Aspirasimediarakyat.com —Langkah mereka bukan sekadar perpindahan karier, melainkan bentuk perlawanan senyap terhadap sistem yang selama ini membentuk dan mengekang. Ketika kabar Rinov Rivaldy dan Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan resmi keluar dari Pelatnas PBSI pada 18 Oktober 2025 mencuat, dunia bulu tangkis Indonesia seolah terbelah dua: antara yang memandangnya sebagai langkah berani, dan yang menyebutnya tindakan gegabah. Dua nama yang selama ini menjadi bagian dari kebanggaan Merah Putih itu kini memilih menempuh jalan sunyi—berdiri di luar bayang-bayang institusi besar yang selama bertahun-tahun menjadi simbol prestasi nasional.
Keputusan ini tidak datang sendirian. Bersama mereka, dua pemain putri, Pitha Haningtyas Mentari dan Lisa Ayu Kusumawati, juga memilih status baru sebagai atlet independen. Keempatnya kini berdiri di jalur yang sama—jalur yang tidak menjanjikan kenyamanan fasilitas pelatnas, tetapi menjanjikan kebebasan menentukan arah dan pasangan mereka sendiri.
Rinov dan Yeremia kini tampil sebagai ganda putra independen, setelah sebelumnya berkarier di sektor yang berbeda. Rinov dikenal sebagai pemain ganda campuran bersama Pitha Haningtyas, sementara Yere—sapaan akrab Yeremia—merupakan andalan di ganda putra bersama Muhammad Rian Ardianto. Kini, keduanya memilih kembali berpasangan seperti delapan tahun lalu di Kejuaraan Dunia Junior 2017, saat mereka berhasil mempersembahkan medali perunggu bagi Indonesia.
Namun perjalanan debut mereka sebagai pemain independen tak semulus harapan. Dalam turnamen Indonesia International Challenge I 2025 di GOR Amongrogo, Yogyakarta, 11–16 November, Rinov/Yere justru harus menelan kekalahan pahit di babak 32 besar. Mereka dipaksa menyerah dari pasangan Malaysia unggulan ketiga, Muhammad Faiq/Lok Hong Quan, dengan skor 19-21 dan 19-21. Di rumah sendiri, dengan sorotan publik yang begitu besar, mereka justru terhenti terlalu cepat.
Sorotan negatif pun tak bisa dihindari. Di media sosial, banyak yang menuding langkah keluar dari pelatnas sebagai kesalahan besar, bahkan dianggap “bunuh diri karier.” Padahal, bagi mereka, keputusan itu diambil setelah melewati serangkaian kekecewaan panjang atas performa yang stagnan dan sistem pembinaan yang dirasa tidak lagi memberi ruang berkembang.
Rinov/Pitha misalnya, sepanjang musim 2025 tampil jauh dari harapan. Mereka hanya sampai perempat final di Kejuaraan Asia, lalu berturut-turut terhenti di babak 32 besar di Singapore Open (Super 750), Indonesia Open (Super 1000), dan Macau Open (Super 300). Catatan serupa juga terjadi di Kejuaraan Dunia BWF 2025, di mana mereka tak mampu menembus babak awal.
Kegagalan demi kegagalan itu berujung pada penarikan nama mereka dari daftar peserta beberapa turnamen penting, termasuk Hong Kong Open, China Masters, Korea Open, Arctic Open, hingga Denmark Open. Situasi ini, menurut sejumlah pengamat, menjadi titik balik frustrasi yang akhirnya membuat mereka memutuskan keluar dari sistem pelatnas.
Sementara itu, Yere yang berduet dengan Rian Ardianto juga mengalami nasib serupa. Duet ini gagal menunjukkan performa meyakinkan di dua turnamen besar—China Masters 2025 dan Korea Open 2025—keduanya terhenti di babak 32 besar. Kombinasi ini membuat langkah keduanya seperti kehilangan arah dan konsistensi, hingga akhirnya diputuskan bubar.
