Daerah  

“Pohon Tumbang Lumpuhkan Akses Empat Jam di Seberang Ulu I, Warga Minta Pemkot Palembang Waspadai Pohon Tua Berisiko”

Hujan deras mengguyur Seberang Ulu I, Palembang, dini hari tadi membawa petaka kecil — pohon besar berusia puluhan tahun tumbang di Jalan Panca Usaha, 5 Ulu, menutup jalan dan melumpuhkan arus lalu lintas selama empat jam.

Aspirasimediarakyat.comHujan deras yang mengguyur kawasan Seberang Ulu I, Palembang, dini hari tadi tak hanya membawa kesejukan — tapi juga petaka kecil bagi warga. Sebuah pohon besar berusia puluhan tahun tumbang di Jalan Panca Usaha, Kelurahan 5 Ulu, menutup seluruh badan jalan dan melumpuhkan arus lalu lintas selama hampir empat jam. Pengendara motor, mobil, hingga pejalan kaki terpaksa menepi, menunggu proses evakuasi yang berlangsung hingga pagi hari.

Deru mesin kendaraan berubah menjadi kesunyian. Salah satu jalan utama menuju Pasar Induk Jakabaring itu mendadak lumpuh total. Dalam kegelapan subuh, warga sekitar hanya bisa menatap batang kayu raksasa yang melintang di tengah jalan, menutup satu-satunya jalur ekonomi warga 5 Ulu menuju pusat perdagangan. “Pohon itu sudah tua, akarnya sudah keluar ke badan jalan. Kami sudah beberapa kali lapor,” ujar seorang warga yang enggan disebut namanya.

Menurut informasi yang dihimpun Aspirasimediarakyat.com, insiden terjadi sekitar pukul 04.30 WIB, tepat setelah hujan deras mengguyur selama hampir dua jam tanpa henti. Batang pohon besar yang berdiri di tepi jalan tak lagi mampu menahan tekanan angin kencang. Dalam sekejap, pohon itu roboh ke arah jalan utama.

“Inilah wajah nyata kota yang lalai membaca tanda alamnya sendiri. Pohon tua dibiarkan tumbuh tanpa perawatan, akar menjalar hingga menembus aspal, dahan mengayun di atas kabel listrik — semua dianggap lumrah sampai bencana kecil menampar kesadaran. Bukan alam yang kejam, tapi sistem birokrasi yang lamban dan abai terhadap mitigasi risiko yang membuat rakyat jadi korban paling awal.”

Sekretaris Camat Seberang Ulu I, M. Azli Febiansyah, S.STP., M.H., turun langsung memimpin evakuasi bersama tim gabungan dari berbagai instansi. Ia memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. “Kami segera berkoordinasi dengan dinas terkait untuk evakuasi cepat. Alhamdulillah, tidak ada korban. Kini kondisi jalan sudah kembali normal,” ujarnya kepada wartawan.

Baca Juga :  "Ketua TP PKK Muba Hj Patimah Toha Tegaskan Kekuatan Silaturahmi Keluarga"

Baca Juga :  "Penganiayaan Anak Yatim di Palembang, Tuduhan Mencuri Bawang Berujung Kekerasan"

Baca Juga :  Aksi Damai Garda Prabowo DKD Sumsel Tuntut Pertanggungjawaban Pertamina Patra Niaga

Di lokasi kejadian tampak satu mobil patroli kecamatan, dua mobil Dinas Perkimtan, dan satu unit mobil pemadam kebakaran kota Palembang yang dikerahkan untuk membantu proses evakuasi. Batang pohon berdiameter lebih dari satu meter itu harus dipotong menjadi beberapa bagian sebelum diangkut menggunakan truk dinas.

Proses evakuasi berlangsung sekitar empat jam. Arus kendaraan dari arah Panca Usaha menuju Jakabaring maupun sebaliknya terpaksa dialihkan sementara ke jalur alternatif yang lebih sempit. Polisi dan petugas trantib berjaga di dua titik untuk memastikan keamanan pengguna jalan.

Menurut keterangan warga sekitar, hujan lebat bukan hal asing di wilayah 5 Ulu. Namun, tumbangnya pohon besar di kawasan padat permukiman ini menjadi peringatan keras. Banyak pohon tua lain berdiri di tepi jalan tanpa pemangkasan berkala. “Kami khawatir kejadian serupa terulang. Kalau saat itu ada orang lewat, bisa habis,” kata Hairul, warga RT 048/010.

