“Rakyat Mengepung DPR: Garong Bercokol, Mahasiswa Menyulut Perlawanan”

Spanduk putih bertinta merah darah bertuliskan “17+8 Tuntutan Rakyat” berkibar di tengah massa—bukan sekadar protes, tapi dokumen resmi hasil kajian UI, kitab perlawanan untuk menghantam maling kelas kakap di Senayan.

Aspirasimediarakyat.comLangit Jakarta Pusat muram, seolah ikut menanggung derita rakyat yang dijarah habis oleh garong berdasi. Panas siang itu tak menghentikan ribuan mahasiswa berjaket kuning yang menjejali halaman depan Gedung DPR/MPR RI. Dari tenggorokan mereka, teriakan lantang membelah udara: “#RakyatTagihJanji!”

Di tengah lautan massa, spanduk putih dengan tinta merah darah berkibar: “17+8 Tuntutan Rakyat.” Bukan sekadar coretan protes, melainkan dokumen resmi hasil kajian lintas fakultas Universitas Indonesia. Sebuah kitab perlawanan yang disiapkan untuk menghantam wajah para maling kelas kakap di Senayan.

Bima Surya, Wakil Kepala Departemen Aksi dan Propaganda BEM UI 2025, berdiri di depan massa. “Tuntutan ini bukan suara jalanan belaka. Ini hasil kajian akademik yang serius. Negara wajib menjawab!” suaranya membelah pagar besi DPR, pagar yang lebih mirip benteng penyamun ketimbang rumah rakyat.

Isi tuntutan itu bukan basa-basi. 17 poin mendesak menyeret isu kekerasan aparat, keterlibatan TNI dalam keamanan sipil, transparansi anggaran DPR, hingga jeritan guru, buruh, tenaga kesehatan, dan ojek online yang uangnya habis digasak sistem bobrok. Ditambah 8 agenda reformasi, mulai dari reformasi DPR, partai politik, perpajakan, kepolisian, hingga penguatan lembaga HAM sebelum 2026.

Rakyat tak lagi percaya pada kursi empuk wakilnya. Yang mereka lihat hanyalah pesta pora setan keparat yang bersembunyi di balik gedung megah. “Kami tidak bergerak sendiri. Ini suara kolektif,” tegas Bima. “DPR harus hadir, bukan sembunyi di balik pagar tinggi.”

“Namun, apa respons penguasa? Justru lebih menyakitkan ketimbang tamparan. Menteri Keuangan baru, Purbaya Yudhi Sadewa, melontarkan pernyataan yang terdengar seperti cemoohan murahan. Ia menyebut gerakan rakyat hanyalah “sebagian kecil masyarakat.” Lebih parah, ia menambahkan, “Nanti kalau ekonomi tumbuh, rakyat akan sibuk kerja, makan enak, dan tak sempat demo.”

Kalimat itu menyalakan api. Seolah rakyat hanya sekumpulan pengemis lapar yang harus menunggu remah dari pesta tuan-tuan berdasi. Purbaya lupa, ekonomi yang ia banggakan dibangun di atas keringat rakyat yang kini perutnya kosong, sementara para garong uang negara tertawa di hotel mewah.

Tak puas di situ, sang Menkeu juga sibuk mengumbar janji akan “minta wejangan” pada Sri Mulyani. Katanya, ia akan belajar kelemahan sistem di Kemenkeu dari pendahulunya. Pernyataan yang terdengar rapuh, seperti anak baru masuk sekolah yang gemetar menghadapi ujian. Padahal rakyat menuntut solusi, bukan basa-basi.

“Kita akan kulo nuwun dengan Ibu Sri Mulyani,” katanya, seperti pejabat yang masih mencari induk semang. Sementara di luar gedung, rakyat berteriak lantang, menagih uang mereka yang sudah lama disedot habis oleh maling-maling kelas kakap.

BEM UI menegaskan, gerakan ini bukan sekadar euforia mahasiswa. Tuntutan lahir dari petisi dengan puluhan ribu tanda tangan, suara buruh yang diperas sistem upah murah, hingga kajian lembaga hukum dan lingkungan. Semua menyatu jadi palu godam untuk menghantam kebusukan elit.

Teriakan mahasiswa mencerminkan amarah rakyat. Bagaimana tidak? Para pejabat menumpuk harta, hidup dalam kemewahan, sementara rakyat kecil harus memeras keringat tanpa jaminan kesehatan, pendidikan, dan rasa aman. Kontras itu tak ubahnya tontonan sirkus iblis di tengah derita bangsa.

Di hadapan publik, DPR dan pemerintah sering bicara tentang reformasi. Tapi apa hasilnya? Rakyat melihat hanya permainan tikus berdasi yang berpesta pora dengan uang negara. Sementara rakyat lapar harus rela antre beras murah, para garong itu santap malam dengan anggur impor dan daging wagyu.

“Aksi ribuan mahasiswa kali ini adalah pukulan keras ke wajah DPR, lembaga yang mestinya jadi penjaga amanat rakyat. Namun kini justru lebih mirip rumah para bandit politik. Spanduk “#RakyatTagihJanji” bukan sekadar slogan, tapi cambuk untuk membuka mata semua pihak bahwa rakyat sudah muak.”

Jika suara ribuan mahasiswa dan puluhan ribu tanda tangan masih dianggap remeh, lalu apa lagi yang tersisa dari demokrasi? Apakah negara ini hanya milik segelintir pengumpul harta haram yang bebas merampok, sementara rakyat dipaksa diam?

Di luar pagar DPR, keringat mahasiswa bercampur teriakan rakyat yang tertahan. Mereka menuntut keadilan, transparansi, dan keberpihakan nyata. Di dalam gedung, para garong berdasi mungkin masih duduk tenang, menatap layar ponsel mahal mereka, pura-pura tuli terhadap jeritan bangsa.

Sejarah sudah berkali-kali mencatat, ketika rakyat lapar bersatu, maka tembok istana pun bisa runtuh. Dan hari ini, di bawah langit mendung Jakarta, tanda-tanda itu mulai nyata.


Baca Juga :  Kemenperin Dorong Industri Manufaktur Laporkan Emisi melalui SIINas untuk Capai Target Net Zero Emission
Banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *