Aspirasimediarakyat.com — Dexamethasone kerap hadir sebagai solusi cepat dalam praktik klinis untuk menekan peradangan berat, namun di balik efektivitasnya tersimpan risiko serius ketika obat golongan steroid ini dikonsumsi tanpa pengawasan medis, terutama dalam jangka panjang, karena selain memengaruhi sistem imun, obat ini juga bekerja pada keseimbangan hormon, metabolisme, dan tekanan darah, sehingga persoalan penggunaannya bukan semata urusan farmakologi, melainkan juga menyentuh aspek keselamatan pasien, literasi kesehatan publik, serta tanggung jawab negara dalam pengawasan obat keras.
Penggunaan dexamethasone selama ini lazim diresepkan dokter untuk kondisi tertentu yang membutuhkan penanganan cepat, seperti peradangan berat, reaksi alergi parah, hingga gangguan autoimun. Namun, persoalan muncul ketika obat keras ini dikonsumsi berulang tanpa evaluasi medis lanjutan.
Dexamethasone termasuk golongan kortikosteroid sintetis yang bekerja menekan reaksi peradangan tubuh sekaligus memengaruhi kerja sistem hormonal. Dalam konteks medis, obat ini bukan sekadar pereda nyeri biasa, melainkan intervensi farmakologis yang memiliki dampak sistemik.
Dokter penyakit dalam RS Raja Ampat, dr. Andi Khomeini Takdir Haruni, SpPD(K), menjelaskan bahwa dexamethasone pada dasarnya hanya dianjurkan untuk penggunaan jangka pendek sesuai indikasi klinis yang jelas. Penggunaan di luar koridor tersebut berpotensi menimbulkan masalah kesehatan lanjutan.
Salah satu dampak paling sering muncul adalah gangguan gula darah dan tekanan darah. Penggunaan dexamethasone terlalu lama dapat memicu lonjakan gula darah, terutama pada pasien dengan riwayat diabetes atau kondisi gula darah yang tidak stabil.
“Konsumsi steroid jangka panjang bisa mengacaukan regulasi gula darah dan tekanan darah, sehingga pasien harus dipantau ketat,” ujar dr. Andi saat diwawancarai, menegaskan pentingnya evaluasi berkala dalam setiap terapi steroid.
Selain itu, dexamethasone bekerja dengan menekan sistem imun. Dalam jangka panjang, efek ini dapat menurunkan daya tahan tubuh sehingga pasien menjadi lebih rentan terhadap infeksi berulang.
“Pasien yang mengonsumsi steroid dalam waktu lama berisiko mengalami infeksi yang sulit sembuh karena respons kekebalan tubuh melemah. Kondisi ini sering kali tidak disadari, sebab gejalanya muncul perlahan dan kerap dianggap sebagai keluhan ringan.”
“Ketahanan tubuh bisa ikut terganggu bila obat steroid digunakan terlalu lama,” kata dr. Andi, mengingatkan bahwa manfaat jangka pendek tidak boleh menutup mata terhadap risiko jangka panjang.
Efek lain yang tak kalah serius adalah gangguan keseimbangan hormon. Penggunaan dexamethasone berkepanjangan dapat menghambat produksi hormon alami tubuh, memicu perubahan suasana hati, mudah marah, gangguan tidur, hingga ketidakstabilan emosional.
Dalam perspektif kesehatan publik, kondisi ini menunjukkan bahwa penyalahgunaan obat keras bukan sekadar persoalan individu, melainkan potret rapuhnya literasi kesehatan, di mana obat berpotensi berbahaya kerap diperlakukan layaknya vitamin harian tanpa pemahaman risiko yang memadai.
Ketika obat keras dapat dikonsumsi sembarangan seolah permen, ketidakadilan kesehatan berubah menjadi ironi pahit yang diam-diam merampas hak rakyat atas perlindungan medis yang aman dan bertanggung jawab.
Penggunaan dexamethasone dalam jangka panjang juga tidak boleh dihentikan secara mendadak. Penghentian tiba-tiba dapat memicu gangguan hormonal serius karena tubuh memerlukan waktu untuk menyesuaikan kembali produksi hormon alaminya.
“Penurunan dosis biasanya dilakukan secara bertahap dan itu menjadi pertimbangan klinis dokter,” jelas dr. Andi, menekankan bahwa keputusan medis tidak dapat digantikan oleh asumsi pribadi atau saran nonprofesional.
Fenomena konsumsi obat steroid tanpa pengawasan menunjukkan celah pengawasan distribusi obat keras, sekaligus lemahnya edukasi publik tentang perbedaan antara obat bebas dan obat yang hanya boleh digunakan berdasarkan resep.
Ketika risiko kesehatan dibiarkan beredar bebas tanpa kontrol, maka yang dikorbankan bukan hanya tubuh individu, tetapi keselamatan publik yang seharusnya dijaga melalui sistem kesehatan yang tegas dan berpihak pada rakyat.
Karena itu, masyarakat perlu waspada jika dexamethasone dikonsumsi lebih dari beberapa hari tanpa evaluasi medis lanjutan. Penggunaan obat steroid harus selalu berdasarkan resep dan pengawasan dokter, khususnya bagi penderita diabetes, hipertensi, atau gangguan hormonal, agar manfaat pengobatan tidak berubah menjadi ancaman kesehatan yang justru membebani rakyat sendiri.



















