Aspirasimediarakyat.com – Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang melarang menteri dan wakil menteri merangkap jabatan bikin rakyat terbelalak. Selama ini pejabat negeri ini hidup enak, duduk di dua kursi sekaligus: satu kursi empuk di pemerintahan, satu lagi di federasi olahraga. Ibarat serigala rakus, mereka tidak pernah kenyang, selalu mencari mangsa baru.
Putusan MK pada 28 Agustus 2025 lewat perkara Nomor 128/PUU-XXIII/2025 dengan tegas menyatakan larangan rangkap jabatan. Pasal 23 UU Kementerian Negara tidak lagi punya kekuatan hukum bila tak dimaknai menteri dan wakil menteri dilarang rangkap. Bahasa singkatnya: pejabat jangan lagi jadi lintah yang menempel di dua badan.
Menpora RI Dito Ariotedjo buru-buru buka suara. Ia bilang bakal mempelajari dulu isi putusan MK. Jawaban lembek itu terdengar seperti dalih, seolah masih ada ruang tawar-menawar buat para garong berdasi agar bisa terus berpesta.
“Kami akan mempelajari lebih lanjut putusan MK ini,” kata Dito, Jumat (5/9). Tapi rakyat bertanya: apanya lagi yang mau dipelajari? Putusan MK jelas hitam di atas putih, bukan abu-abu.
Fenomena rangkap jabatan ini ibarat penyakit busuk yang dibiarkan berakar. Menteri yang mestinya fokus kerja untuk rakyat, malah ikut rebutan kursi federasi olahraga. Persis maling kelas kakap yang pura-pura jadi penjaga, padahal sedang mengintip isi lumbung buat dicaplok.
Erick Thohir contohnya, Menteri BUMN tapi juga Ketua Umum PSSI. Taufik Hidayat, Wamenpora, juga pegang jabatan di PP PBSI. Mereka adalah wajah-wajah pejabat dua kaki: satu kaki di pemerintahan, satu kaki di olahraga. Rakyat hanya bisa menggeleng, melihat serigala-serigala ini nyaman bermain di dua lapangan.
Dalih mereka klasik: rangkap jabatan demi bantu olahraga. Padahal semua orang tahu, kursi federasi lebih sering jadi panggung pencitraan, jalan mulus ke sponsor, dan sarana melanggengkan kuasa. Atlet tetap hidup prihatin, tidur di asrama sempit, makan seadanya, sementara pejabatnya naik jet pribadi dan duduk manis di tribun VIP.
Menpora coba menutupi bau anyir ini dengan ucapan manis: bantuan APBN katanya hanya buat atlet, bukan buat organisasi. Tapi rakyat sudah paham, itu sekadar bedak tipis di wajah bangkai busuk berdasi. Bau busuknya tetap menusuk.
Putusan MK seharusnya jadi cambuk, tapi publik ragu. Apakah para pejabat tega melepaskan kursi dobel yang selama ini jadi sumber gengsi dan uang? Atau mereka akan cari celah, pura-pura patuh tapi tetap mencaplok dari pintu belakang?
Masalahnya bukan sekadar aturan. Rangkap jabatan bikin olahraga jalan di tempat. Atlet kerja keras di lapangan, keringat bercucuran, prestasi dipetik, tapi yang dipuji pejabat berdasi. Mereka ibarat burung bangkai, hinggap hanya untuk menyantap hasil kerja orang lain.
Rakyat semakin muak. Apakah jabatan menteri kurang kenyang? Mengapa masih serakah mengincar federasi olahraga? Jika sudah bergaji miliaran dengan fasilitas mewah, masih saja ingin caplok panggung lain. Sungguh serigala rakus yang tak pernah puas.
Celios sebelumnya juga menguliti kegagalan Sri Mulyani mengelola APBN. Tuntutan agar Sri dicopot menambah daftar panjang bobroknya elite negeri. Dari APBN yang jebol sampai pejabat yang rangkap jabatan, benang merahnya jelas: negara ini seperti kandang yang digerogoti setan keparat berkedok pejabat.
Putusan MK ini tak boleh berhenti di atas kertas. Presiden harus berani bertindak. Jika tidak, maka rakyat akan melihat jelas siapa pemimpin sejati dan siapa maling berdasi yang sedang bersandiwara.
Rangkap jabatan ini bukan hanya soal hukum, tapi soal moral. Bagaimana rakyat bisa percaya, kalau pejabat sendiri mencomot hak rakyat untuk fokus bekerja? Bagaimana olahraga bisa maju, kalau federasi jadi ajang rebutan kursi oleh pejabat rakus?
Kini bola ada di tangan pemerintah. Beranikah mereka menertibkan para pejabat yang masih bercokol di dua kursi, atau tetap menutup mata demi menjaga kenyamanan kelompoknya?
Rakyat sudah muak dijadikan tontonan komedi hitam. Di saat rakyat berjuang cari makan, bayar sekolah, dan menahan harga naik, pejabat malah berpesta di kursi rangkap jabatan. Inilah wajah asli garong berdasi yang menyaru jadi pelayan negara



















