Wisata  

“Surung Danum: Wisata Rakyat yang Dijaga Alam dan Warganya”

Air Surung Danum di Palangka Raya kembali dipadati wisatawan berkat air jernih, fasilitas murah, dan suasana yang aman untuk keluarga. UMKM lokal ikut hidup, sementara pemerintah diminta menjaga kawasan ini dari komersialisasi berlebihan agar tetap menjadi ruang publik yang terjangkau dan lestari.

Aspirasimediarakyat.comKeheningan hutan Bukit Tangkiling menyisakan gema yang mengajak siapa pun merenungkan betapa ruang-ruang alami sering menjadi pelarian terakhir manusia dari hiruk-pikuk hidup yang kian menekan; tetapi keindahan itu juga kerap menjadi arena pertarungan kepentingan—antara kebutuhan publik untuk bernapas dan godaan komersialisasi yang rakus—membangun paradoks yang menjelma seperti teka-teki etis yang terus menagih jawaban tanpa ampun.

Kawasan wisata Air Surung Danum di Kecamatan Bukit Batu, Kota Palangka Raya, kembali menjadi magnet bagi warga yang ingin melepas penat. Udara sejuk dan jernihnya sungai seolah menawarkan jeda di tengah ritme pekerjaan yang menguras energi. Pemandangan yang asri membuat destinasi ini hampir tak pernah sepi, terutama saat akhir pekan.

Secara administratif, Surung Danum berada dalam kawasan yang pengelolaannya diikat oleh ketentuan daerah mengenai pariwisata, pemanfaatan ruang, dan perlindungan lingkungan. Pemerintah Kota Palangka Raya sebelumnya telah menegaskan bahwa aktivitas wisata alam harus memperhatikan daya dukung lingkungan agar keberlanjutan wilayah tetap terjamin.

Fasilitas wisata di lokasi ini menjadi daya tarik utama bagi keluarga maupun wisatawan muda. Pondok-pondok sederhana di tepian sungai bisa digunakan sepuasnya dengan tarif terjangkau Rp30.000. Biaya yang ramah pengunjung inilah yang membuat destinasi ini kompetitif dibandingkan objek wisata serupa di kawasan lain.

Selain itu, pengunjung dapat menyewa ban renang—Rp10.000 untuk ukuran sedang dan Rp20.000 untuk ukuran besar—yang menjadi fasilitas favorit terutama bagi anak-anak dan wisatawan yang ingin bermain air dengan aman.

Baca Juga :  Sektor Pariwisata RI Tertinggal dari Negara Tetangga, Erick Bentuk Tim Khusus

Baca Juga :  "Empat Wisata Alam Solo Raya, Ruang Jeda Hijau di Tengah Kota"

Baca Juga :  "Kinerja ITDC 2025 Menguat, Pariwisata Nasional Naik Kelas"

Para pelaku UMKM lokal mendapat ruang besar di sini. Beragam kuliner seperti bakso, mie ayam, serta aneka minuman es disediakan untuk memenuhi kebutuhan wisatawan. Aktivitas ekonomi mikro ini menjadi denyut penting yang saling menghidupi antara wisata dan warga lokal.

Surung Danum juga menyediakan perahu yang dapat digunakan secara gratis. Pengunjung hanya diminta mengembalikan atau mengikat kembali perahu di tempat semula. Sederhana, tetapi cukup untuk menjaga keteraturan fasilitas bersama.

Kehadiran wahana bebek kayuh turut menambah keramaian. Meskipun digerakkan dengan tangan, antusiasme pengunjung—terutama anak-anak—menjadikannya salah satu titik favorit yang kerap menimbulkan tawa dan riuh kegembiraan.

Dalam suasana itu, seorang pengunjung bernama Manggala terlihat menikmati akhir pekannya bersama keluarga. Ia mengaku Surung Danum telah menjadi tempat rekreasi langganannya karena suasananya yang damai dan aman.

“Airnya jernih dan sejuk. Tinggi air juga pas, cuma sampai perut orang dewasa. Anak-anak senang, orang tua pun bisa ikut main,” ujarnya saat ditemui Sabtu (29/11/2025).

