Aspirasimediarakyat.com, Jakarta — Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp18.049 per dolar Amerika Serikat, diiringi meningkatnya kritik terhadap arah demokrasi nasional, mendorong Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) menyiapkan konsolidasi gerakan mahasiswa sebagai respons atas situasi yang mereka nilai mencerminkan akumulasi persoalan ekonomi, politik, dan tata kelola negara yang semakin mengundang kegelisahan publik.
Ketua Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia, Yatalathof Ma’shum Imawan, menyatakan pihaknya akan melakukan konsolidasi untuk menyikapi kondisi ekonomi dan demokrasi yang berkembang dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Langkah tersebut diawali dengan forum diskusi internal yang melibatkan berbagai elemen mahasiswa di lingkungan kampus.
Menurut Yatalathof, agenda awal akan dimulai melalui Focus Group Discussion (FGD) yang membahas persoalan kebangsaan secara lebih mendalam. Setelah itu, mahasiswa akan melanjutkan dengan konsolidasi nasional guna menyatukan pandangan dan sikap terhadap berbagai isu yang sedang berkembang.
“Senin kita akan ada FGD membahas masalah kebangsaan. Kemudian, Rabu ada konsolidasi nasional,” kata Yatalathof pada Ahad, 7 Juni 2026.
Hingga kini, belum ada kepastian apakah konsolidasi tersebut akan bermuara pada aksi demonstrasi berskala besar. Namun, pernyataan yang disampaikan pengurus mahasiswa menunjukkan bahwa ruang kritik terhadap kebijakan negara masih menjadi perhatian utama kalangan kampus.
Sebelumnya, BEM UI telah menggelar aksi simbolik di kawasan Tugu Makara, Kampus UI Depok, pada 20 Mei 2026. Aksi tersebut menarik perhatian publik karena mengusung narasi yang sangat keras terhadap kondisi demokrasi nasional.
Mahasiswa yang hadir mengenakan pakaian serba hitam sebagai simbol duka. Mereka membawa berbagai spanduk bertuliskan “Reformasi Mati, Prabowo Happy” serta “Adili Prabowo dan Kroninya”, disertai replika makam dan nisan bertuliskan “RIP Reformasi”.
“Di tengah ruang demokrasi yang seharusnya menjadi arena pertukaran gagasan secara sehat, simbol pemakaman reformasi yang dihadirkan mahasiswa menjadi gambaran keras tentang munculnya kegelisahan sebagian generasi muda terhadap arah perjalanan bangsa, seolah cita-cita reformasi yang dahulu diperjuangkan dengan pengorbanan besar kini sedang diuji oleh realitas politik yang mereka nilai semakin menjauh dari harapan awal.”
Koordinator aksi saat itu, Hafidz Haernanda, mengatakan kegiatan tersebut merupakan pernyataan sikap mahasiswa terhadap kondisi demokrasi yang mereka amati saat ini.
“Kami menyatakan bahwa reformasi yang selama ini diperjuangkan kini telah mati,” ujar Hafidz di lokasi aksi.
Menurut Hafidz, berbagai agenda reformasi yang selama puluhan tahun diperjuangkan belum sepenuhnya tercapai. Ia menilai sejumlah indikator menunjukkan kemunduran yang perlu mendapat perhatian serius dari seluruh elemen bangsa.
Ia bahkan menyebut situasi yang berkembang memiliki kemiripan tertentu dengan pola kekuasaan pada masa Orde Baru, sebuah pernyataan yang tentu memancing perdebatan karena menyentuh memori kolektif bangsa tentang hubungan antara negara dan kebebasan sipil.
Kegelisahan mahasiswa tidak hanya berhenti pada isu demokrasi. Kondisi ekonomi nasional juga menjadi bahan kritik yang terus menguat dalam beberapa pekan terakhir.
Aliansi BEM Seluruh Indonesia (BEM SI), misalnya, menggelar aksi teatrikal di depan kantor Bank Indonesia Perwakilan Jawa Tengah di Semarang pada 5 Juni 2026. Dalam aksi tersebut, massa membakar uang kertas tiruan sebagai simbol protes terhadap pelemahan nilai tukar rupiah.
Bagi kalangan mahasiswa, melemahnya rupiah bukan sekadar angka di layar monitor pasar keuangan, melainkan sinyal yang berpotensi berdampak pada harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, biaya produksi industri, hingga daya beli masyarakat yang menjadi fondasi kehidupan ekonomi sehari-hari.
Data perdagangan menunjukkan nilai tukar rupiah pada Kamis sore, 4 Juni 2026, berada di posisi Rp18.049 per dolar Amerika Serikat, melemah dibandingkan posisi sebelumnya yang berada pada kisaran Rp17.966 per dolar Amerika Serikat.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui pelemahan rupiah memiliki konsekuensi terhadap beban pembayaran utang pemerintah. Menurutnya, pemerintah telah melakukan berbagai simulasi untuk mengantisipasi perubahan kondisi ekonomi global dan domestik.
Purbaya menjelaskan asumsi nilai tukar rupiah dalam APBN 2026 berada pada level Rp16.500 per dolar Amerika Serikat. Meski demikian, ia menegaskan fundamental ekonomi Indonesia menurut perhitungan pemerintah masih lebih kuat dibandingkan kondisi kurs yang sedang terjadi saat ini.
“Fundamental rupiah berada di bawah level yang sekarang, lebih kuat dari yang sekarang,” ujar Purbaya.
Perdebatan yang berkembang antara optimisme pemerintah dan kegelisahan mahasiswa menunjukkan adanya jurang persepsi yang perlu dijembatani melalui transparansi, komunikasi publik yang terbuka, serta kebijakan yang mampu dirasakan manfaatnya secara nyata oleh masyarakat. Di tengah fluktuasi ekonomi global dan dinamika politik nasional, suara mahasiswa menjadi pengingat bahwa demokrasi tidak hanya diukur dari keberadaan institusi, melainkan juga dari kemampuan negara menerima kritik, menjawab keresahan publik, serta memastikan kesejahteraan rakyat tidak sekadar menjadi angka dalam laporan, tetapi hadir sebagai kenyataan yang dapat dirasakan di meja makan, ruang kelas, tempat kerja, dan kehidupan sehari-hari warga negara.
Editor: Kalturo




















