“Laporta dan Bayang Messi: Ketika Laga Penghormatan Berubah Jadi Panggung Politik Barcelona”

Lionel Messi kembali jadi sorotan—bukan karena sepak bola, tapi politik klub. Presiden Barcelona, Joan Laporta, mengaitkan laga penghormatan untuk sang legenda dengan pemilihan presiden klub tahun depan, memicu tanya: apakah Messi kini dijadikan alat kampanye kekuasaan?

Aspirasimediarakyat.comLionel Messi, nama yang dulu menjadi ikon kejayaan Barcelona, kini kembali bergema bukan di lapangan, melainkan di panggung politik klub. Sosok yang semestinya dikenang karena dedikasi dan loyalitasnya selama dua dekade, justru diseret dalam isu kampanye yang melibatkan Presiden Barcelona, Joan Laporta. Dalam satu pernyataannya yang viral di media Spanyol, Laporta mengisyaratkan bahwa laga penghormatan bagi Messi bisa saja digelar—asal dirinya kembali terpilih dalam pemilihan presiden klub tahun depan. Sebuah pernyataan yang menyulut kontroversi: apakah Messi kini sekadar menjadi alat legitimasi kekuasaan?

Pidato itu disampaikan Laporta di hadapan lebih dari 21 ribu penonton dalam sesi latihan terbuka di Camp Nou, Jumat (7/11/2025). Di momen yang seharusnya penuh semangat menyambut kembalinya tim ke stadion legendaris, pernyataan Laporta justru menimbulkan pertanyaan serius tentang motif politik di balik retorika penghormatan kepada sang legenda. “Saya ingin meresmikan stadion dengan laga penghormatan untuk Messi,” ujarnya lantang, sebelum menambahkan, “Tapi itu tergantung siapa presidennya nanti.” Sebuah kalimat sederhana yang mengandung muatan politik tinggi.

Laporta menyebut laga tersebut akan digelar jika renovasi stadion telah rampung dan kapasitas Camp Nou mencapai 105 ribu penonton. Namun nada bicaranya yang ragu justru menegaskan bahwa rencana itu bersyarat pada kekuasaannya sendiri. Ia secara gamblang mengaitkan momen penghormatan bagi Messi dengan hasil pemilihan presiden klub yang dijadwalkan pada 2026.

Bagi publik Barcelona, ucapan itu menjadi titik rawan. Messi bukan sekadar pemain; ia adalah simbol, representasi emosional jutaan penggemar di seluruh dunia. Menjadikan namanya sebagai bagian dari strategi elektoral internal klub, dianggap oleh banyak pihak sebagai bentuk manipulasi sentimen publik yang tak etis.

Baca Juga :  "Real Madrid Gilas AS Monaco, Pesta Gol Warnai Liga Champions"

Baca Juga :  “Saya Mau Bilang Selamat kepada PSS Sleman yang Promosi ke Liga 1”

Baca Juga :  "Final FIFA Series Uji Kualitas Taktik Timnas Indonesia Hadapi Bulgaria"

Direktur Lembaga Kajian Olahraga Katalunya, Ramon Corts, menilai Laporta sedang memainkan politik simbol. “Menggunakan Messi untuk membangun legitimasi kekuasaan adalah langkah berisiko. Fans tahu siapa yang tulus menghormati Messi dan siapa yang memanfaatkannya,” ujarnya dalam wawancara dengan RAC1.

Di sisi lain, hubungan Laporta dan Messi memang telah lama retak. Pada 2021, di bawah kepemimpinan Laporta, Messi terpaksa meninggalkan Barcelona setelah klub gagal memenuhi regulasi finansial Liga Spanyol. Padahal kala itu, Messi sudah siap memperpanjang kontrak dengan gaji yang telah dipotong. Namun keputusan Laporta membatalkan perpanjangan itu memaksa La Pulga angkat kaki dari rumah yang ia bangun selama dua dekade.

“Momen perpisahan Messi kala itu menjadi salah satu adegan paling emosional dalam sejarah sepak bola modern. Air matanya menetes di podium, sementara rekan setim dan staf pelatih berdiri terpaku menyaksikan sang legenda berpamitan. Publik menilai keputusan Laporta saat itu tidak hanya melukai Messi, tetapi juga merobek identitas klub yang dikenal setia pada pemain-pemain besarnya.”

Kini, empat tahun berselang, Laporta kembali menyebut nama Messi—namun dalam konteks politik. Bagi sebagian fans, ini seperti membuka luka lama yang belum sembuh. “Dia yang dulu melepas Messi, sekarang ingin memakai namanya lagi demi jabatan. Itu ironi yang menyakitkan,” tulis seorang pendukung Barca di forum sosial Culers United.

