Aspirasimediarakyat.com — Ketegangan militer di kawasan Teluk Persia menjelma menjadi ancaman nyata bagi ribuan pelaut sipil setelah gelombang serangan drone, rudal jelajah, dan patroli jet tempur mempersempit ruang aman pelayaran di Selat Hormuz, jalur energi paling vital dunia, sehingga kapal tanker minyak dan kapal kargo yang melintas di wilayah tersebut kini berada dalam kondisi siaga permanen, menghadapi risiko serangan bersenjata, gangguan navigasi, serta ketidakpastian komunikasi yang menjadikan perjalanan laut tidak lagi sekadar aktivitas perdagangan, melainkan medan bahaya yang dapat merenggut nyawa.
Serangan terhadap kapal-kapal komersial di perairan Teluk meningkat setelah Iran mengancam akan menembaki setiap kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz sebagai respons terhadap eskalasi konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Ancaman tersebut tidak lagi bersifat retoris setelah sejumlah kapal dilaporkan terkena proyektil, terbakar, bahkan tenggelam di jalur laut strategis yang setiap harinya dilalui kapal tanker pembawa minyak mentah dunia.
Salah satu insiden terbaru terjadi ketika sebuah kapal kargo berbendera Thailand dilaporkan terbakar setelah dihantam proyektil di perairan utara Oman pada 11 Maret 2026, memperlihatkan bagaimana konflik geopolitik dapat langsung mengancam keselamatan pelaut sipil yang bekerja jauh dari garis depan peperangan.
Bagi para awak kapal yang berada di kawasan Teluk, suara mesin kapal kini bercampur dengan dentuman rudal dan dengung drone yang melintas rendah di langit.
Seorang pelaut asal Pakistan bernama Amir menggambarkan situasi tersebut sebagai pengalaman yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Saya melihat drone dan rudal jelajah Iran terbang rendah. Saya juga mendengar suara jet tempur, tetapi kami tidak bisa mengidentifikasi milik negara mana,” katanya saat berada di atas kapal tanker di wilayah Uni Emirat Arab.
Ancaman terbesar, menurutnya, bukan hanya rudal yang diluncurkan, tetapi juga serpihan atau proyektil yang berhasil dicegat dan berpotensi jatuh tepat di kapal tempat para pelaut bekerja.
Pengalaman serupa disampaikan Hein, pelaut asal Myanmar, yang mengatakan baku tembak di udara hampir menjadi pemandangan harian.
“Baru pagi ini dua jet tempur saling menembak saat kami masih bekerja. Tidak ada tempat berlindung khusus di kapal untuk situasi seperti ini, jadi kami hanya bisa berlari masuk ke dalam,” ujarnya.
Ketua Asosiasi Perwira Angkatan Laut Niaga Bangladesh, Kapten Anam Chowdhury, memperkirakan sekitar 20.000 pelaut kini berada dalam kondisi terjebak di kawasan Teluk, baik di laut lepas maupun di pelabuhan.
Menurutnya, tidak ada jaminan keamanan bahkan ketika kapal berlabuh di pelabuhan.
“Di dalam pelabuhan orang mungkin berpikir situasinya aman, tetapi sudah ada kapal yang dibombardir saat sedang berlabuh,” ujarnya.
Organisasinya mencatat sedikitnya tujuh kapal mengalami kerusakan akibat proyektil sejak konflik meningkat, termasuk sebuah kapal tanker bernama Skylark yang terdaftar di Republik Palau.
Pada 1 Maret, serangan terhadap kapal tersebut menyebabkan ruang mesin terbakar dan menewaskan seorang pelaut di atas kapal.
Para awak kapal yang selamat dilaporkan mengalami trauma berat setelah insiden tersebut memaksa mereka mengevakuasi kapal di tengah situasi perang yang belum mereda.
Dalam situasi yang semakin tegang, ancaman tidak hanya datang dari rudal dan drone, tetapi juga dari gangguan sistem navigasi satelit yang menjadi penopang utama pelayaran modern.
Seo-jun, kapten kapal yang memimpin lebih dari 20 awak dari Korea Selatan dan Myanmar, mengungkapkan bahwa gangguan GPS semakin sering terjadi sejak konflik meningkat.
“Dalam beberapa hari terakhir kondisinya jauh lebih buruk. Saat memasuki Dubai kami harus bernavigasi tanpa GPS,” ujarnya.
Ia menggambarkan situasi itu seperti pepatah Korea tentang seseorang yang mencoba membuka pintu dalam keadaan buta.
Gangguan navigasi tersebut memperbesar risiko kecelakaan kapal, terutama di jalur laut sempit yang dipenuhi lalu lintas kapal tanker energi dunia.
