Aspirasimediarakyat.com — Dua kota di Priangan Timur, Garut dan Tasikmalaya, berada di ambang perubahan besar dalam lanskap mobilitas, ekonomi, dan tata ruang regional seiring rencana pembangunan Jalan Tol Gedebage–Tasikmalaya (Getaci) yang mulai dieksekusi pada 2026 dan ditargetkan beroperasi penuh pada 2029, sebuah proyek infrastruktur strategis yang diyakini akan memangkas waktu tempuh secara drastis, membuka arus wisata dan investasi, serta memunculkan konsekuensi hukum, sosial, dan ekonomi yang menuntut kesiapan kebijakan publik yang matang.
Rencana pembangunan Tol Getaci menjadi salah satu proyek strategis nasional yang menyasar wilayah Jawa Barat bagian selatan, kawasan yang selama puluhan tahun dikenal memiliki potensi pariwisata besar namun terhambat aksesibilitas. Dengan konektivitas langsung dari Bandung Raya, Garut dan Tasikmalaya diproyeksikan menjadi simpul baru pergerakan orang dan barang, sekaligus magnet wisata yang selama ini sulit dijangkau karena kemacetan kronis di jalur nasional.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menegaskan bahwa ruas Tol Gedebage–Tasikmalaya memiliki daya tarik investasi yang kuat serta proyeksi lalu lintas yang tinggi, sehingga berpotensi direalisasikan lebih cepat dibandingkan sejumlah ruas tol lain. Pernyataan ini memperkuat posisi Tol Getaci sebagai proyek yang tidak hanya bertumpu pada kepentingan mobilitas, tetapi juga kalkulasi ekonomi jangka panjang.
Secara teknis, Tol Getaci dirancang dengan standar jalan tol nasional, memungkinkan kendaraan melaju pada kecepatan 80 hingga 100 kilometer per jam sesuai ketentuan perundang-undangan lalu lintas yang menetapkan batas minimal 60 kilometer per jam dan maksimal 100 kilometer per jam. Standar ini menjadi basis perhitungan efisiensi waktu tempuh yang selama ini menjadi keluhan utama pengguna jalan di Priangan Timur.
Dengan asumsi kecepatan rata-rata 90 kilometer per jam, jarak Bandung–Garut yang sekitar 45 kilometer dapat ditempuh hanya dalam 30 menit, jauh dari kondisi eksisting yang kerap memakan waktu hingga dua jam. Sementara Bandung–Tasikmalaya dengan jarak sekitar 95 kilometer diproyeksikan bisa ditempuh kurang dari satu jam, dibandingkan waktu normal tiga hingga empat jam melalui jalur arteri.
Efisiensi waktu tersebut membawa implikasi langsung terhadap produktivitas, biaya logistik, dan pola perjalanan masyarakat. Mobilitas yang lebih lancar membuka ruang bagi aktivitas ekonomi baru, memperluas pasar tenaga kerja, serta memungkinkan integrasi kawasan Priangan Timur ke dalam ekosistem ekonomi Jawa Barat secara lebih setara.
Selama ini, jalur nasional Bandung–Garut–Tasikmalaya dikenal sebagai lintasan dengan banyak simpul kemacetan, mulai dari Rancaekek, Nagreg, Kadungora, Leles, Limbangan, Malangbong, hingga Gentong. Pada momen libur panjang seperti Natal, Tahun Baru, dan Idulfitri, kemacetan berjam-jam menjadi rutinitas yang melelahkan sekaligus menurunkan minat wisatawan dari kota besar.
“Ketika akses publik dibiarkan tersendat bertahun-tahun, ketimpangan wilayah bukan lagi sekadar angka statistik, melainkan wajah ketidakadilan yang menahan hak warga untuk bergerak, berusaha, dan menikmati ruang hidupnya secara setara.”
Dengan hadirnya Tol Getaci, arus wisata diprediksi bergeser dan meluas. Wisatawan dari Jakarta yang selama ini memadati destinasi di Bandung setiap akhir pekan diyakini akan melirik Garut dan Tasikmalaya sebagai alternatif baru, sementara warga Bandung dan sekitarnya memiliki pilihan destinasi yang lebih variatif tanpa harus berhadapan dengan kelelahan perjalanan.
Garut memiliki portofolio wisata alam dan budaya yang beragam, mulai dari pemandian air panas Cipanas, Kawah Darajat, Gunung Papandayan, Telaga Bodas, Gunung Cikuray, hingga kawasan pantai seperti Rancabuaya dan Sayang Heulang, serta warisan budaya Kampung Pulo dan Candi Cangkuang yang sarat nilai sejarah dan kearifan lokal.
Kabupaten Tasikmalaya tak kalah kaya dengan Kawah dan pemandian air panas Gunung Galunggung, Kampung Adat Naga, lanskap alam Pangangonan Hill, serta pantai Cipatujah dan Karang Tawulan. Sementara Kota Tasikmalaya dikenal sebagai pusat wisata keluarga, ruang terbuka hijau, dan sentra kerajinan rakyat seperti payung geulis dan batik Tasik.
Namun derasnya arus wisata tanpa tata kelola yang adil berisiko menjadikan ruang publik sekadar ladang eksploitasi, tempat keuntungan berputar di segelintir tangan sementara warga lokal hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri.
Tol Getaci juga dirancang dengan empat gerbang utama untuk melayani pergerakan ke Garut dan Tasikmalaya, yakni Gerbang Tol Garut Utara di Banyuresmi, Gerbang Tol Garut Selatan di Salawu, Gerbang Tol Kabupaten Tasikmalaya di Singaparna, serta Gerbang Tol Kota Tasikmalaya di Kawalu. Penempatan gerbang ini berpengaruh langsung terhadap pola distribusi ekonomi dan pengembangan kawasan sekitar.
Dari perspektif hukum dan tata ruang, kehadiran tol menuntut sinkronisasi rencana detail tata ruang daerah, pengendalian alih fungsi lahan, serta perlindungan terhadap pelaku usaha kecil agar tidak terpinggirkan oleh spekulasi tanah dan ekspansi modal berskala besar.
Anggota DPRD Kota Tasikmalaya dari Fraksi PDI Perjuangan, Kepler Sianturi, menyatakan bahwa pemerintah daerah perlu bersikap optimistis namun tetap realistis dalam menyambut operasional Tol Getaci. Ia menekankan bahwa proyek ini harus dimaknai sebagai momentum emas untuk mendorong ekonomi berkelanjutan, bukan sekadar lonjakan kunjungan sesaat.
Kepler juga mendorong peningkatan kapasitas UMKM lokal agar mampu berpartisipasi aktif dalam perubahan ekonomi dan sosial pasca-beroperasinya tol, termasuk keterlibatan dalam perencanaan tata ruang dan penguatan produk lokal agar tidak tersisih oleh arus barang dari luar daerah.
Tol Getaci bukan hanya soal jalan beton dan kecepatan kendaraan, melainkan ujian bagi keberpihakan kebijakan publik terhadap pemerataan, keadilan ekonomi, dan hak masyarakat lokal untuk tumbuh bersama perubahan, sehingga pembangunan benar-benar menjadi alat kesejahteraan bersama dan bukan sekadar etalase kemajuan yang menjauh dari denyut kehidupan rakyat.



















