“Belida Bangkit dari Ambang Punah, Sungai Musi Menuntut Keadilan Ekologis Nyata”

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun, menegaskan pemulihan ikan Belida di Sungai Musi bukan sekadar konservasi, melainkan strategi menjaga identitas budaya sekaligus memperkuat ekonomi nelayan. Program terintegrasi ini menunjukkan hasil nyata, dari peningkatan pendapatan hingga pemanfaatan limbah sebagai pakan, mencerminkan keseimbangan antara keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat yang dikelola dengan visi jangka panjang.

Aspirasimediarakyat.com, Palembang — Upaya pemulihan ekosistem Sungai Musi melalui konservasi ikan endemik Belida tidak sekadar menjadi proyek lingkungan, melainkan representasi pertarungan antara kerusakan ekologis yang menggerus identitas budaya dan ikhtiar sistematis untuk mengembalikan keseimbangan ekonomi masyarakat nelayan yang selama ini terjebak dalam lingkaran kerentanan akibat degradasi sumber daya alam yang berlangsung bertahun-tahun.

Program pelestarian ikan Belida di Sumatera Selatan muncul sebagai respons atas ancaman nyata kepunahan spesies yang selama ratusan tahun menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat, sekaligus bahan utama kuliner khas seperti pempek yang dikenal luas.

Ekosistem Sungai Musi sendiri mengalami tekanan signifikan akibat aktivitas manusia, mulai dari pencemaran hingga eksploitasi berlebihan, yang berdampak langsung terhadap penurunan populasi ikan lokal dan mengganggu keseimbangan rantai kehidupan di perairan tersebut.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun, menjelaskan bahwa kerusakan lingkungan tidak hanya berdampak pada ekologi, tetapi juga menciptakan kerentanan ekonomi yang serius bagi pembudidaya ikan di wilayah tersebut.

Ia mencontohkan, Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) yang sempat berada di angka 95,53 menjadi indikator nyata bagaimana daya beli dan kesejahteraan pelaku usaha perikanan mengalami tekanan, bahkan memicu fenomena gagal usaha yang dikenal sebagai “gulung waring”.

Baca Juga :  "Aliran Modal Asing di Indonesia Catat Outflow Bersih Rp 250 Miliar, BI Sebut Stabilitas Terjaga"

Baca Juga :  "Perbanas Proyeksikan Pertumbuhan Kredit Perbankan 2025 di Level 10,6 Persen"

Baca Juga :  "Menkeu Murka, Industri Baja Asing Diduga Hindari Pajak Negara"

Melihat kondisi tersebut, Pertamina Patra Niaga Kilang Plaju sejak 2022 menginisiasi program Belida Musi Lestari sebagai bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan perusahaan yang berfokus pada pemulihan ekosistem sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Roberth menegaskan bahwa Sungai Musi bukan hanya sekadar bentang geografis, melainkan urat nadi kehidupan yang menyimpan jejak sejarah panjang dan identitas budaya masyarakat Sumatera Selatan yang tidak dapat dipisahkan dari keberadaan ikan Belida.

Program ini dirancang tidak sebagai bantuan jangka pendek, melainkan sebagai sistem berkelanjutan yang mampu membangun kemandirian masyarakat melalui pendekatan terintegrasi dari hulu hingga hilir dalam ekosistem perikanan.

Dalam implementasinya, terdapat lima pilar utama yang menjadi fondasi program, di antaranya penyediaan benih secara mandiri, pengelolaan budidaya yang efisien, serta pengolahan pakan berbasis limbah makanan untuk menekan biaya produksi.

“Pendekatan ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga mengedepankan efisiensi dan keberlanjutan, sehingga masyarakat tidak lagi bergantung pada pasokan eksternal yang rentan terhadap fluktuasi harga.”

Selain itu, masyarakat juga didorong untuk melakukan hilirisasi produk perikanan agar memiliki nilai tambah ekonomi, sehingga hasil tangkapan tidak berhenti sebagai komoditas mentah, melainkan berkembang menjadi produk olahan yang bernilai lebih tinggi.

Melalui transfer pengetahuan yang berkelanjutan, kini telah terbentuk sekitar 30 sentra perikanan terintegrasi yang mampu mengelola sistem produksi secara mandiri, mulai dari pembenihan hingga distribusi hasil.

Dampak program ini mulai terlihat secara konkret, di mana sebanyak 307 warga dari berbagai kelompok rentan merasakan peningkatan kesejahteraan melalui keterlibatan langsung dalam ekosistem perikanan tersebut.

Secara ekonomi, penjualan ikan mengalami lonjakan signifikan hingga 809 persen dengan nilai mencapai kisaran Rp750 juta, sebuah angka yang mencerminkan pemulihan daya beli masyarakat secara bertahap namun pasti.

Dari sisi lingkungan, program ini juga berhasil mengolah sekitar 36 ton sampah makanan menjadi pakan ikan, menunjukkan bahwa pendekatan ekonomi sirkular dapat diterapkan secara efektif dalam sektor perikanan.

Upaya konservasi juga menunjukkan hasil positif dengan berhasilnya pelestarian empat jenis ikan Belida khas Sumatera Selatan yang sebelumnya berada di ambang kepunahan akibat tekanan lingkungan yang terus meningkat.

Baca Juga :  "IPO Titan Infra dan Ujian Transparansi Industri Logistik Batu Bara"

Baca Juga :  "Rp530 Triliun Pajak Tak Dipungut: Antara Stimulus Ekonomi dan Hilangnya Hak Rakyat atas Keadilan Fiskal"

Baca Juga :  "Gubernur Jabar Gugat Sentralisasi Pajak: Daerah Menanggung Beban, Pusat Panen Triliunan"

Untuk memastikan keberlanjutan program, dibangun pula Pusat Pembelajaran Masyarakat yang menyediakan 18 kelas edukasi perikanan, sebagai sarana peningkatan kapasitas dan pengetahuan bagi masyarakat setempat.

Tingkat kepuasan masyarakat terhadap program ini tercatat sangat tinggi dengan Indeks Kepuasan Masyarakat mencapai 98,26 persen, menunjukkan penerimaan dan partisipasi aktif warga dalam menjaga keberlangsungan program.

Selain itu, nilai Social Return on Investment (SROI) sebesar 1,76 mengindikasikan bahwa setiap investasi sosial yang dilakukan mampu menghasilkan manfaat ekonomi dan sosial yang berlipat bagi masyarakat.

Inisiatif ini menjadi gambaran bahwa investasi sosial yang dirancang dengan pendekatan sistemik mampu menjawab dua persoalan sekaligus, yaitu krisis lingkungan dan ketimpangan ekonomi, tanpa mengorbankan salah satu aspek.

Pemulihan Sungai Musi melalui konservasi ikan Belida memperlihatkan bahwa keberlanjutan tidak dapat dicapai hanya dengan pendekatan teknis semata, melainkan membutuhkan sinergi antara kebijakan, kesadaran kolektif, dan komitmen jangka panjang untuk menjaga keseimbangan antara ekologi, ekonomi, dan identitas budaya yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat.

Banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *