Terungkap! Misteri Pagar Bambu di Laut Bekasi dan Polemiknya

Ribuan Tiang Bambu di Laut Bekasi Milik PT TRPN dan PT MAN: Ungkap Pemprov Jabar.

aspirasimediarakyat.com – Polemik baru mencuat di awal tahun 2025 terkait keberadaan ribuan tiang bambu yang menancap di lepas pantai sepanjang 30,16 kilometer di perairan Kampung Paljaya, Desa Segara Jaya, Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Pagar bambu misterius ini ternyata milik dua perusahaan swasta, yaitu PT Tunas Ruang Pelabuhan Nusantara (TRPN) dan PT Mega Agung Nusantara (MAN).

Keberadaan pagar bambu ini telah menimbulkan banyak pertanyaan dari masyarakat, khususnya para nelayan setempat. Mereka merasa terganggu dengan adanya pagar tersebut, yang memaksa mereka harus memutar lebih jauh untuk melaut. “Kita bertanya-tanya, dan apakah sudah mendapatkan izin atau belum,” ujar seorang nelayan setempat, Tayum, kepada Kompas.com, Senin (13/1/2025).

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat akhirnya mengungkap bahwa pagar bambu itu dipasang oleh kedua perusahaan tersebut dalam rangka pengerjaan alur pelabuhan. Menurut Kepala UPTD Pelabuhan Perikanan Muara Ciasem pada Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Barat, Ahman Kurniawan, pagar bambu ini membentang hingga lima kilometer dengan lebar 70 meter dan kedalaman lima meter. “Sebelah kiri alur dimiliki oleh TRPN dan sebelah kanannya dimiliki oleh PT MAN,” kata Ahman di Kampung Paljaya, Selasa (14/1/2025).

Ahman menjelaskan bahwa pembangunan alur pelabuhan sisi kiri merupakan bagian dari penataan ulang kawasan Satuan Pelayanan (Satpel) Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Paljaya seluas 7,4 hektare. Nilai investasi yang dikucurkan oleh PT TRPN dalam proyek ini mencapai sekitar Rp 200 miliar. “Untuk di pantai utara itu berkisar antara Rp 100 miliar sampai Rp 200 miliar, tergantung situasi kondisi,” ungkap Ahman.

Pembangunan alur pelabuhan ini diklaim akan memudahkan keluar masuknya kapal nelayan dari laut lepas menuju PPI Paljaya untuk bongkar muat hasil tangkapan ikan. Ahman juga menambahkan bahwa perairan di utara Bekasi umumnya sudah dikuasai sejumlah pihak, baik perseorangan maupun perusahaan. Hal ini terlihat dari adanya patok-patok bambu yang terhampar di perairan.

Baca Juga :  "Kekalahan Perdana Basket Putri Indonesia dan Jalan Terjal Menuju Empat Besar SEA Games 2025"

Karena itu, pembangunan alur pelabuhan ini diklaim dibutuhkan oleh nelayan setempat jika wilayah perairan utara Bekasi berubah wajah menjadi kawasan industri perikanan. “Nah, ketika nelayan umpamanya tidak memiliki alurnya, kita siapkan dari sekarang,” imbuh Ahman.

Sebelumnya, keberadaan pagar misterius di perairan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, dipertanyakan oleh nelayan setempat. Mereka tidak mengetahui pasti tujuan pemasangan ribuan batang bambu di perairan tersebut sejak enam bulan terakhir. “Kita bertanya-tanya, dan apakah sudah mendapatkan izin atau belum,” ujar Tayum.

Video yang beredar di media sosial menunjukkan ribuan batang bambu terpancang secara rapi di dua sudut wilayah perairan Tarumajaya. Jejeran bambu tersebut membentuk garis panjang menyerupai tanggul dengan hamparan perairan di tengahnya yang mirip sungai. Tayum menjelaskan bahwa tanah di antara sekat bambu tersebut berasal dari tanah laut sekitar. Proses pengerukan tanah laut dilakukan dengan menggunakan tiga alat berat ekskavator yang beroperasi sepanjang siang dan malam. Tanah yang berhasil dikeruk kemudian diuruk ke sela-sela dua sudut bambu yang terpancang, sehingga membentuk struktur menyerupai tanggul. “Setelah sekian lama, akhirnya mereka merambah sampai delapan kilometer menguruknya,” ungkap Tayum.

Di sisi lain, keberadaan pagar bambu ini menimbulkan polemik di kalangan masyarakat dan nelayan. Pembangunan pagar ini dinilai merugikan nelayan yang harus mengeluarkan biaya lebih banyak untuk melaut. Para nelayan juga mempertanyakan legalitas pembangunan pagar ini dan dampaknya terhadap lingkungan.


 

Banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *