“Suara Ibu Indonesia: Melawan Kekerasan dan Menjaga Demokrasi”

Suara Ibu Indonesia kecam kekerasan aparat terhadap massa aksi penolak RUU TNI, menyebutnya sebagai bukti pemerintah menjauh dari prinsip demokrasi.

aspirasimediarakyat.com – Barisan perempuan yang tergabung dalam Suara Ibu Indonesia kembali turun ke jalan, mengecam keras tindakan represif aparat terhadap massa aksi yang menolak pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) TNI. Aksi ini berlangsung di Sarinah, Jakarta Pusat, pada Jumat, 28 Maret 2025, dengan suara lantang dari Koordinator Aksi, Ririn Sefsani. Ia menyebut tindakan kekerasan aparat sebagai bukti nyata bahwa pemerintah semakin menjauh dari prinsip demokrasi.

“Tindakan kekerasan itu bukti nyata bahwa rezim ini antidemokrasi,” ujar Ririn dengan tegas di tengah kerumunan massa yang membawa spanduk dan poster berisi tuntutan mereka. Aksi ini tidak hanya berlangsung di Jakarta, tetapi juga di berbagai kota lain seperti Malang, Surabaya, Bandung, Bekasi, Karawang, Kupang, dan Medan.

Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia mencatat bahwa aksi menolak RUU TNI telah mengakibatkan puluhan orang menjadi korban intimidasi, kekerasan, penyiksaan, hingga penangkapan sewenang-wenang. Di Surabaya, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) setempat bahkan mendampingi 25 orang yang ditangkap tanpa alasan jelas oleh aparat keamanan.

Ririn Sefsani, yang pernah menjadi bagian dari gerakan Suara Ibu Peduli di era Orde Baru, mengaku bahwa situasi saat ini mengingatkannya pada masa-masa kelam di bawah pemerintahan Soeharto. Sebagai mahasiswa kala itu, ia kerap turun ke jalan bersama kelompok perempuan dan ibu-ibu lainnya untuk melawan ketidakadilan. “Kami yang masih hidup tidak ingin sejarah kelam Orde Baru kembali lagi. Karena itu kami melawan,” tegasnya.

Ia menyoroti bahwa tindakan represif aparat terhadap massa aksi menunjukkan kurangnya penghargaan terhadap aspirasi publik. Menurutnya, tugas aparat seharusnya menjaga keamanan, bukan justru melakukan tindakan represif yang mencederai hak-hak masyarakat. “Aparat seharusnya menjaga untuk aman, bukan justru melakukan represi,” katanya.

Ririn juga menyampaikan kekhawatirannya terhadap masa depan generasi muda Indonesia. Ia tidak rela jika masa depan anak-anak bangsa direnggut oleh keserakahan elite pejabat yang hanya mementingkan kepentingan pribadi. “Kami tidak rela anak-anak kami hidup di Indonesia yang kehilangan kemanusiaan, keadilan, dan kemerdekaan bersama,” ucapnya dengan penuh emosi.

Suara Ibu Indonesia, lanjut Ririn, berkomitmen untuk mendampingi perjuangan anak-anak muda dan mahasiswa yang turun ke jalan memperjuangkan masa depan bangsa. Ia menegaskan bahwa ibu-ibu di seluruh Indonesia tidak akan melarang anak-anak mereka untuk menyuarakan kebenaran. “Kami akan terus mendukung perjuangan ini untuk melawan kekuasaan yang korup,” tambahnya.

Baca Juga :  "Proyek Rel Termahal RI: Bayang-Bayang Utang dan Janji Tanpa APBN"

Aksi ini juga menjadi pengingat bahwa perjuangan perempuan dalam menjaga demokrasi tidak pernah berhenti. Suara Ibu Indonesia, yang lahir dari semangat melawan ketidakadilan, kini kembali menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan hak-hak rakyat. Mereka menolak diam di tengah situasi yang semakin mengkhawatirkan.

Di sisi lain, LBH Surabaya mengungkapkan bahwa tindakan penangkapan sewenang-wenang oleh aparat telah menciptakan trauma bagi para korban. Banyak dari mereka yang ditangkap tanpa alasan jelas, hanya karena ikut menyuarakan penolakan terhadap RUU TNI. “Kami mendampingi mereka untuk memastikan hak-hak mereka tidak dilanggar,” ujar perwakilan LBH Surabaya.

Aksi ini juga mendapat dukungan dari berbagai elemen masyarakat, termasuk mahasiswa, aktivis, dan organisasi masyarakat sipil. Mereka bersatu dalam satu suara: menolak kekerasan dan menuntut pemerintah untuk menghormati prinsip-prinsip demokrasi. “Ini bukan hanya tentang RUU TNI, tetapi tentang masa depan demokrasi di Indonesia,” kata salah satu peserta aksi.

Ririn menegaskan bahwa perjuangan ini bukan hanya untuk generasi saat ini, tetapi juga untuk generasi mendatang. Ia berharap bahwa aksi-aksi seperti ini dapat membuka mata pemerintah dan masyarakat luas tentang pentingnya menjaga demokrasi dan keadilan. “Kami tidak akan berhenti sampai keadilan benar-benar ditegakkan,” ujarnya.

Aksi Suara Ibu Indonesia di Sarinah menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan. Dengan semangat yang tak pernah padam, mereka terus menyuarakan aspirasi rakyat, menolak kekerasan, dan memperjuangkan demokrasi. “Kami adalah suara ibu-ibu yang tidak akan pernah diam,” tutup Ririn.

Perjuangan ini menjadi pengingat bahwa demokrasi adalah hak yang harus dijaga bersama. Di tengah tekanan dan tantangan, Suara Ibu Indonesia tetap berdiri teguh, membawa harapan bagi masa depan yang lebih baik. Semua mata kini tertuju pada langkah pemerintah dalam merespons tuntutan ini. Akankah suara rakyat didengar, atau justru diabaikan? Hanya waktu yang akan menjawab.

Banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *