Aspirasimediarakyat.com, Spanyol — Euforia panjang setelah memastikan gelar juara Liga Spanyol rupanya menyisakan satu ironi kecil bagi Barcelona: di tengah pesta yang menggema di jalan-jalan Catalonia, mesin kemenangan yang selama berminggu-minggu melaju nyaris tanpa cela justru tersendat oleh tim papan bawah, mengingatkan bahwa bahkan bagi seorang kampiun, sepak bola tetap menyimpan satu hukum sederhana—selebrasi boleh berlangsung meriah, tetapi kompetisi tak pernah benar-benar berhenti menuntut keseriusan.
Barcelona datang ke pekan ke-36 LaLiga dengan status yang nyaris sempurna. Gelar sudah di tangan, atmosfer ruang ganti sedang hangat, dan para pendukung masih menikmati euforia setelah kemenangan penting atas Real Madrid yang memastikan trofi ke-29 mereka.
Perayaan gelar itu bahkan dilakukan secara terbuka. Armada asuhan Hansi Flick berparade menggunakan bus terbuka di jalanan Kota Barcelona, menyapa ribuan pendukung yang memadati rute perayaan pada Senin, 11 Mei 2026.
Namun sepak bola sering kali menghadirkan ironi di momen paling tak terduga. Dua hari setelah pesta itu, Barcelona justru kehilangan momentum saat bertandang ke markas Deportivo Alaves di Stadion Mendizorroza.
Dalam laga yang digelar Rabu malam waktu setempat atau Kamis dini hari WIB, Blaugrana harus menyerah tipis 0-1. Kekalahan itu mungkin tidak menggoyahkan posisi mereka di puncak klasemen, tetapi tetap meninggalkan noda kecil dalam lembar musim yang nyaris sempurna.
Gol tunggal Ibrahim Diabate menjadi pembeda. Striker Alaves itu memanfaatkan peluang dengan penyelesaian yang cerdas, melepaskan tembakan sambil menjatuhkan badan di tengah tekanan dua pemain Barcelona.
Kiper Wojciech Szczesny tak mampu berbuat banyak. Bola meluncur deras dan memastikan publik tuan rumah bersorak, sementara bangku cadangan Barcelona hanya bisa menyaksikan satu catatan buruk mulai tercipta.
Pelatih Hansi Flick memang tampak melakukan rotasi. Sejumlah pemain utama diberi waktu beristirahat, sebuah keputusan yang cukup logis mengingat gelar telah diamankan dan musim segera berakhir.
Kombinasi pemain inti dan pelapis sebenarnya tetap membuat Barcelona unggul di atas kertas. Dari sisi kualitas individu, kedalaman skuad, hingga pengalaman, Blaugrana tetap jauh lebih mentereng dibanding Alaves.
Tetapi sepak bola tak dimainkan di atas kertas. Ia dimainkan di atas rumput, tempat determinasi kerap menumbangkan superioritas statistik dan motivasi sering mengalahkan reputasi.
Kekalahan itu menghentikan rekor kemenangan beruntun Barcelona di Liga Spanyol pada angka 11 laga. Sebuah catatan impresif yang dimulai sejak 22 Februari dan berakhir secara mendadak di Mendizorroza.
Rentetan itu sebelumnya memperlihatkan wajah Barcelona yang dominan. Mereka menaklukkan lawan demi lawan, termasuk rival abadi Real Madrid, seolah ingin menegaskan bahwa gelar musim ini diraih bukan karena kebetulan.
Selain memutus rekor kemenangan, hasil negatif tersebut juga mengubur peluang Barcelona mencapai 100 poin di akhir musim. Angka simbolik itu selalu menjadi tolok ukur keagungan sebuah kampiun.
Kini Barcelona tertahan di angka 91. Dengan dua pertandingan tersisa, jumlah maksimal yang bisa mereka capai hanya 97 poin—masih luar biasa, tetapi belum cukup untuk menyamai catatan legendaris masa lalu.
Rekor 100 poin masih menjadi milik Real Madrid musim 2011-2012 dan Barcelona musim 2012-2013. Adapun Barcelona era 2009-2010 menutup musim dengan 99 poin, nyaris sempurna.
Di sisi lain, kemenangan ini bagi Deportivo Alaves jauh lebih dari sekadar tiga poin. Ini adalah oksigen bagi klub yang sedang berjuang menghindari jurang degradasi.
Tambahan poin membawa Alaves keluar dari zona merah dengan koleksi 40 angka. Namun persaingan di papan bawah tetap brutal, karena selisih mereka dengan sejumlah rival hanya terpaut satu poin.
Artinya, kemenangan atas sang juara bukan sekadar kejutan, melainkan modal psikologis yang sangat mahal. Dalam situasi seperti ini, satu kemenangan bisa bernilai setara dengan satu musim kerja keras.
Bagi Barcelona, kekalahan ini tidak akan mengubah status mereka sebagai kampiun. Namun hasil tersebut menjadi pengingat bahwa kejayaan tidak pernah identik dengan kesempurnaan; selalu ada ruang kecil untuk koreksi, evaluasi, dan kerendahan hati. Sementara bagi publik sepak bola, laga ini sekali lagi membuktikan bahwa daya tarik olahraga ini justru lahir dari ketidakpastian—bahwa tim terbaik sekalipun bisa tersandung, dan dari sanalah kompetisi tetap terasa hidup, adil, serta layak dicintai.
Editor: Kalturo




