Manggala menambahkan bahwa destinasi ini sangat cocok untuk keluarga yang ingin suasana rileks namun tetap memiliki aktivitas bermain air. “Murah, aman, dan ramah untuk semua umur. Kami merasa nyaman,” katanya.

Di tengah keriangan tersebut, sejumlah wisatawan asing pun terlihat menikmati aliran sungai yang bersih. Mereka tampak memotret pemandangan dan menghabiskan waktu dengan berenang atau duduk santai di pondok-pondok kayu.

“Namun, di balik keriuhan yang menggembirakan itu, terselip kenyataan pahit yang tak boleh diabaikan: betapa mudahnya sebuah destinasi murah meriah seperti Surung Danum terancam oleh kerakusan pembangunan jika tata kelola tidak dijaga. Dalam banyak kasus di daerah lain, alam yang seharusnya menjadi milik publik berubah menjadi ladang eksploitasi, digempur investor beringas yang rela merobek kesenangan rakyat demi laba. Surung Danum pun bisa bernasib sama bila pengawasan dan aturan tak ditegakkan dengan keras.”

Pejabat Dinas Pariwisata Kota Palangka Raya, Dian Permadi, menegaskan bahwa pemerintah daerah tetap memprioritaskan keberlanjutan ekosistem. Menurutnya, setiap aktivitas wisata wajib mematuhi aturan perlindungan lingkungan sesuai Perda pengelolaan pariwisata alam.

“Kami menjaga agar kawasan ini tidak dikomersialisasi berlebihan. Fokus kami adalah wisata rakyat yang aman dan terjangkau,” ujarnya.

Dari sisi lingkungan, akademisi Universitas Palangka Raya, Dr. Nurwanti, menekankan pentingnya pemetaan daya dukung kawasan sungai. Ia mengingatkan bahwa kelebihan kapasitas wisatawan bisa mengakibatkan sedimentasi dan gangguan ekosistem air. “Harus ada batasan yang jelas. Wisata alam hanya akan bertahan jika kita menjaga keseimbangan ekologisnya,” katanya.

Sementara itu, pelaku UMKM berharap pemerintah terus memberikan pendampingan usaha. Aktivitas wisata yang stabil berpengaruh besar terhadap penghasilan mereka, terutama pada masa pemulihan ekonomi.

“Kalau wisata ramai, kami bisa bawa pulang lebih untuk keluarga,” ujar Rahma, pedagang kuliner di lokasi.

Baca Juga :  "Kebumen 2025: Wisata Keluarga Tumbuh, Tantangan Tata Kelola Mengintai"

Baca Juga :  "Karanganyar: Kedaulatan Sejarah Tergadai Di Kaki Lawu"

Kawasan ini juga disebut sebagai salah satu destinasi edukasi bagi wisatawan yang ingin mengenal vegetasi khas Bukit Tangkiling. Aktivitas interpretasi lingkungan biasanya dilakukan oleh komunitas pecinta alam setempat.

Meski terlihat sederhana, Surung Danum menyimpan potensi besar untuk menjadi ikon wisata air rakyat yang berkelanjutan. Dengan tata kelola yang tepat, kawasan ini bisa menjadi model wisata murah yang tetap menjaga nilai ekologis dan menghadirkan manfaat ekonomi.

Namun masyarakat juga berharap pemerintah tidak membiarkan destinasi ini menjadi “mangsa empuk” bagi pihak yang ingin mengubahnya menjadi komoditas rakus. Dalam banyak tragedi wisata nasional, rakyat akhirnya hanya menjadi penonton ketika tanah mereka digusur, air mereka diprivatisasi, dan alam mereka dipasung demi ambisi modal.

Air Surung Danum bukan sekadar tempat bermain air; ia adalah ruang publik yang hidup, yang bernapas bersama masyarakat sekitar, yang bergantung pada kebijakan yang adil dan keberanian pemerintah menjaga dari serangan kepentingan sempit. Masa depan objek wisata ini akan sangat ditentukan oleh komitmen menjaga keseimbangan antara pemanfaatan dan perlindungan—karena di sanalah letak kepentingan rakyat yang sesungguhnya.


Banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *