Aspirasimediarakyat.com — Proyeksi Kamar Dagang dan Industri Indonesia yang memperkirakan perputaran uang selama perayaan dan libur Imlek 2026 menembus Rp9,06 triliun menjadi sinyal kuat bahwa momentum budaya dan hari besar keagamaan bukan sekadar peristiwa sosial, melainkan mesin konsumsi raksasa yang memutar roda transportasi, ritel, pariwisata, dan jasa, sekaligus menguji akurasi kalkulasi ekonomi nasional dalam membaca daya beli, mobilitas, serta optimisme rumah tangga di awal kuartal pertama tahun berjalan secara menyeluruh.
Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) melalui Wakil Ketua Umum Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, memproyeksikan potensi perputaran uang selama perayaan dan libur Imlek 2026 mencapai Rp9.067.480.000.000. Angka tersebut dihitung dari estimasi jumlah warga Indonesia keturunan Tionghoa sebanyak 11,25 juta jiwa.
Sarman menjelaskan, jika 11,25 juta jiwa itu diasumsikan terbagi dalam keluarga dengan rata-rata empat orang, maka terdapat sekitar 2.812.500 keluarga. Dengan asumsi belanja rata-rata Rp1 juta per keluarga selama perayaan, potensi transaksi diperkirakan mencapai Rp2,81 triliun.
Selain konsumsi rumah tangga, mobilitas masyarakat juga menjadi variabel penting. Diperkirakan sekitar 3.369.820 orang melakukan perjalanan wisata atau ziarah menggunakan pesawat, kereta api, maupun kendaraan pribadi. Jika rata-rata pengeluaran perjalanan mencapai Rp500 ribu per orang, maka potensi perputaran uang dari aktivitas ini diperkirakan sekitar Rp1,68 triliun, sehingga total akumulasi awal menyentuh Rp4,49 triliun.
Proyeksi juga mencatat lonjakan transaksi tiket pesawat sebanyak 1.744.820 kursi. Dengan asumsi harga rata-rata Rp1 juta per tiket, nilai transaksi penerbangan diperkirakan mencapai Rp1,74 triliun.
Untuk moda kereta api konvensional, potensi penumpang diperkirakan mendekati 1 juta orang dengan rata-rata tiket Rp150 ribu, sehingga transaksi mencapai Rp150 miliar. Sementara itu, tiket kereta cepat Whoosh diproyeksikan terjual sekitar 25 ribu lembar dengan harga Rp250 ribu per tiket atau senilai Rp6,25 miliar.
Sektor ritel turut diprediksi menikmati efek rambatan. Berdasarkan data Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), target transaksi sepanjang periode Imlek hingga Ramadan dan Idul Fitri mencapai Rp53,38 triliun. Jika lima persen saja terealisasi saat libur Imlek, maka potensi transaksi ritel diperkirakan sekitar Rp2,67 triliun.
Kebijakan pemerintah menetapkan libur Imlek selama dua hari pada Senin, 16 Februari dan Selasa, 17 Februari 2026 dinilai menjadi katalis pergerakan ekonomi. Momentum Tahun Baru China 2577 Kongzili itu tak hanya dirayakan komunitas Tionghoa, tetapi juga mendorong masyarakat luas menikmati kuliner, wisata, dan aktivitas sosial menjelang Ramadan 1447 Hijriah.
Dari sisi transportasi udara, lonjakan penumpang terjadi pada rute-rute favorit seperti Medan, Semarang, Surabaya, Banjarmasin, Pontianak, Bali, dan Palembang. Sebanyak 1.744.820 penumpang diperkirakan bepergian melalui Bandara Soekarno-Hatta selama periode tersebut.
Moda kereta api di Pulau Jawa, khususnya tujuan Bandung, Yogyakarta, Semarang, dan Surabaya, hampir menyentuh angka satu juta penumpang. KCIC mencatat peningkatan penumpang Whoosh sebesar 25 persen selama libur panjang Imlek dan Isra Mikraj.
Mobilitas kendaraan pribadi juga melonjak. Data dari operator jalan tol memperkirakan 1,6 juta kendaraan bergerak selama periode libur, dengan sekitar 831 ribu kendaraan meninggalkan Jabodetabek dan sisanya masuk ke wilayah tersebut. Jika setiap kendaraan rata-rata diisi empat orang, maka terdapat sekitar 6,4 juta orang yang melakukan perjalanan darat.
Sektor pariwisata dan turunannya—hotel, restoran, destinasi wisata, hingga UMKM oleh-oleh—ikut terdongkrak. Sarman menilai peningkatan konsumsi rumah tangga selama periode ini menjadi kontributor signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026.
“Namun, di balik angka-angka triliunan yang berkilau bak kembang api di langit malam Imlek, pertanyaan mendasar tetap berdiri: apakah lonjakan konsumsi ini benar-benar merefleksikan penguatan daya beli yang berkelanjutan atau sekadar ledakan musiman yang rapuh, sementara struktur ekonomi masih bergulat dengan ketimpangan distribusi pendapatan, tekanan inflasi, dan tantangan produktivitas; sebab perayaan boleh semarak, tetapi fondasi ekonomi tidak boleh dibangun di atas euforia sesaat yang menutup mata terhadap kebutuhan reformasi struktural yang lebih dalam.”
Ledakan konsumsi musiman tidak boleh dijadikan selimut untuk menutupi fakta ketimpangan yang masih menganga di berbagai sektor. Pertumbuhan yang hanya berputar di pusat-pusat belanja tanpa memperkuat produksi nasional adalah ilusi kesejahteraan yang menipu publik.
Secara makro, target pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 dipatok 5,5 persen, dengan proyeksi pertumbuhan nasional tahun 2026 di kisaran 5,4–5,6 persen. Konsumsi rumah tangga, yang secara historis menyumbang lebih dari 50 persen PDB, menjadi tumpuan utama.
Dari perspektif regulasi, pemerintah memiliki tanggung jawab memastikan stabilitas harga, ketersediaan transportasi, dan perlindungan konsumen selama periode lonjakan permintaan. Instrumen pengawasan tarif dan distribusi barang menjadi krusial agar momentum ekonomi tidak berubah menjadi beban biaya bagi masyarakat.
Transparansi data proyeksi juga penting agar publik dapat menilai rasionalitas asumsi yang digunakan, mulai dari estimasi jumlah keluarga, rata-rata pengeluaran, hingga proyeksi mobilitas. Perhitungan ekonomi yang akurat menjadi dasar perumusan kebijakan fiskal dan moneter yang presisi.
Setiap proyeksi triliunan rupiah harus diuji dengan data yang terbuka dan metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan, karena kebijakan ekonomi tidak boleh berdiri di atas asumsi yang kabur. Perayaan budaya adalah kekuatan sosial bangsa, tetapi pengelolaan dampak ekonominya harus berpijak pada akuntabilitas, kehati-hatian fiskal, dan keberpihakan pada pemerataan agar pertumbuhan yang tercipta bukan sekadar angka, melainkan kesejahteraan yang terasa nyata di kehidupan sehari-hari masyarakat.

















