Aspirasimediarakyat.com, Banyuasin — Rapat Paripurna Istimewa DPRD Kabupaten Banyuasin dalam rangka Hari Jadi ke-24 yang dihadiri Gubernur Sumatera Selatan Dr. H. Herman Deru, S.H., M.M. bersama jajaran pemerintah daerah menjadi panggung refleksi atas capaian pembangunan sekaligus ruang evaluasi kritis terhadap konsistensi kebijakan publik, di tengah klaim kemajuan sektor pertanian, investasi, dan penurunan kemiskinan yang menuntut pembuktian nyata dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat secara merata dan berkelanjutan.
Rapat paripurna tersebut dibuka langsung oleh Ketua DPRD Banyuasin, Abdul Rais, S.M., yang menegaskan pentingnya momentum hari jadi sebagai titik temu antara evaluasi kinerja dan penguatan komitmen pembangunan daerah.
Tema “Terus Gotong Royong Untuk Banyuasin Bangkit, Adil dan Sejahtera Berkelanjutan” diangkat sebagai refleksi atas perjalanan panjang daerah yang terus berupaya menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan pemerataan kesejahteraan.
Gubernur Sumatera Selatan, Dr. H. Herman Deru, S.H., M.M., dalam sambutannya memberikan apresiasi terhadap capaian sektor pertanian, khususnya produktivitas padi yang dinilai melampaui sejumlah daerah sentra di Pulau Jawa.
Ia menyebut capaian tersebut sebagai indikator penting yang memperkuat posisi Sumatera Selatan sebagai salah satu penyuplai beras terbesar di Indonesia, dengan Banyuasin menjadi salah satu kontributor utama.
“Banyuasin di usia 24 tahun telah membuktikan diri sebagai kabupaten prestasi. Angka kemiskinan menurun drastis, dan produksi padinya luar biasa,” ujar Herman Deru di hadapan forum resmi tersebut.
Pernyataan tersebut tidak hanya menjadi bentuk apresiasi, tetapi juga menegaskan arah kebijakan pembangunan daerah yang masih bertumpu pada sektor pertanian sebagai tulang punggung ekonomi masyarakat.
“Namun, dalam konteks yang lebih luas, capaian tersebut juga memunculkan pertanyaan tentang distribusi manfaat ekonomi, apakah benar telah dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.”
Gubernur juga menyinggung pentingnya pengembangan sektor industri melalui operasional pabrik-pabrik baru serta percepatan pembangunan Pelabuhan Tanjung Carat sebagai penggerak ekonomi regional.
Ia meyakini bahwa kehadiran infrastruktur dan industri tersebut akan membuka peluang kerja baru serta meningkatkan daya saing daerah di tingkat nasional maupun global.
Selain itu, Herman Deru mengingatkan pentingnya inovasi dalam tata kelola pemerintahan, terutama dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik yang lebih ramah dan humanis.
Pendekatan tersebut dinilai penting untuk membangun kepercayaan masyarakat sekaligus mendorong kepatuhan terhadap kewajiban perpajakan sebagai bagian dari kontribusi terhadap pembangunan.
Di sisi lain, Bupati Banyuasin, Dr. H. Askolani, S.H., M.H., menyampaikan bahwa usia 24 tahun merupakan fase kematangan yang menuntut arah pembangunan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Ia mengungkapkan bahwa Banyuasin telah mencatatkan prestasi nasional sebagai kabupaten dengan produksi padi terbesar di Indonesia berdasarkan penetapan pemerintah pusat per Februari 2026.
“Ini hasil sinergi penuh antara Pemkab, Pemprov Sumsel, dan DPR RI. Banyuasin kini juga menjadi magnet investasi global,” ujar Askolani.
Menurutnya, masuknya investor asing dalam berbagai sektor, mulai dari bio avtur, pakan ternak, hingga pengelolaan air bersih, menjadi indikator meningkatnya kepercayaan terhadap potensi daerah.
Namun, derasnya arus investasi juga menuntut kesiapan regulasi serta pengawasan agar tidak menimbulkan ketimpangan baru atau dampak sosial yang tidak diinginkan.
Dalam perspektif kebijakan publik, investasi harus berjalan seiring dengan perlindungan kepentingan masyarakat lokal, baik dari sisi tenaga kerja, lingkungan, maupun akses ekonomi.
Kehadiran berbagai tokoh, mulai dari Ketua TP PKK Sumsel Hj. Feby Herman Deru hingga anggota DPR RI Hj. Kartika Sandra Desi, menunjukkan bahwa pembangunan Banyuasin mendapat perhatian lintas level pemerintahan.
Meski demikian, publik tetap menaruh harapan besar agar setiap capaian yang dipaparkan tidak berhenti pada angka statistik, tetapi benar-benar terwujud dalam kualitas hidup masyarakat yang lebih baik.
Rapat paripurna ini pada akhirnya bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ruang refleksi kolektif yang menuntut akuntabilitas nyata dari setiap kebijakan, memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi, peningkatan produksi, dan masuknya investasi tidak hanya menjadi narasi keberhasilan, tetapi benar-benar menjelma menjadi kesejahteraan yang adil, inklusif, serta dirasakan oleh seluruh masyarakat Banyuasin tanpa terkecuali.



















