aspirasimediarakyat.com – Harga minyak dunia mengalami kenaikan setelah Israel dan kelompok bersenjata Lebanon, Hizbullah, saling tuduh mengenai pelanggaran kesepakatan gencatan senjata mereka. Selain itu, harga minyak juga dipengaruhi oleh penundaan pertemuan OPEC+ terkait perpanjangan pemangkasan produksi.
Menurut Reuters pada Jumat (29/11/2024), harga minyak jenis Brent naik 0,5% atau 34 sen menjadi US$73,17 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 0,2% atau 16 sen, menjadi US$68,88 per barel. Perdagangan terpantau sepi karena libur Thanksgiving di AS.
Pelanggaran Gencatan Senjata di Timur Tengah
Militer Israel melaporkan bahwa gencatan senjata yang telah berlaku mulai Rabu (27/11) dilanggar setelah beberapa tersangka tiba di beberapa daerah di zona selatan menggunakan kendaraan. Kesepakatan ini awalnya dimaksudkan untuk memungkinkan warga dari kedua negara kembali ke rumah mereka di daerah perbatasan yang hancur akibat pertempuran selama 14 bulan.
Timur Tengah adalah salah satu wilayah penghasil minyak utama dunia. Meski konflik ini sejauh ini belum memengaruhi pasokan minyak, situasi tersebut menciptakan premi risiko bagi para pedagang. Ketegangan di kawasan ini terus menjadi faktor penting yang mempengaruhi fluktuasi harga minyak di pasar global.
Penundaan Pertemuan OPEC+
OPEC+, yang terdiri dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya termasuk Rusia, memutuskan untuk menunda pertemuan kebijakan mereka hingga 5 Desember, dari sebelumnya yang dijadwalkan pada 1 Desember. Langkah ini diambil untuk menghindari bentrokan dengan acara lain.
Ada spekulasi mengenai penundaan lanjutan untuk peningkatan produksi minyak OPEC+ yang dijadwalkan pada bulan Januari. Rory Johnston, analis di Commodity Context, mengatakan, “Sangat tidak mungkin mereka akan mengumumkan peningkatan produksi pada pertemuan ini.” OPEC+ menghasilkan sekitar setengah dari total minyak dunia dan telah mempertahankan pemotongan produksi untuk mendukung harga. Meskipun mereka ingin mengakhiri pemotongan ini, permintaan global yang lemah telah memaksa mereka untuk menunda peningkatan produksi secara bertahap.
Reaksi Pasar Terhadap Penundaan OPEC+
Penundaan lebih lanjut ini sebagian besar sudah diperhitungkan dalam harga minyak, kata Suvro Sarkar dari DBS Bank. “Satu-satunya pertanyaan adalah apakah itu penundaan satu bulan, atau tiga bulan, atau bahkan lebih lama,” tambahnya. Pertimbangan terhadap permintaan global dan strategi OPEC+ dalam menjaga keseimbangan pasokan dan harga akan terus menjadi perhatian utama para pelaku pasar.
Stok Bensin AS dan Pengaruhnya
Sementara itu, Badan Informasi Energi AS melaporkan bahwa stok bensin AS naik 3,3 juta barel dalam minggu yang berakhir pada 22 November. Ini berlawanan dengan ekspektasi penarikan kecil dalam stok bahan bakar menjelang perjalanan liburan. Kenaikan ini menunjukkan adanya permintaan yang masih lemah, yang telah membebani harga minyak tahun ini.
Faktor Permintaan dari China dan AS
Pertumbuhan permintaan bahan bakar yang melambat di dua konsumen utama dunia, yaitu China dan AS, juga telah membebani harga minyak sepanjang tahun ini. Perlambatan ekonomi global dan perubahan pola konsumsi energi akibat transisi menuju energi terbarukan turut menjadi faktor yang mempengaruhi pasar minyak global.
Ketegangan di Timur Tengah dan keputusan OPEC+ untuk menunda pertemuan kebijakan mereka telah berkontribusi pada kenaikan harga minyak dunia. Meski pasokan minyak belum terpengaruh langsung oleh konflik, situasi ini menambah premi risiko bagi para pedagang. Penundaan pertemuan OPEC+ dan spekulasi tentang peningkatan produksi lebih lanjut menjadi perhatian utama pasar. Sementara itu, kenaikan stok bensin AS dan permintaan yang lemah dari konsumen utama seperti China dan AS terus membebani harga minyak di pasar global. Dengan berbagai faktor ini, dinamika harga minyak diprediksi akan tetap fluktuatif dalam waktu dekat.



















