Aspirasimediarakyat.com — Penyelidikan terhadap jenderal paling senior Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLA) menandai fase paling sensitif dalam sejarah kepemimpinan militer Beijing, ketika kekuasaan, disiplin partai, dan stabilitas geopolitik bertemu dalam satu pusaran krisis legitimasi yang menguji daya tahan struktur politik Presiden Xi Jinping, sekaligus membuka tabir rapuhnya konsolidasi internal militer di tengah ekspansi ambisi global Tiongkok yang semakin agresif dan terpusat.
Otoritas pertahanan Beijing secara resmi mengonfirmasi adanya penyelidikan terhadap elite tertinggi militer, sebuah langkah yang memicu eskalasi paling tajam dalam gelombang pembersihan elite yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade. Peristiwa ini bukan sekadar isu disipliner internal, tetapi menjadi sinyal krisis struktural dalam tata kelola kekuasaan militer negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia.
Tokoh utama dalam pusaran kasus ini adalah Zhang Youxia, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (Central Military Commission/CMC), sekaligus figur nomor dua dalam hierarki komando militer Tiongkok. Selama bertahun-tahun, Zhang dikenal sebagai sekutu politik paling loyal Presiden Xi Jinping dan aktor kunci dalam konsolidasi kendali politik atas PLA serta agenda modernisasi kekuatan militer nasional.
Kementerian Pertahanan Tiongkok menyatakan bahwa Zhang Youxia dan Liu Zhenli, Kepala Staf Departemen Staf Gabungan CMC, tengah diselidiki atas dugaan “pelanggaran serius terhadap disiplin dan hukum.” Pernyataan ini menjadi konfirmasi resmi paling signifikan dalam rangkaian pembersihan militer yang kian agresif dalam beberapa tahun terakhir.
Signifikansi politik kasus ini membesar karena posisi Zhang bukan hanya sebagai jenderal aktif, tetapi juga anggota Politbiro Partai Komunis Tiongkok. Ia termasuk segelintir perwira puncak PLA yang memiliki pengalaman tempur langsung, yang selama ini memberinya legitimasi moral dan politik di internal militer maupun lingkar kekuasaan partai.
Sejumlah laporan internasional menyebut Zhang diduga membocorkan informasi strategis terkait program senjata nuklir Tiongkok serta menerima suap dalam keputusan struktural, termasuk promosi perwira ke jabatan strategis. Namun, otoritas Beijing tidak merinci tuduhan secara terbuka, dan klaim tersebut belum diverifikasi secara independen.
Bagi para analis, nilai utama kasus ini bukan terletak pada detail tuduhan, melainkan pada posisi struktural Zhang dalam sistem kekuasaan militer. Sejak Xi Jinping meluncurkan kampanye antikorupsi pada 2012, militer menjadi target utama pembersihan politik, dengan fokus yang terus bergeser dari lapisan menengah menuju puncak kekuasaan.
Gelombang ini mencapai fase kritis pada 2023 ketika Pasukan Roket PLA—unit strategis penjaga kekuatan nuklir dan rudal balistik—menjadi sasaran penyelidikan besar. Sejak itu, pembersihan merambat ke struktur yang sebelumnya dianggap nyaris tak tersentuh, termasuk jajaran Komisi Militer Pusat.
“Secara historis, potensi tersingkirnya Zhang akan menjadikannya jenderal aktif kedua anggota CMC yang jatuh sejak era Revolusi Kebudayaan 1966–1976. Ia juga tidak lagi tampil di ruang publik sejak 20 November, saat terakhir kali bertemu Menteri Pertahanan Rusia di Moskwa, sebuah ketiadaan yang kini dibaca sebagai sinyal politik serius.”
Perkembangan ini diawasi ketat oleh diplomat asing dan analis keamanan global. Kedekatan Zhang dengan Xi, serta peran sentral CMC dalam komando operasional dan modernisasi PLA, menjadikan kasus ini sebagai ujian langsung terhadap stabilitas internal militer Tiongkok di tengah meningkatnya tensi geopolitik kawasan Asia-Pasifik.