Dalam regulasi tata ruang dan penataan kota, pemeliharaan pohon pelindung sebenarnya diatur secara jelas. Peraturan Daerah Kota Palembang Nomor 9 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau menegaskan bahwa setiap pohon pelindung di jalur publik harus diperiksa kesehatannya secara berkala oleh dinas terkait. Namun, pelaksanaan di lapangan sering tak sejalan dengan semangat aturan.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) juga menekankan pentingnya audit ekologis kota — sebuah instrumen yang memastikan keseimbangan antara infrastruktur dan vegetasi tidak saling mengancam. Palembang, kota yang tumbuh cepat dengan banyak jalan baru, menghadapi dilema antara pembangunan dan keselamatan lingkungan.

Ironisnya, anggaran pemeliharaan lingkungan kadang justru jadi “korban” efisiensi birokrasi. Dana pemangkasan pohon dipangkas, laporan kerusakan diabaikan, sementara pejabat sibuk rapat seremonial bertema hijau. Lalu, saat satu batang tumbang dan menimpa warga, semua buru-buru turun tangan seolah tak pernah tahu akar masalahnya.

Namun, pagi itu warga 5 Ulu justru menunjukkan semangat gotong royong luar biasa. Sejumlah pria dewasa bahu-membahu membantu petugas memotong ranting dan membersihkan sisa tanah yang menimbun jalan. “Kami tidak bisa menunggu. Kalau hanya mengandalkan petugas, bisa siang baru selesai,” kata seorang warga dengan nada tegas.

Sekcam Seberang Ulu I, M. Azli Febiansyah, memimpin evakuasi pohon tumbang bersama jajaran kecamatan. Didampingi Kasi Trantib, Kasi Pelum, dan Seklur Lima Ulu, ia memastikan jalan kembali normal tanpa korban jiwa.

Turut hadir di lapangan Kasi Trantib Kecamatan Hairul Effendi, S.H., Kasi Pelum Kecamatan Kartika Sari, Am.Kep., dan Sekretaris Lurah Lima Ulu Resti Zulpa, S.STP., M.Si. Mereka memantau langsung proses pembersihan dan memastikan jalur transportasi kembali bisa digunakan warga.

Baca Juga :  "Ekonomi Sumsel Tumbuh Inklusif, Angka Tinggi Didorong Pemerataan Sektor Riil"

Baca Juga :  LBPH KOSGORO Akan Melapor Ke Menaker RI: Laporan Pengaduan PT Pusri Mengendap 15 Hari Di Meja Kadisnakertrans Sumsel!

Azli Febiansyah juga menegaskan bahwa pihak kecamatan akan segera berkoordinasi dengan Dinas Perkimtan untuk melakukan inventarisasi pohon tua di sepanjang Jalan Panca Usaha. “Kami akan data ulang pohon-pohon besar yang berisiko roboh. Langkah pencegahan harus dilakukan,” katanya.

Selain itu, pemerintah daerah juga diimbau untuk memperkuat sistem pelaporan cepat masyarakat. Melalui kanal pengaduan daring, warga bisa melaporkan potensi bahaya seperti cabang pohon rapuh, genangan air, hingga kabel listrik terbuka tanpa harus menunggu petugas datang ke lokasi.

Peristiwa ini adalah refleksi dari lemahnya kesadaran ekologis di tingkat perkotaan. Pohon dianggap sekadar pelengkap estetika, bukan entitas hidup yang harus dirawat dan dipantau kesehatannya. Padahal, keberadaannya vital untuk menjaga kualitas udara dan mencegah banjir.

Ahli lingkungan dari Universitas Sriwijaya, dalam wawancara terpisah, menegaskan bahwa usia pohon perkotaan rata-rata hanya 20–25 tahun jika tidak dirawat dengan baik. “Ranting bisa rapuh karena polusi udara dan akar kehilangan daya cengkeram akibat pengerasan tanah. Pemerintah kota harus rutin melakukan pemangkasan dan pemupukan,” ujarnya.

Satu pohon tumbang memang tampak sepele, tapi di baliknya ada simbol kelalaian yang tak boleh dibiarkan tumbuh. Pohon tua boleh roboh, tapi jangan biarkan kesadaran publik ikut rebah. Kota ini butuh lebih dari sekadar reaksi cepat — ia butuh tanggung jawab yang hidup, bukan laporan yang mati di meja birokrasi.

Kini, jalan Panca Usaha telah kembali normal. Lalu lintas kembali bergulir, dan batang pohon yang sempat menutup jalur sudah disingkirkan. Namun, bayangan peringatan itu masih tertinggal: bahwa di setiap musim hujan, keselamatan warga bergantung pada seberapa cepat pemerintah membaca tanda-tanda sebelum terlambat. (Andi Y)


Banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *