“TKA SD–SMP 2026 Dimulai April, Pemetaan Akademik Jadi Fokus”

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyatakan Kemendikdasmen menetapkan TKA SD–SMP 2026 berbasis komputer mulai April. Tes ini tidak wajib dan bukan penentu kelulusan, dirancang untuk memetakan capaian belajar, terintegrasi dengan Asesmen Nasional, serta menuntut keadilan akses dan integritas pelaksanaan di seluruh daerah.

Aspirasimediarakyat.com — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menetapkan Tes Kemampuan Akademik SD/MI dan SMP/MTs 2026 berbasis komputer pada April sebagai instrumen pemetaan capaian belajar yang tidak menentukan kelulusan, dirancang adaptif mengikuti kesiapan daerah, terintegrasi dengan asesmen nasional, serta dimaksudkan memberi gambaran objektif kemampuan siswa bagi perbaikan pembelajaran, kurikulum, dan tata kelola pendidikan di tengah tuntutan keadilan akses, akuntabilitas penilaian, dan konsistensi regulasi pendidikan nasional.

Pengumuman resmi tersebut menegaskan bahwa TKA bukan ujian penentu nasib, melainkan alat diagnosis akademik. Pemerintah menempatkan TKA sebagai sarana membaca kondisi riil pembelajaran lintas wilayah, agar kebijakan peningkatan mutu tidak berangkat dari asumsi, melainkan dari data.

Pelaksanaan TKA 2026 menggunakan sistem Computer Based Test dengan penyesuaian infrastruktur di tiap daerah. Pendekatan ini dimaksudkan untuk menjaga kesetaraan proses, sembari mengantisipasi disparitas sarana teknologi yang masih nyata di sejumlah wilayah.

“Melalui hasil TKA, pemerintah, satuan pendidikan, dan pemangku kepentingan diharapkan memperoleh potret objektif kemampuan siswa. Data tersebut menjadi dasar intervensi pembelajaran, penyempurnaan kurikulum, serta perbaikan praktik pengajaran yang lebih tepat sasaran.”

Jadwal pelaksanaan telah disusun berlapis. Pendaftaran dibuka pada 19 Januari hingga 28 Februari 2026, memberi ruang bagi sekolah dan orang tua untuk memastikan kesiapan administratif serta persetujuan keikutsertaan siswa.

Baca Juga :  "Tamparan di Sekolah, Luka di Sistem: Ketika Guru Dihadapkan pada Hukum, Bukan Perlindungan"

Baca Juga :  "TKA SD–SMP 2026: Objektivitas Seleksi dan Ujian Keadilan Akses"

Baca Juga :  "Sekolah Bangkit Pascabencana, Negara Diuji Menjaga Hak Belajar Anak"

Tahap simulasi dijadwalkan berbeda untuk tiap jenjang. Siswa SMP mengikuti simulasi pada 23 Februari hingga 1 Maret 2026, disusul siswa SD pada 2 hingga 8 Maret 2026, sebagai uji kesiapan teknis dan literasi digital peserta.

Setelah itu, gladi bersih berlangsung pada 9 hingga 17 Maret 2026. Tahap ini menjadi krusial untuk memastikan sistem berjalan stabil, perangkat siap, dan potensi kendala lapangan dapat diidentifikasi lebih awal.

Pelaksanaan utama TKA SMP dijadwalkan pada 6 hingga 16 April 2026, sementara TKA SD berlangsung pada 20 hingga 30 April 2026. Pemerintah juga menyiapkan pelaksanaan susulan pada 11 hingga 17 Mei 2026 bagi peserta yang berhalangan.

Tahap pengolahan hasil direncanakan pada 18 hingga 23 Mei 2026, diikuti pengumuman hasil pada 24 Mei 2026. Hasil disajikan secara deskriptif agar mudah dipahami sekolah dan orang tua, tanpa label yang mereduksi potensi anak.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan bahwa TKA tidak bersifat wajib dan tidak menentukan kelulusan. Menurutnya, tes ini adalah instrumen evaluasi untuk memperkuat mutu pendidikan nasional melalui pemetaan kemampuan akademik yang adil.

Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Toni Toharudin, menyebut TKA sebagai alat diagnosis nasional. Ia menekankan pentingnya keberlanjutan asesmen agar kebijakan pendidikan tidak reaktif, melainkan berbasis bukti.

Di balik rancangan teknokratis tersebut, publik menaruh perhatian pada konsistensi implementasi di lapangan: kesiapan listrik dan jaringan, pendampingan sekolah dengan sumber daya terbatas, serta jaminan bahwa hasil TKA tidak disalahgunakan sebagai alat seleksi terselubung yang menekan siswa dan keluarga.

Ketidakadilan akses teknologi adalah luka lama pendidikan yang tak boleh kembali disamarkan oleh jargon digitalisasi, sebab ketika perangkat tak merata, yang tertinggal selalu anak-anak dari keluarga paling rentan.

Pendaftaran TKA dilakukan berjenjang melalui sekolah. Sekolah mendaftarkan siswa, menerbitkan surat pernyataan, memfasilitasi pengisian data oleh siswa dan orang tua, hingga menetapkan daftar nominasi sementara dan tetap, sebelum kartu peserta diterbitkan.

Baca Juga :  "Survei Kemenag Ungkap Krisis Literasi Al-Qur’an di Sekolah Dasar"

Baca Juga :  "Ketika Sekolah Jadi Pabrik Kepatuhan, Mencari Akar Bahari Pendidikan"

Baca Juga :  6 Program Baru Mendikdasmaen, Mulai Makan Siang sampai Pendapatan Guru

Kemendikdasmen menegaskan TKA SD dan SMP merupakan kelanjutan dari TKA SMA dan disinergikan dengan Asesmen Nasional. Integrasi ini dimaksudkan membangun sistem penilaian komprehensif yang konsisten dari waktu ke waktu.

Seluruh proses asesmen dilakukan berbasis komputer dengan penyesuaian teknis. Pemerintah menyatakan kesiapan untuk melakukan mitigasi kendala lapangan, termasuk pengaturan jadwal dan dukungan teknis di daerah dengan keterbatasan sarana.

Sistem penilaian yang gagal menjaga integritas dan pemerataan akan berubah menjadi mesin reproduksi ketimpangan, memperpanjang jarak antara pusat dan pinggiran dalam satu napas kebijakan yang seharusnya menyatukan.

Informasi tambahan menyebutkan hasil TKA jenjang SMA 2025 telah diumumkan pada akhir Desember 2025 dan sertifikat mulai dibagikan awal Januari 2026, menjadi referensi awal penerapan sistem asesmen berkelanjutan.

Dengan jadwal yang terukur, tujuan yang ditegaskan tidak menghukum, serta integrasi kebijakan asesmen, TKA 2026 menjadi ujian bagi negara untuk membuktikan bahwa data pendidikan benar-benar digunakan demi perbaikan pembelajaran, melindungi hak belajar anak, dan memastikan kebijakan berjalan selaras dengan kepentingan rakyat luas.


Banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *