Aspirasimediarakyat.com — Tragedi tenggelamnya seorang pemuda di Sungai Musi kembali mengingatkan betapa rapuhnya batas antara kehidupan dan maut di aliran sungai yang menjadi urat nadi masyarakat Sumatera Selatan, ketika Muhamad Ariyadi ditemukan meninggal dunia setelah diduga tenggelam di perairan Desa Lumpatan, Kecamatan Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin, Sabtu (7/3/2026), sebuah peristiwa yang memicu operasi pencarian intensif oleh tim gabungan hingga akhirnya korban berhasil dievakuasi sekitar dua jam setelah proses penyisiran dimulai di bentang sungai yang terkenal memiliki arus kuat.
Peristiwa ini terjadi di kawasan RT 004 Dusun II Desa Lumpatan, Kecamatan Sekayu, wilayah yang berada di tepian Sungai Musi, sungai terpanjang di Sumatera Selatan yang selama berabad-abad menjadi jalur kehidupan masyarakat sekaligus menyimpan potensi bahaya bagi siapa saja yang beraktivitas tanpa kewaspadaan.
Korban diketahui bernama Muhamad Ariyadi. Ia ditemukan dalam kondisi meninggal dunia sekitar empat kilometer dari lokasi awal tempat ia diduga tenggelam di aliran Sungai Musi.
Operasi pencarian dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari Basarnas Palembang, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Musi Banyuasin, unsur TNI, Polri, pemerintah kecamatan, perangkat desa, hingga masyarakat setempat yang turut membantu proses penyisiran di sepanjang aliran sungai.
Kepala Pelaksana BPBD Musi Banyuasin, Marko Susanto, S.STP., M.Si., menjelaskan bahwa operasi pencarian dimulai sekitar pukul 08.07 WIB setelah pihaknya menerima laporan dari pemerintah desa terkait adanya sepeda motor yang terparkir di tepi Sungai Musi sejak subuh pada Jumat (6/3/2026).
“Informasi awal berasal dari Kepala Desa Lumpatan yang melaporkan adanya sepeda motor terparkir di pinggir Sungai Musi sejak subuh. Setelah ditelusuri, kendaraan tersebut milik warga bernama Muslim yang ternyata dipakai oleh anaknya, Muhamad Ariyadi,” jelas Marko.
Temuan sepeda motor tersebut memicu kecurigaan warga karena kendaraan itu berada di tepi sungai tanpa pemilik di sekitarnya. Kondisi ini kemudian dilaporkan kepada aparat desa yang selanjutnya diteruskan kepada pihak BPBD.
Berdasarkan keterangan warga sekitar, Ariyadi diduga tenggelam di Sungai Musi di area tidak jauh dari lokasi kendaraan ditemukan. Dugaan ini kemudian menjadi dasar dilakukannya operasi pencarian oleh tim gabungan.
Tim penyelamat kemudian bergerak cepat menyisir perairan sungai dengan berbagai peralatan pendukung. Di antaranya perahu polietilena, pelampung keselamatan, mesin perahu, jetski milik BPBD, serta kendaraan operasional Basarnas.
Marko Susanto mengatakan penyisiran dilakukan dengan radius pencarian sekitar lima kilometer dari titik terakhir korban diduga tenggelam. Metode ini dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan korban terbawa arus sungai yang cukup kuat.
“Tim melakukan penyisiran dengan radius sekitar lima kilometer dari titik terakhir korban diduga tenggelam,” ungkap Marko.
Upaya pencarian tersebut berlangsung relatif cepat. Sekitar pukul 09.30 WIB, korban akhirnya ditemukan oleh tim gabungan pada jarak kurang lebih empat kilometer dari titik awal dugaan tenggelam.
Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di aliran Sungai Musi sebelum akhirnya dievakuasi ke daratan oleh petugas penyelamat yang telah bersiaga di lokasi pencarian.
Setelah proses evakuasi selesai, jenazah korban langsung diserahkan kepada pihak keluarga untuk proses pemakaman dan penanganan lebih lanjut sesuai dengan prosedur yang berlaku.
“Begitu korban ditemukan, tim langsung melakukan evakuasi dan menyerahkan jenazah kepada keluarga. Dengan ditemukannya korban, operasi pencarian resmi kami tutup,” tegas Marko.
“Tragedi ini memperlihatkan bagaimana Sungai Musi yang selama ini menjadi jalur transportasi, sumber ekonomi, sekaligus ruang hidup masyarakat juga menyimpan risiko yang tidak bisa dianggap remeh; arus yang deras, kedalaman yang tidak merata, serta minimnya perlengkapan keselamatan di banyak titik aktivitas warga menjadikan setiap insiden tenggelam sebagai pengingat keras bahwa keselamatan di kawasan perairan tidak boleh diserahkan hanya pada keberuntungan, melainkan membutuhkan kesadaran kolektif, edukasi keselamatan, dan sistem mitigasi yang lebih kuat dari pemerintah maupun masyarakat.”
Ketika keselamatan di ruang publik seperti sungai tidak menjadi perhatian serius, maka tragedi demi tragedi hanya akan berulang seperti siklus sunyi yang menelan korban tanpa pernah benar-benar diputus.
Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin menyampaikan apresiasi atas kerja cepat seluruh unsur yang terlibat dalam proses pencarian dan evakuasi korban di Sungai Musi tersebut.
Bupati Musi Banyuasin, H. M. Toha Tohet, S.H., melalui Penjabat Sekretaris Daerah Muba, Drs. Syafaruddin, M.Si., menyatakan bahwa keberhasilan operasi pencarian tidak terlepas dari koordinasi lintas instansi serta dukungan masyarakat di sekitar lokasi kejadian.
“Kami mengapresiasi respons cepat BPBD, Basarnas, TNI, Polri serta seluruh unsur yang terlibat, termasuk masyarakat yang turut membantu proses pencarian hingga korban berhasil ditemukan,” kata Syafaruddin.
Pemerintah daerah juga mengingatkan masyarakat yang beraktivitas di sekitar Sungai Musi agar meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika berada di tepian sungai atau melakukan aktivitas di perairan.
Ia menegaskan bahwa arus Sungai Musi dikenal cukup kuat di beberapa titik sehingga berpotensi membahayakan keselamatan jika tidak disertai kewaspadaan dan perlengkapan keselamatan yang memadai.
Peristiwa ini kembali memperlihatkan bahwa sungai bukan hanya bentang alam yang menopang kehidupan masyarakat, tetapi juga ruang yang menuntut disiplin keselamatan tinggi dari siapa pun yang beraktivitas di sekitarnya, karena setiap kelalaian sekecil apa pun di perairan dapat berubah menjadi tragedi yang meninggalkan duka mendalam bagi keluarga serta menjadi pengingat bahwa keselamatan warga adalah tanggung jawab bersama yang tidak boleh diabaikan.



