“Langkah keluar dari pelatnas bagi sebagian pemain bukan sekadar keputusan karier, tapi juga bentuk protes atas sistem pembinaan yang dianggap terlalu sentralistik. Dalam sistem yang menuntut hasil instan, banyak pemain merasa kehilangan kendali atas kariernya sendiri. Di sinilah muncul narasi baru: pemain bukan lagi sekadar atlet di bawah komando lembaga, tapi juga individu yang ingin menentukan masa depannya sendiri.”
Namun di sisi lain, para pengkritik menilai keputusan keluar dari pelatnas bisa menjadi bumerang. Dengan sistem dukungan sponsor, pelatih, dan fisioterapis yang terpusat di pelatnas, pemain independen kerap kesulitan menjaga ritme latihan, biaya turnamen, dan logistik kompetisi internasional. “Kemandirian itu mahal, bukan hanya secara finansial, tapi juga secara mental,” ujar seorang mantan pelatih nasional yang enggan disebut namanya.
Dalam konteks regulasi, PBSI sejatinya tidak melarang pemain untuk menjadi independen. Berdasarkan Anggaran Dasar dan Rumah Tangga PBSI, setiap atlet berhak menentukan jalur kariernya, selama tidak melanggar kontrak dan ketentuan etika pembinaan. Namun konsekuensinya jelas: pemain independen tidak lagi mendapat subsidi pelatihan, akses pelatih nasional, maupun dukungan administratif untuk turnamen internasional, kecuali melalui jalur klub masing-masing.
Secara hukum, keputusan ini sah. Namun secara moral, publik kerap menilai langkah semacam ini sebagai bentuk “pembelotan lembut.” Narasi seperti ini muncul karena pelatnas selama ini dianggap sebagai lambang nasionalisme dalam olahraga. Padahal, di banyak negara lain, sistem atlet independen justru menjadi bagian dari dinamika profesional olahraga modern.
Betapa ironis ketika bangsa yang selama ini mengagungkan prestasi olahraga justru sering menekan pemainnya dengan beban birokrasi dan ekspektasi tanpa solusi. Rinov dan Yere, dalam konteks ini, hanyalah dua dari sekian banyak nama yang berani mengambil risiko melawan sistem yang kaku—sebuah langkah yang tak banyak berani diambil oleh generasi sebelumnya. Mereka menanggung risiko cibiran publik demi secuil ruang kebebasan berkompetisi.
Kini, setelah resmi menjadi pemain independen, Rinov kembali di bawah naungan PB Djarum, sementara Yere berlabuh di PB Exist. Dua klub besar ini diharapkan mampu menjadi penopang baru bagi karier mereka di luar pelatnas. Klub-klub swasta memang memiliki rekam jejak kuat dalam membina pemain unggulan—PB Djarum misalnya, dikenal melahirkan nama-nama besar seperti Kevin Sanjaya dan Mohammad Ahsan.
Publik kini menanti, apakah langkah berani ini akan berbuah manis atau justru berakhir sebagai catatan getir dalam perjalanan karier mereka. Banyak yang berharap, seperti pepatah lama, “anak panah harus ditarik mundur lebih dulu sebelum melesat lebih jauh.”
Bahwa di balik layar, dunia bulu tangkis Indonesia kini tengah menghadapi ujian besar. Ketika pemain-pemain terbaik mulai memilih jalan independen, itu pertanda bahwa ada sesuatu yang harus diperbaiki dari sistem yang berjalan. Jika tidak, jangan salahkan bila generasi berikutnya memilih meninggalkan pelatnas satu per satu—bukan karena kehilangan nasionalisme, tetapi karena kehilangan ruang untuk tumbuh sebagai manusia dan atlet seutuhnya.
Rinov dan Yere mungkin kalah di debutnya. Tapi dalam perjalanan panjang menuju kemandirian, kekalahan bukan akhir, melainkan bab pertama dari perjuangan baru—perjuangan melawan sistem yang terlalu nyaman untuk berubah, dan terlalu keras bagi yang ingin bebas.



















