Aspirasimediarakyat.com — Perubahan gaya hidup yang semakin cepat di tengah ritme urbanisasi dan tekanan produktivitas modern secara perlahan menggeser pola makan masyarakat ke arah konsumsi makanan instan, tinggi gula, dan lemak, sebuah fenomena yang oleh kalangan medis dipandang sebagai ancaman kesehatan serius karena tanpa disadari dapat menjadi “bom waktu” biologis yang memicu lonjakan penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, dan obesitas, bahkan pada kelompok usia yang sebelumnya dianggap relatif aman dari risiko penyakit degeneratif tersebut.
Peringatan tersebut disampaikan oleh dokter spesialis gizi klinik D. Consistania Ribuan, Sp.GK, AIFO-K, FINEM, yang menilai perubahan pola makan masyarakat kini berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan tubuh manusia beradaptasi terhadapnya.
Dalam sejumlah forum edukasi kesehatan, ia menjelaskan bahwa penyakit kronis yang dahulu identik dengan kelompok usia lanjut kini justru semakin banyak ditemukan pada kelompok usia muda.
“Yang tadinya usianya 50-an ke atas, sekarang justru 30 ke bawah sudah banyak yang kena penyakit kronis, seperti diabetes, hipertensi, bahkan obesitas,” ujar dr. Consistania dalam sebuah kegiatan kesehatan di Jakarta.
Fenomena tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan dipicu oleh kebiasaan konsumsi makanan yang tinggi lemak dan gula yang semakin menjadi pola umum dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut dr. Consistania, dampak paling awal dari pola makan seperti itu sering kali tidak terlihat secara langsung, tetapi bekerja secara perlahan di dalam sistem pencernaan manusia.
Ia menjelaskan bahwa konsumsi makanan tinggi gula dan lemak dalam jangka panjang dapat mengganggu keseimbangan mikrobiota usus atau kondisi yang dikenal sebagai disbiosis.
“Bakteri baik di saluran cerna lama-lama kelaparan, digantikan bakteri jahat yang makanan utamanya high fat, tinggi lemak, dan gula. Akhirnya gangguan hormon, alerginya kumat, gampang sakit, bahkan perut sering kembung atau bloating,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa menjaga nutrisi seimbang bukan sekadar soal menghindari penyakit, tetapi juga berkaitan langsung dengan daya tahan tubuh serta produktivitas manusia dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Tubuh manusia, menurutnya, dapat dianalogikan seperti mesin kendaraan yang membutuhkan bahan bakar berkualitas agar tetap berfungsi optimal.
“Kita juga harus pilih bensin yang bagus. Itu artinya real food, makanan asli yang minim proses,” tuturnya.
Namun persoalan tidak hanya berhenti pada jenis makanan yang dikonsumsi, melainkan juga pada cara memasak dan menyimpan makanan di rumah tangga yang sering kali diabaikan.
“Dalam praktik sehari-hari, banyak keluarga mengandalkan rice cooker untuk menyimpan nasi dalam waktu lama, sebuah kebiasaan yang secara ilmiah dapat meningkatkan indeks glikemik makanan tersebut.”
Kondisi itu membuat gula darah dapat naik lebih cepat ketika nasi yang disimpan terlalu lama kemudian dikonsumsi kembali.
“Jadi habis tanak, langsung dikeluarkan di tempat penyimpanan nasi. Masak sampai dia matang, habis itu baru dipindahkan buat dikonsumsi, disimpan,” kata dr. Consistania menjelaskan.
Ia juga menyoroti praktik meal preparation atau persiapan makanan mingguan yang semakin populer di kalangan masyarakat perkotaan.
Menurutnya, bahan makanan yang sudah dicairkan dari kondisi beku seharusnya tidak dibekukan kembali karena dapat menurunkan kualitas nutrisi.
“Sekali lelehin, langsung dimasak, langsung dimakan. Kalau dia udah bolak-balik beku, cair, beku, cair, kualitas makanannya, nutrisinya sudah turun,” tambahnya.
Metode memasak yang menggunakan suhu tinggi secara berulang juga dapat merusak kandungan vitamin dan mineral dalam makanan.
Ia mencontohkan bahwa sayuran yang direbus berulang kali berpotensi kehilangan kandungan nutrisi penting yang larut dalam air.
“Kalau masak makanan yang misalnya direbus, direbusnya berulang-ulang. Itu si vitamin sama mineral yang larut air. Kadang-kadang larut sama air yang rebusan itu,” ungkapnya.
Kebiasaan lain yang sulit dilepaskan dari budaya kuliner masyarakat adalah konsumsi gorengan yang hampir selalu tersedia di berbagai tempat.
“Orang Indonesia biasanya suka gorengan. Gorengan yang tinggi lemak, udah gitu digoreng pakai minyak. Terus dia pakai deep fried,” ujarnya.
Selain itu, meningkatnya konsumsi makanan kemasan dan ultra-processed food juga menjadi faktor yang mempercepat kemunculan berbagai masalah kesehatan metabolik.
Produk seperti biskuit manis, minuman kemasan, hingga mi instan semakin mudah diakses dan sering kali menjadi pilihan praktis dalam kehidupan sehari-hari.
“Coba lihat rak-rak supermarket, makanan real food itu ada enggak? Banyaknya itu semuanya pada UPF yang sudah dikemas-kemas,” katanya.
Fenomena tersebut memperlihatkan ironi kesehatan modern: manusia hidup di era kemudahan pangan, tetapi justru semakin jauh dari sumber makanan alami yang sesungguhnya dibutuhkan tubuh.
Ketika pola konsumsi masyarakat didominasi makanan instan yang tinggi gula, garam, dan lemak, kesehatan publik perlahan berubah menjadi ladang risiko yang ditanam setiap hari melalui kebiasaan makan yang tampak sepele namun berdampak besar dalam jangka panjang.
Jika masyarakat terus dibiarkan tenggelam dalam arus makanan ultra-olahan yang menipu selera namun merusak kesehatan, maka industri pangan dapat berubah menjadi mesin raksasa yang secara perlahan menggerogoti tubuh manusia tanpa perlawanan kesadaran publik.
Di tengah situasi tersebut, para ahli gizi menilai pentingnya edukasi masyarakat agar kembali memahami konsep dasar konsumsi pangan yang lebih sehat dan seimbang.
Pemilihan bahan makanan segar, metode memasak yang tepat, serta kesadaran terhadap komposisi nutrisi menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan jangka panjang.
Real food, menurut para ahli gizi, tetap menjadi fondasi utama dalam pola makan sehat karena mengandung nutrisi alami yang dibutuhkan tubuh untuk menjaga metabolisme dan imunitas.
Ketika masyarakat kembali menempatkan makanan alami sebagai prioritas utama, ruang bagi dominasi makanan ultra-olahan akan menyempit dengan sendirinya.
Kesadaran kolektif mengenai pola makan sehat menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesehatan publik, karena tubuh manusia tidak dibangun untuk hidup dari makanan yang diproduksi secara massal dan sarat rekayasa industri; ketika makanan berubah menjadi komoditas instan yang memanjakan lidah tetapi mengorbankan kesehatan, masyarakat berhak mengingatkan bahwa kesehatan bukan sekadar pilihan pribadi, melainkan tanggung jawab bersama yang menentukan kualitas hidup generasi berikutnya.



