Namun tidak sedikit pula yang menilai pernyataan Laporta hanya bentuk spontanitas tanpa maksud politis. Sejumlah analis olahraga di Spanyol menyebut, bisa saja Laporta hanya berbicara dalam konteks rencana jangka panjang klub tanpa bermaksud mengaitkan dengan pemilihan. “Laporta dikenal spontan. Tapi dalam dunia politik sepak bola, spontanitas pun bisa dibaca sebagai strategi,” tulis Marca dalam editorialnya.

Dalam kacamata kritis, Laporta tampak seperti politisi klasik—menghidupkan kembali sosok yang sudah ia tinggalkan, hanya untuk mendulang simpati jelang pemungutan suara. Ini bukan sekadar soal Messi atau Camp Nou, melainkan tentang etika kekuasaan di balik lambang klub kebanggaan Katalunya.

Di tengah hiruk-pikuk isu itu, Barcelona tengah menyiapkan kembalinya ke Camp Nou setelah hampir dua tahun bermarkas di Estadi Olímpic Lluís Companys. Klub dijadwalkan kembali bermain di kandang bersejarah itu pada 22 November melawan Athletic Club atau seminggu setelahnya saat menjamu Deportivo Alavés—tepat bertepatan dengan ulang tahun klub yang ke-126.

Renovasi besar Camp Nou yang menelan biaya sekitar 1,25 miliar pounds itu belum sepenuhnya rampung, tetapi momen kembalinya tim dianggap sebagai simbol kebangkitan ekonomi dan prestise klub. Namun jika peresmian stadion justru diselimuti isu politik internal, maknanya bisa berubah menjadi kontroversi baru.

Beberapa pengamat menilai, Laporta sedang menghadapi tekanan besar dari dalam klub. Sejumlah faksi mulai mendorong munculnya kandidat baru untuk menantangnya dalam pemilihan 2026. Menghadirkan Messi dalam narasi publik bisa menjadi strategi simbolik untuk mengonsolidasikan dukungan.

Namun strategi seperti itu berisiko tinggi. Jika Messi menolak terlibat, Laporta bukan hanya kehilangan legitimasi moral, tetapi juga menghadapi kemarahan fans yang merasa sang legenda kembali dimanfaatkan. Hingga kini, Messi belum menanggapi pernyataan Laporta secara resmi.

Baca Juga :  "Unggulan Pertama Tersingkir, Final Ideal Ganda Putri BWF Gagal Terwujud"

Baca Juga :  "Liverpool Gilas Marseille 3-0, Tiket 16 Besar Kian Dekat"

Kubu dekat Messi dikabarkan memilih diam. Beberapa media di Argentina menulis, Messi “tidak tertarik dikaitkan lagi dengan politik internal Barcelona.” Sumber terdekat bahkan menyebut bahwa Messi ingin segala bentuk penghormatan dilakukan tanpa embel-embel kepentingan elektoral.

Dalam konteks hukum dan etika manajemen olahraga, penggunaan nama atau reputasi pemain untuk kepentingan politik internal klub bisa dianggap pelanggaran prinsip fair conduct dan etika komunikasi publik. Regulasi UEFA memang tidak secara eksplisit mengatur soal ini, tetapi standar moralitas klub profesional menuntut presiden untuk menjaga integritas dan tidak mencampuradukkan politik dengan simbol kehormatan pemain.

Pakar hukum olahraga Eropa, Dr. Silvia Moreno, menegaskan bahwa pernyataan Laporta berpotensi menimbulkan konflik kepentingan. “Jika penghormatan kepada pemain dihubungkan dengan kepentingan elektoral, maka kredibilitas institusi klub bisa terganggu,” katanya kepada El País.

Kini, pertanyaan besar menggantung di udara Camp Nou yang baru: apakah penghormatan untuk Messi benar-benar bentuk cinta klub kepada sang legenda, atau sekadar panggung kampanye terselubung bagi presiden yang tengah berjuang mempertahankan kursi?

Kehormatan sejati bukanlah seremoni megah di stadion berkapasitas 105 ribu penonton, melainkan keberanian untuk bersikap jujur. Laporta boleh membangun stadion baru dengan kemegahan, tapi jika fondasinya dibangun dari kalkulasi politik, maka ia hanya mendirikan istana di atas pasir. Sebab penghormatan sejati kepada Messi mestinya lahir dari hati klub, bukan dari logika kekuasaan.


Banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *