Aspirasimediarakyat.com, Palembang — Di tengah dinamika sosial yang terus bergerak cepat, pengajian rutin bulanan yang dirangkaikan dengan Halalbihalal di Griya Agung Palembang menjadi ruang reflektif yang tidak hanya mempertemukan nilai spiritual dan sosial, tetapi juga memperlihatkan bagaimana peran perempuan melalui organisasi seperti PKK dan Dharma Wanita Persatuan menjadi fondasi penting dalam menjaga kohesi sosial, memperkuat harmoni keluarga, serta menopang stabilitas pembangunan daerah secara berkelanjutan.
Kehadiran Gubernur Sumatera Selatan, H. Herman Deru bersama Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Sumatera Selatan, Hj. Feby Herman Deru dalam kegiatan tersebut mempertegas bahwa agenda keagamaan dan sosial bukan sekadar rutinitas seremonial, melainkan bagian dari strategi pembangunan berbasis nilai.
Acara yang berlangsung khidmat pada Senin (13/04) itu menjadi momentum pasca-Lebaran untuk mempererat silaturahmi antaranggota organisasi perempuan di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, sekaligus memperkuat kembali jaringan sosial yang sempat terfragmentasi oleh kesibukan masing-masing individu.
Dalam sambutannya, Herman Deru menegaskan bahwa pengajian yang digelar secara rutin tersebut mencerminkan kekuatan kolektif kader PKK dan Dharma Wanita Persatuan yang terus menunjukkan kekompakan dalam berbagai situasi sosial.
“Ini momentum halal bi halal dan ini menunjukkan kekuatan ibu-ibu,” ungkapnya, menekankan bahwa solidaritas perempuan memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas sosial di tingkat keluarga hingga masyarakat luas.


“Pernyataan tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan menggambarkan perspektif kebijakan yang menempatkan perempuan sebagai aktor utama dalam pembangunan berbasis keluarga, yang selama ini menjadi salah satu pilar dalam berbagai program pemerintah daerah.”
Lebih jauh, Herman Deru juga menyoroti bahwa kegiatan seperti pengajian dan Halalbihalal memiliki fungsi sosial yang jauh melampaui dimensi ritual, karena menjadi wadah memperbaiki hubungan antarmanusia serta memperkuat nilai kebersamaan pasca-Ramadan.
“Silaturahmi bukan hanya tradisi, tapi kekuatan sosial yang mampu menjaga persatuan dan keharmonisan. Dari keluarga yang harmonis, akan lahir masyarakat yang kuat,” tegasnya.
Pandangan tersebut selaras dengan konsep pembangunan sosial yang menempatkan keluarga sebagai unit terkecil yang menentukan kualitas masyarakat, sehingga intervensi berbasis komunitas seperti PKK menjadi sangat relevan.
Sementara itu, Ketua TP PKK Sumsel, Hj. Feby Herman Deru menekankan bahwa kegiatan rutin seperti ini harus dipahami sebagai proses pembinaan diri, bukan sekadar agenda formal organisasi.
“Kegiatan rutin ini hendaknya terus dilakukan sebagai sarana kita memperbaiki iman dan kesabaran dalam menata hidup agar menjadi lebih baik,” ujarnya, menggarisbawahi pentingnya keseimbangan antara pembangunan fisik dan spiritual.
Ia juga mengajak seluruh pengurus dan anggota Dharma Wanita Persatuan untuk menjadikan momentum Syawal sebagai titik balik dalam memperkuat kekompakan tim serta memperbaiki hubungan interpersonal yang mungkin sempat renggang.
“Ini adalah momentum yang tepat bagi kita untuk saling memaafkan dan memperbaiki hubungan satu sama lain. Dengan hati yang bersih, sinergi kita dalam menjalankan program organisasi tentu akan lebih maksimal,” tambahnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa harmoni internal organisasi menjadi prasyarat utama dalam memastikan program-program sosial dapat berjalan efektif dan tepat sasaran.
Dalam perspektif yang lebih luas, kegiatan ini juga mencerminkan bagaimana organisasi perempuan berperan sebagai agen perubahan sosial yang tidak hanya bergerak pada aspek kesejahteraan, tetapi juga penguatan nilai religius dan etika sosial.
Hal ini ditegaskan kembali oleh Hj. Febrita Lustia Herman Deru yang menyebut bahwa pengajian rutin yang dirangkaikan dengan Halalbihalal merupakan bagian dari pembinaan mental spiritual keluarga.
“Melalui pengajian ini, kita tidak hanya menambah ilmu, tetapi juga mempererat ukhuwah. Ini menjadi energi positif bagi ibu-ibu PKK untuk terus berkontribusi di lingkungan masing-masing,” tandasnya.
Kehadiran Wakil Gubernur Sumsel, H. Cik Ujang, para kepala OPD, serta tokoh agama seperti Ustadz Das’ad Latif semakin memperkuat dimensi kolaboratif dalam kegiatan tersebut, di mana unsur pemerintah, masyarakat, dan tokoh spiritual bertemu dalam satu ruang dialog.
Selain itu, kehadiran unsur seni melalui penampilan vokalis Lembaga Seni Qasidah Indonesia juga memberikan warna kultural yang memperkaya suasana, menunjukkan bahwa pendekatan budaya tetap menjadi bagian penting dalam membangun kedekatan sosial.
Rangkaian acara yang diisi dengan tausiyah agama dan ramah tamah tersebut menjadi simbol bahwa pembangunan tidak selalu hadir dalam bentuk proyek fisik, melainkan juga melalui penguatan nilai, relasi, dan kesadaran kolektif.
Di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks, kegiatan seperti ini menjadi pengingat bahwa kekuatan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh kebijakan dan anggaran, tetapi juga oleh kualitas hubungan antarindividu yang terbangun secara konsisten.
Pengajian dan Halalbihalal yang digelar di Griya Agung itu pada akhirnya mencerminkan sebuah realitas sosial bahwa perempuan, melalui organisasi yang terstruktur dan berkelanjutan, memiliki posisi strategis dalam menjaga stabilitas sosial, memperkuat nilai kebersamaan, serta menjadi jembatan antara kebijakan pemerintah dan kehidupan nyata masyarakat, sehingga pembangunan tidak hanya terasa di atas kertas, tetapi benar-benar hidup dalam denyut keseharian rakyat.



















