Aspirasimediarakyat.com, Jakarta — Persepsi bahwa gula menjadi biang keladi hiperaktivitas anak kembali dipertanyakan di tengah maraknya kekhawatiran orang tua terhadap pola konsumsi anak, membuka ruang diskusi yang lebih luas tentang batas antara mitos populer dan fakta medis, sekaligus menyoroti pentingnya literasi kesehatan yang berbasis bukti agar keputusan sehari-hari dalam pemberian nutrisi tidak terjebak pada asumsi yang belum tentu akurat.
Isu gula dan perilaku anak telah lama menjadi perdebatan di ruang publik. Banyak orang tua meyakini bahwa konsumsi gula secara langsung berkorelasi dengan meningkatnya perilaku hiperaktif pada anak.
Namun, pandangan tersebut tidak sepenuhnya sejalan dengan penjelasan medis. Dokter spesialis anak dari Primaya Hospital Kelapa Gading, dr. Susanti Himawan, Sp.A, menegaskan bahwa hubungan tersebut tidak berlaku secara umum.
“Gula itu bisa lebih bikin hiperaktif enggak sih? Kalau pada anak yang normal itu sebenarnya tidak,” ungkap dr. Susanti dalam wawancara yang dilakukan secara daring.
Ia menjelaskan bahwa efek gula terhadap perilaku anak sangat bergantung pada kondisi masing-masing individu. Tidak semua anak merespons konsumsi gula dengan cara yang sama.
Dalam konteks tertentu, dugaan gula memicu hiperaktivitas lebih relevan pada anak dengan kondisi khusus, seperti Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau ADHD.
“Gula diduga memang bisa menyebabkan anak itu menjadi lebih aktif karena setelah makan gula itu jadinya banyak energinya. Itu memang diduga demikian khusus untuk anak yang ADHD,” jelasnya.
“Penjelasan ini menunjukkan bahwa peningkatan energi setelah konsumsi gula bukan berarti perubahan perilaku yang tidak terkendali. Pada anak dengan perkembangan normal, energi tersebut biasanya tetap dalam batas wajar.”
Dengan demikian, anggapan bahwa gula secara otomatis membuat anak menjadi hiperaktif perlu dilihat secara lebih kritis. Generalisasi tanpa dasar ilmiah berpotensi menimbulkan kekhawatiran yang tidak perlu.
Meski demikian, bukan berarti konsumsi gula dapat dibiarkan tanpa kontrol. Dari sisi kesehatan, terdapat rekomendasi yang jelas terkait batasan konsumsi gula, terutama pada anak usia dini.
Untuk anak di bawah dua tahun, dr. Susanti menegaskan bahwa tidak dianjurkan mengonsumsi minuman yang mengandung gula tambahan. Air putih tetap menjadi pilihan terbaik.
“Anak di bawah dua tahun itu tidak boleh minum minuman yang ada gulanya. Minuman yang terbaik adalah air putih,” ujarnya.
Sebagai alternatif, rasa manis dapat diperoleh dari sumber alami seperti buah-buahan. Gula alami ini dinilai lebih aman dibandingkan gula tambahan dalam produk olahan.
Minuman manis kemasan seperti sirup, teh manis, atau minuman berpemanis lainnya sebaiknya dihindari pada usia tersebut. Hal ini penting untuk menjaga pola makan sehat sejak dini.
Untuk anak di atas dua tahun, konsumsi gula diperbolehkan dengan batas tertentu. Rekomendasi ini disesuaikan dengan usia dan kebutuhan energi anak.
“Kalau dua sampai tiga tahun, kira-kira tiga sampai empat sendok teh. Kalau empat sampai enam tahun itu maksimal lima sendok teh. Tujuh tahun ke atas itu maksimal enam sendok teh,” jelas dr. Susanti.
Batasan ini menunjukkan bahwa pengendalian konsumsi gula bukan soal pelarangan total, melainkan pengaturan yang proporsional agar tidak berdampak buruk bagi kesehatan.
Selain jumlah, waktu konsumsi gula juga menjadi perhatian. Banyak anggapan bahwa gula yang dikonsumsi pada malam hari dapat mengganggu kualitas tidur anak.
Secara ilmiah, tidak ada aturan yang secara tegas melarang konsumsi gula pada waktu tertentu. Namun, pertimbangan praktis tetap diperlukan.
dr. Susanti menyarankan agar konsumsi gula dihindari menjelang waktu tidur untuk mencegah lonjakan energi yang dapat mengganggu istirahat anak.
“Kalau bisa dihindari sebelum tidur untuk menghambat lonjakan kadar gula sebelum tidur. Jadi kalau memang mengonsumsi gula, mau pagi atau siang masih lebih disarankan dibanding malam hari,” ujarnya.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa pengelolaan pola makan anak membutuhkan keseimbangan antara pemahaman ilmiah dan praktik sehari-hari. Orang tua dituntut lebih selektif dalam memilih asupan.
Dalam konteks yang lebih luas, edukasi tentang konsumsi gula menjadi bagian penting dari upaya pencegahan masalah kesehatan anak, termasuk obesitas dan gangguan metabolik.
Informasi yang akurat dan berbasis medis menjadi kunci agar masyarakat tidak terjebak dalam mitos yang berulang tanpa verifikasi ilmiah.
Kesadaran ini juga mendorong peran tenaga kesehatan untuk terus memberikan pemahaman yang tepat kepada publik, terutama dalam isu yang sering disalahartikan.
Pemahaman yang utuh mengenai konsumsi gula dan dampaknya terhadap perilaku anak menunjukkan bahwa persoalan ini tidak sesederhana hubungan sebab-akibat yang sering diasumsikan, melainkan memerlukan pendekatan yang lebih rasional, berbasis data, dan mempertimbangkan kondisi individu, sehingga keputusan dalam pemberian asupan tidak hanya berangkat dari kekhawatiran, tetapi dari pengetahuan yang dapat melindungi tumbuh kembang anak secara optimal.



















