik.”
Dalam keterangannya pada Sabtu (13/6/2026), Nanik menegaskan bahwa dirinya tidak pernah mengeluarkan pernyataan sebagaimana yang tersebar melalui berbagai unggahan maupun pesan berantai di media sosial dan aplikasi percakapan.
“Saya menegaskan bahwa narasi yang beredar tersebut tidak benar. Saya tidak pernah menyampaikan pernyataan sebagaimana yang dicantumkan dalam pesan yang beredar di media sosial maupun aplikasi percakapan,” ujar Nanik.
Ia menjelaskan bahwa penggunaan nama tokoh atau pejabat untuk memperkuat sebuah informasi sering dimanfaatkan guna membentuk opini publik melalui narasi yang bersifat provokatif meskipun tidak memiliki dasar yang dapat dibuktikan.
Karena itu, masyarakat diminta untuk tidak langsung mempercayai setiap informasi yang diterima tanpa melakukan pemeriksaan terhadap sumber resmi. Sikap kritis dinilai menjadi bagian penting dalam menghadapi derasnya arus komunikasi digital.
Nanik juga mengingatkan pentingnya budaya verifikasi informasi sebagai bagian dari literasi digital. Menurutnya, masyarakat perlu lebih berhati-hati sebelum menerima ataupun meneruskan sebuah informasi kepada pihak lain.
“Masyarakat perlu memastikan kebenaran informasi melalui sumber resmi. Jangan mudah mempercayai ataupun menyebarkan informasi yang tidak jelas asal-usulnya karena dapat menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa setiap informasi resmi yang berasal dari Badan Gizi Nasional hanya akan disampaikan melalui kanal komunikasi yang telah ditetapkan, termasuk siaran pers resmi, laman resmi lembaga, serta akun media sosial yang telah terverifikasi.
Dengan demikian, masyarakat diimbau tidak menjadikan informasi yang beredar di luar saluran resmi sebagai acuan utama, terlebih apabila sumbernya tidak jelas dan tidak dapat diverifikasi secara independen.
Lebih jauh, Badan Gizi Nasional mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga kualitas ruang digital dengan mengedepankan penyebaran informasi yang berbasis fakta, menghindari konten manipulatif, serta tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang belum teruji kebenarannya.
Nanik menegaskan bahwa lembaganya akan tetap fokus menjalankan tugas dan program pelayanan kepada masyarakat sesuai amanat pemerintah sembari terus mendorong peningkatan literasi digital, sebab ruang informasi yang sehat bukan hanya dibangun oleh institusi negara, melainkan juga oleh tanggung jawab kolektif setiap warga dalam memastikan bahwa kebenaran memperoleh tempat yang lebih kuat daripada sensasi, sehingga kepercayaan publik terhadap kebijakan yang menyangkut kepentingan rakyat dapat terjaga melalui budaya verifikasi dan sikap kritis yang konsisten.
Editor: Kalturo




