Sementara itu, sebuah tragedi lain terjadi ketika kapal tunda Musaffah 2 berbendera Uni Emirat Arab mengalami ledakan di Selat Hormuz pada 6 Maret sekitar pukul 02.00 dini hari waktu setempat.
Ledakan tersebut menyebabkan kapal terbakar sebelum akhirnya tenggelam.
Kapal itu diawaki tujuh orang, termasuk empat anak buah kapal asal Indonesia.
Akibat insiden tersebut, tiga warga negara Indonesia dilaporkan hilang, sementara satu lainnya mengalami luka-luka.
Kondisi ini menambah daftar panjang pelaut yang menjadi korban tidak langsung dari konflik bersenjata di kawasan tersebut.
Perang yang terjadi ribuan kilometer dari ruang keluarga para pelaut kini menjelma menjadi kecemasan yang tidak pernah berhenti bagi keluarga mereka di berbagai negara.
Di tengah situasi komunikasi yang tidak menentu akibat pembatasan internet dan jaringan telepon di sejumlah wilayah Iran, keluarga para pelaut kerap tidak mendapatkan kabar berhari-hari.
Ali Abbas, seorang ayah yang putranya bekerja di kapal yang bersandar di pelabuhan Iran dekat Selat Hormuz, mengaku hanya bisa berharap anaknya masih hidup setelah serangan rudal terbaru mengguncang wilayah tersebut.
“Demi Tuhan, tolong bantu saya,” ujarnya dengan suara bergetar.
Konflik geopolitik yang berlangsung di kawasan Teluk memperlihatkan kontras yang menohok antara kepentingan ekonomi global dan keselamatan manusia yang berada di garis terdepan aktivitas perdagangan laut.
“Ketika tanker minyak, kontainer dagang, dan jalur energi dunia dipertaruhkan dalam permainan strategi militer, para pelaut sipil yang tidak bersenjata justru menjadi pihak paling rentan yang harus menghadapi rudal, drone, kelaparan logistik, serta ancaman kematian tanpa perlindungan memadai.”
Perang tidak hanya memecah batas negara, tetapi juga mengoyak kehidupan manusia yang bekerja di laut tanpa perlindungan politik, menjadikan kapal-kapal dagang seperti bidak tak bernyawa dalam papan catur geopolitik global.
Jika keselamatan pelaut sipil terus diperlakukan sekadar risiko bisnis dalam jalur perdagangan internasional, maka dunia maritim sedang menyaksikan kemerosotan moral yang menempatkan manusia sebagai korban paling murah dalam konflik kekuatan besar.
Banyak pelaut juga menghadapi ancaman krisis logistik karena kapal mereka terjebak di laut tanpa dapat kembali ke pelabuhan untuk mengisi perbekalan.
Masood, pelaut asal Pakistan, mengatakan sudah dua bulan sejak kapal tempatnya bekerja terakhir kali mengisi persediaan makanan.
Sementara Hein menyebut para awak kini hanya menerima satu kali makan sehari berupa empat potong kecil daging dan satu mangkuk sayuran goreng.
Persediaan makanan diperkirakan hanya cukup untuk satu bulan.
Persediaan air minum bahkan menjadi kekhawatiran yang lebih besar karena produksi air tawar dari penyulingan laut membutuhkan kapal tetap berlayar.
Situasi kemanusiaan di kapal-kapal tersebut semakin kompleks ketika sejumlah perusahaan pelayaran dilaporkan menahan paspor awak kapal sehingga mereka tidak dapat meninggalkan kapal meskipun kondisi keamanan memburuk.
Sebagian pelaut yang memilih meninggalkan kapal sebelum kontrak berakhir juga berisiko dimasukkan ke daftar hitam oleh perusahaan pelayaran sehingga sulit mendapatkan pekerjaan di masa depan.
Amir mengatakan banyak pelaut kini hanya bisa berharap keselamatan melalui doa sambil terus menjalankan tugas rutin mereka.
Ia juga mengingatkan bahwa kerugian kapal atau kargo mungkin dapat ditanggung oleh perusahaan asuransi, tetapi tidak demikian dengan nyawa manusia.
“Nyawa manusia tidak bisa digantikan oleh asuransi apa pun,” ujarnya.
Ketegangan di Selat Hormuz memperlihatkan bahwa jalur perdagangan global yang selama ini menopang ekonomi dunia ternyata juga menyimpan kerentanan besar ketika konflik militer memasuki ruang yang seharusnya menjadi wilayah sipil, sehingga keselamatan pelaut, keamanan navigasi, serta perlindungan hukum internasional terhadap pekerja maritim menjadi isu yang semakin mendesak untuk mendapat perhatian serius dari komunitas internasional demi memastikan bahwa laut tidak berubah menjadi medan perang yang mengorbankan mereka yang bekerja menjaga aliran perdagangan dunia.



