Pada saat yang sama, Tiongkok meningkatkan postur militernya di Laut Tiongkok Timur, Laut Tiongkok Selatan, serta terhadap Taiwan. Beijing bahkan menggelar latihan militer terbesar di sekitar Taiwan pada akhir tahun lalu, menunjukkan bahwa modernisasi PLA berjalan paralel dengan eskalasi kekuatan eksternal.
Tekanan internal dan ekspansi eksternal ini membentuk paradoks strategis: stabilitas kekuasaan di pusat komando justru diuji saat ambisi geopolitik semakin membesar, menciptakan risiko disfungsi struktural dalam sistem pertahanan negara.
Akademisi keamanan Tiongkok berbasis Singapura, James Char, menyatakan bahwa pembersihan elite tidak serta-merta melumpuhkan fungsi operasional militer. “Xi telah menunjuk perwira-perwira lapis kedua untuk mengisi posisi yang ditinggalkan pendahulunya, sebagian besar bersifat sementara,” ujarnya.
Char menambahkan, “Agenda utama tetap berjalan: modernisasi PLA ditargetkan selesai pada 2035 dan pembentukan angkatan bersenjata kelas dunia pada 2049.”
Kasus Zhang bukan insiden tunggal. Dalam beberapa bulan terakhir, mantan Wakil Ketua CMC He Weidong dipecat dari partai dan militer karena korupsi. Pada Oktober 2025, delapan jenderal senior lainnya juga dikeluarkan dari Partai Komunis, sementara dua mantan menteri pertahanan telah lebih dulu disingkirkan.
Dampaknya meluas ke sektor industri pertahanan. Pembersihan beruntun memperlambat pengadaan persenjataan canggih dan menekan kinerja sejumlah perusahaan pertahanan besar, menciptakan efek domino pada stabilitas ekonomi strategis.
Secara personal, Zhang Youxia lahir di Beijing dan bergabung dengan militer pada 1968. Ia bertempur dalam perang perbatasan melawan Vietnam pada 1979 dan kembali terlibat bentrokan pada 1984, pengalaman yang membentuk reputasinya sebagai pendukung modernisasi taktik, persenjataan, dan pelatihan pasukan.
Dalam arsip media pemerintah Tiongkok tahun 2017 disebutkan bahwa Zhang menunjukkan kinerja menonjol dalam pertempuran, baik saat menyerang maupun bertahan, membangun citra sebagai figur militer ideologis dan teknokratis sekaligus.
Ketika kekuasaan bersih diklaim melalui pembersihan elite, tetapi transparansi publik dikorbankan, keadilan struktural berubah menjadi panggung ilusi yang menutup wajah asli krisis legitimasi kekuasaan.
Dampak sistemik dari pembersihan ini memperlihatkan bahwa stabilitas politik tidak selalu identik dengan stabilitas institusional, terutama ketika kekuasaan terpusat tanpa mekanisme akuntabilitas terbuka.
Kekuasaan yang menutup diri dari akuntabilitas publik hanya akan melahirkan ketertiban semu, di mana rakyat global menjadi penonton dari konflik elit yang mempertaruhkan masa depan keamanan dunia.
Krisis kepemimpinan militer Tiongkok melalui penyelidikan terhadap Zhang Youxia bukan hanya persoalan internal negara, tetapi fenomena global yang menyentuh stabilitas kawasan, keamanan internasional, dan keseimbangan geopolitik dunia. Bagi kepentingan publik global, transparansi, akuntabilitas, dan tata kelola kekuasaan yang adil menjadi fondasi utama agar kekuatan militer tidak berubah menjadi alat dominasi sepihak yang mengancam keselamatan umat manusia. Dalam konteks ini, pembersihan elite hanya bermakna jika berujung pada reformasi struktural yang menjamin keamanan, stabilitas, dan keadilan internasional, bukan sekadar konsolidasi kekuasaan tertutup.



















