Daerah  

Harga Stabil Selama Nataru: Sumsel Kendalikan Inflasi dengan Baik

Selama Natal dan Tahun Baru (Nataru), inflasi Sumsel hanya 1,2 persen dan harga stabil, kecuali cabai rawit merah yang naik karena meningkatnya kebutuhan, ujar Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumsel, Ir. Ruzuan Effendi, M.M., di Kantor Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumsel, (09/01/2025).

aspirasimediarakyat.com – Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Ir. Ruzuan Effendi, M.M., melaporkan bahwa harga-harga kebutuhan pokok di wilayahnya tetap stabil selama perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) kemarin. Inflasi di Sumsel tercatat berada di bawah angka nasional, yaitu hanya 1,2 persen, dan harga-harga kebutuhan pokok tidak mengalami gejolak berarti.

“Selama Nataru kemarin, inflasi kita tidak terlalu tinggi, berada di angka 1,2 persen. Ketersediaan barang dan permintaan berimbang, tidak ada kenaikan harga yang signifikan,” jelas Ruzuan.

Namun, dia mencatat ada kenaikan harga pada cabai rawit merah, yang disebabkan oleh meningkatnya permintaan. “Cabai merah keriting dan cabai merah rawit memang mengalami kenaikan harga. Tetapi, ini lebih karena meningkatnya kebutuhan,” tambahnya.

Ruzuan menekankan bahwa ketersediaan barang kebutuhan pokok seperti cabai, telur, dan ayam di Sumsel cukup memadai. “Telur dan ayam saat ini cukup, tidak ada kenaikan harga yang signifikan. Harga ayam saat ini berada di sekitar Rp 32 ribu,” ujarnya.

Mengenai momen-momen tertentu seperti Tahun Baru dan Lebaran, Ruzuan menjelaskan bahwa pedagang kadang memanfaatkan situasi untuk menaikkan harga. Namun, secara umum, ketersediaan kebutuhan pokok tetap aman. “Kadang memang ada momen tertentu yang dimanfaatkan pedagang, tapi secara keseluruhan ketersediaan kita tetap cukup,” katanya.

Ia juga mengungkapkan bahwa transportasi seringkali menjadi faktor yang mempengaruhi harga, seperti yang terjadi pada cuaca buruk saat Tahun Baru kemarin. “Cuaca buruk bisa menghambat masuknya kapal, tapi bukan berarti ketersediaan kita tidak cukup,” jelasnya.

Ruzuan menekankan bahwa inflasi tidak selalu berkaitan langsung dengan ketahanan pangan, namun perlu dilihat secara menyeluruh. “Ketahanan pangan itu siapa pun yang melaksanakan, baik itu menanam jagung, cabai, atau tanaman lain. Itu semua untuk ketahanan pangan nasional,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa Sumsel sebenarnya mampu memenuhi kebutuhan pangan dengan baik, baik untuk pasar dalam negeri maupun untuk ekspor. “Telur kita kirim ke Jawa Barat, Banten, Bangka Belitung, Jakarta, dan Bekasi. Setiap bulan kita ekspor sekitar 3000 ton telur,” ucapnya.

Terkait penambahan peternakan di Sumsel, Ruzuan menegaskan pentingnya pemasaran dan pembinaan bagi para peternak. “Penambahan peternakan silahkan, yang penting ada pasarnya. Kami fokus pada pembinaan dan peningkatan kualitas peternak,” katanya.

Ruzuan juga menyoroti dampak cuaca yang tidak menentu terhadap budidaya, namun ia optimis bahwa Sumsel mampu memitigasi dampak tersebut. “Cuaca pasti berdampak pada budidaya, tapi kita harus bisa memitigasi itu segera,” tambahnya.

Baca Juga :  "Aktivis Desak Kejati Usut Dugaan Kejahatan Lingkungan Proyek Jalan Hauling Batu Bara"

Gerakan pangan murah menjadi salah satu program yang dijalankan pemerintah untuk menekan harga dan memberikan harga yang sesuai kepada masyarakat. “Masyarakat sangat antusias dengan gerakan pangan murah ini. Beras dijual di bawah harga eceran tertinggi (HET), dan banyak subsidi harga di bawah pasar,” bebernya.

Lebih lanjut, Ruzuan menjelaskan bahwa proyeksi ketersediaan kebutuhan pokok di Sumsel dihitung berdasarkan kebutuhan harian. Dengan adanya prediksi tersebut, mereka dapat mengatur distribusi dan suplai kebutuhan pokok dengan lebih baik. “Proyeksi kebutuhan harian sangat membantu kami dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan barang,” ujarnya.

Ruzuan juga mengungkapkan bahwa Sumsel memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan daging sapi, telur, dan ayam melalui produksi lokal dan impor. “Kita mendatangkan daging sapi dari luar Sumsel, sementara telur dan ayam kita kirim ke provinsi lain seperti Jawa Barat dan Banten,” ungkapnya.

Dalam menjaga ketahanan pangan, Ruzuan menekankan pentingnya kerjasama antara pemerintah, petani, peternak, dan pihak terkait lainnya. “Ketahanan pangan adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah, petani, peternak, dan semua pihak harus bekerja sama untuk mencapai ketahanan pangan yang berkelanjutan,” tuturnya.

Menanggapi kondisi cuaca yang tidak menentu, Ruzuan mengingatkan para petani dan peternak untuk selalu waspada dan melakukan langkah-langkah antisipasi. “Cuaca yang tidak menentu pasti berdampak pada budidaya, jadi kita harus selalu siap dan melakukan langkah-langkah antisipasi,” tambahnya.

Dengan berbagai upaya yang dilakukan, Ruzuan optimis bahwa Sumsel mampu menjaga kestabilan harga dan memenuhi kebutuhan pangan masyarakat dengan baik. “Kami yakin dengan kerjasama dan komitmen dari semua pihak, Sumsel mampu menjaga stabilitas harga dan memenuhi kebutuhan pangan masyarakat,” tutupnya.


 

Banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *